
Memang benar Rina menolaknya.
Memang benar dia tidak tega melihat wanita itu menangis.
Tapi itu bukan berarti Hao tidak boleh marah.
Dia menegak lagi bir hambar yang sudah ia tegak semenjak satu jam yang lalu. Matanya tidak fokus, wajah putih pria itu juga memerah.
Hao mabuk.
"Kata kalian, wanita menyukai pria yang kuat!" teriakannya tidak lagi mengagetkan dua orang lain dalam ruangan tersebut.
Gu Yong, kakak besar dari Hao, memandang kasihan adiknya yang patah hati. Berbeda dengan Rai, wakil kepala guild Canthan, sekaligus sahabat karib dari Yong. "Memangnya apa yang kau katakan padanya?" setengah hati Rai bertanya.
Meskipun matanya berair dan kabur, Hao menyempatkan untuk melirik sinis pria yang duduk di samping kirinya itu. "Seperti yang kau katakan, Takahashi-san, jadi aku bilang kalau aku akan terjamin menjadi ranker dalam dua tahun!" Hubungan Hao dan Rai sebenarnya tidak begitu dekat, karena itulah Hao memanggilnya formal dengan nama keluarga. Mereka berdua terlalu kompetitif untuk menjalin pertemanan, pelekat keduanya hanyalah Yong.
"Cara penyampaianmu yang lebih penting, kalau tidak perempuan akan menganggapnya sombong," kakak besar hati-hati mengkoreksi, siap memberikan saran, meskipun percintaan bukanlah bidang yang ia kuasai. Hal seperti ini lebih cocok dengan Rai, yang terkenal sebagai laki-laki pemain dan terus bergonta-ganti pacar setiap dua minggu sekali.
"Eh, wanita suka pria yang percaya diri! Dia mungkin masih jual mahal! Jadi kejar terus saja!"
... Dipikir-pikir lagi, mengambil nasihat dari Rai sepetinya ide buruk.
Atau dia memang sengaja berniat mengacaukan kesempatan Hao?
"Pada bagian mana saat aku bilang "dia menangis" yang tidak kau mengerti?!" Mungkin pengaruh alkohol, temperamen Hao yang tidak baik malah semakin buruk.
"Tenang saja, itu salah satu cara mereka untuk terlihat lemah, sehingga pria akan berinsting untuk melindungi mereka," Rai tidak berhenti-henti mencekokinya dengan saran-saran yang patut dipertanyakan.
Yong bahkan menyipit curiga pada temannya tersebut, "Apa yang kau bicarakan? Jangan, lebih baik berikan dia jarak untuk sementara waktu. Jika kau terus saja mengikutinya bahkan setelah dia menolakmu, kau hanya akan dianggap sebagai penguntit."
"Kenapa begitu? Lebih baik kejar sampai dapat!" Rai nyaris bersorak, senyumnya yang telah meluluhkan puluhan hati gadis terpampang cerah.
"Tidak! Kau memang memproses hubungan kalian terlalu cepat, jadi kenalkan dirimu saja dulu perlahan, sebagai teman."
__ADS_1
"Tapi dengan begitu dia akan menganggapmu sebagai teman selamanya!"
"Argh! Diam!" Hao sudah tidak tahan. Gelas birnya remuk karena kekuatan yang berlebih. Belasan luka goresan terasa perih terkena alkohol. "Semua nasihat kalian sampah! Karena kalian aku ditolak!" Hao mirip seperti api, meledak panas dan merah.
Dengan agresif dia bangkit, berhasil merubuhkan kursi yang baru saja ia duduki. Hao goyah, tubuhnya sempoyongan hanya untuk berdiri. Namun dia tetap keras kepala melesat keluar.
"Hao! Kau mau kemana?" Yong tidak mempercayai adiknya bisa mengurus diri sendiri ketika mabuk berat seperti itu.
"Jangan sampai tersandung!" Rai di sampingnya malah dengan lantang main-main.
Ketika Yong baru saja ingin menyusul, Rai mencekal tangannya, "Adikmu sudah dewasa, dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri."
"Tidak ketika mabuk seperti itu!"
"Kita seharusnya masih mengurusi pencarian orang yang hilang, bukan urusan asmara adikmu," Rai tiba-tiba menjadi serius.
Namun dia ada benarnya. Tujuan asli Guild Canthan ke sini adalah menjadi sumber bantuan dari kapal penumpang yang beberapa hari lalu diserang fenomena badai hitam, kali ini banyak yang selamat dan dapat dijadikan sebagai saksi mata.
"Hao berkali-kali bilang kalau dia sudah dewasa, jadi sudah waktunya dia belajar bertanggung jawab atas tindakannya sendiri, dan kau sebagai kakak tidak boleh lagi memanjakannya, untuk kebaikan adikmu sendiri," berbanding terbalik dengan kelakarnya tadi, Rai menampar Yong dengan fakta yang selama ini ia abaikan, atau lebih tepatnya pura-pura tidak dilihatnya.
"Tapi seharusnya tidak mengganggu pekerjaanmu sebagai ketua guild, bukan?" Jika dikatakan seperti itu, Yong tidak bisa membantah. Bebannya sendiri sudah banyak sebagai kepala dari guild besar.
"Baiklah, tapi harus ada yang tetap mengikutinya," Yong akhirnya berkompromi.
"Aku saja," sekejap suasana berubah santai bersama dengan cepatnya sikap Rai yang kini kembali main-main.
Yong mengerut keras, merasa tidak adil, "Lalu bagaimana dengan tugasmu sebagai wakil ketua?"
"Aku sudah selesai dari tadi."
Yong dipermainkan, pastinya.
Rai tidak dapat menahan seringai melihat ekspresi tidak percaya dari Yong, "Aku juga penasaran dengan wanita idaman adikmu itu!"
__ADS_1
Sedetik kemudian, sosok Rai sudah menghilang dari ruangan tersebut.
***
Kerumunan orang-orang otomatis membelah saat Hao lewat dengan tidak seimbang, meskipun posisi resminya dalam guild hanyalah sebatas pendatang baru, semuanya sudah tau kalau pemuda itu adalah adik kebanggan ketua mereka yang terkenal. Ditambah, tidak ada yang meragukan Hao dengan jaminannya untuk menjadi ranker dalam dua tahun ke depan, kemungkinan besar bisa terjadi. Jadi tidak ada yang mau mencari gara-gara dengan remaja laki-laki temperamental tersebut, apalagi sewaktu dia jelas-jelas mabuk. Sama saja dengan bencana yang menunggu untuk terjadi.
Hao masih tidak dapat berjalan lurus, tapi dia sangat butuh meluapkan isi dadanya yang tidak karuan. Kepalanya panas, dan seolah ia hampir meledak. Jadi ketika angin laut menerpanya di luar badan kapal, di bawah naungan cahaya ungu bulan, dia menyeret langkah ke hutan.
"Cinta bodoh," gumamnya setengah sadar.
"Rina bodoh," Hao cemberut.
"Kakak bodoh. Guild bodoh!" suaranya semakin keras dan tinggi. Ia mengeluarkan pedang dari sarungnya, kemudian mulai mengayun, memotong angin. Kemampuannya berpedang tetap memuncak meskipun darahnya dipenuhi alkohol.
"Rai bodoh!" pada akhirnya ia berteriak. Berputar energik, skill-nya secara otomatis aktif, memotong sebuah pohon dalam jalur pedangnya.
"Wow!" Ada orang lain di sini.
Hao berbalik mundur, siap menyerang siapa saja yang berani-beraninya mengganggunya saat ini.
Namun wajah yang ia temukan membuat amarahnya langsung meleleh.
Rina.
***
Semenjak sinkronisasi gagal yang prosesnya membuat Ava lebih memilih untuk dipotong saja tangannya, badan gadis itu bugar dan sehat, tulang remuk yang ia dapatkan dari pertarungannya dengan banderhobbs raksasa juga tidak lagi ia rasakan. Ava sehat. Namun tidak mungkin River percaya begitu saja, meskipun pria itu percaya, ia tidak akan berhenti mengomel jika Ava bilang ingin berburu untuk melepas bosan dan menggerakkan badan.
Karena itulah dia pergi diam-diam ke hutan tengah malam, mencari monster kecil yang liar berkeliaran untuk menambah tabungan poin statusnya.
Tapi bukannya monster, Ava malah menemukan Hao. Pria yang pagi tadi baru ia tolak.
... Canggung.
__ADS_1
Sayangnya, Hao maupun Ava yang memiliki indra sensitif, tidak merasakan kehadiran orang ketiga di hutan itu.
"Eve?" Rai berbisik tidak percaya di balik artifak bersembunyinya.