
Siwon bersenandung ceria pada setiap kepakan sayapnya, menuntun Ava dan dua pengikutnya menuju tempat tujuan gadis itu mengunjungi pulau yang sepi ini. Namun sebelum ia melangkah lebih jauh, tangan Ava digenggam erat dari belakang.
"Jadi ... kau benar-benar tidak ada hubungannya dengan anak itu?" Ellijah mempunyai banyak keluhan, tapi bibirnya kelu, kalimat yang baru saja ia ucapkan saja terancam tidak bisa disampaikan. Tanpa sadar, pria itu mengeluarkan tenaga yang lebih besar dari seharusnya, nyaris meremukkan telapak Ava karena kekuatan yang tidak terkontrol karena emosi.
"Aw! Lepas!" Ava memandang tajam tangannya yang memerah, kemudian memelototi Ellijah yang juga tidak mau mengalah. "Seorang pengawal tidak seharusnya menyakiti orang yang harusnya ia lindungi."
"Jawab saja."
"Sudah kubilang kan, ini pertama kalinya aku melihat anak itu. Ibu Siwon sepertinya memiliki wajah yang sama denganku, jadi dia salah mengira."
Salah mengira? "Kau juga membuat alasan seperti itu saat aku menjemputmu di Oranera."
"Pfft, menjemput? Kau menculikku, jangan delusional."
"Dan kau berbohong waktu itu." Ellijah tidak berniat melepas topik ini dalam waktu dekat.
__ADS_1
Ava terganggu dengan nada menuduh tunangan (palsu)-nya itu, karena pada dasarnya dia berkata jujur. Ava bukanlah Eve yang Ellijah cari, dia hanya mengisi peran tersebut untuk sementara waktu. "Kau bisa mengecek dengan cincin artifak pengetes kejujuran, benda itu masih ada di inventorimu, bukan?"
Rahang Ellijah mengetat, berusaha keras menahan umpatan, keluhan, serta sanggahan yang ingin ia ucapkan. Percuma saja, tidak berguna. Tipuan Eve pernah lolos dari deteksi item itu, entah karena sebuah skill, ramuan, atau artifak, dia masih belum tahu. Dengan atribut penangkal petir? Resistensi? Apa malah anti-sihir?
"Lagipula, bagaimana bisa aku mempunyai anak dengan ras naga? Kau lihat sendiri tadi saat dia berpolymorph," Ava sekali lagi melempar argumen oposisinya, tidak mengetahui kalau pikiran Ellijah masih kacau balau.
... Apakah dia harus bertarung dengan seekor naga dewasa nanti?
"Apa yang kalhian lakukan?" Siwon masih mengambang setinggi bahu, sepenuhnya memecah arus perdebatan yang sedang panas-panasnya.
"Ayo, cepat! Sebhelum malam, akan adha banyak makhluk jahhat nanthi!"
"Haa, bisa tunjukan jalan ke rumahmu, Siwon?"
"Ikuthi aku!"
__ADS_1
Namun Ava sadar, Ellijah telah menjadi variabel liar yang akan sulit dikendalikan jika tetap dibiarkan.
... Dia harus menjinakkan pria itu agar lebih menurut.
***
Hutan Crimsonwood memiliki kesan ngeri bahkan dari luar, apalagi ketika mereka sudah masuk jauh ke dalam. Seperti namanya, Crimsonwood terdiri atas pohon-pohon besar yang menjulang berwarna merah darah, jadi dimanapun mata memandang, apa yang dilihat lebih mirip seperti tempat kejadian perkara pembunuhan. Terlebih suasana yang sepi, terlalu sepi untuk ukuran hutan yang ditakuti karena populasi monsternya.
Meskipun rasa was-was Ava berada di tingkat teratas, ia berhasil merasionalkan situasinya agar perasaannya tidak berubah menjadi paranoid.
Mungkin seperti kata Siwon, monster di dunia termasuk dalam makhluk malam, alias nokturnal. Sehingga sore hari masih terlalu dini untuk aktifitas mereka.
Atau bisa saja karena alasan lain. Monster aslinya adalah hewan yang mengalami mutasi karena paparan mana dan sistem, jadi insting bertahan hidup mereka tidak terlalu jauh dari hewan biasa.
Yang lemah secara alami mendeteksi bahaya dari yang kuat.
__ADS_1
Dan dengan kehadiran naga kecil berlevel 100 dan pria yandere berlevel 200, mungkin mereka tidak berani mendekat.
Tunggu dulu, bukankah kalau begitu Ava yang paling terancam? Mengingat levelnya hanya 1.