Hellbent

Hellbent
Bab 146: Penawarnya Tiba


__ADS_3

Dalam mati pun, orang masih bisa saja berisik.


Saat-saat seperti inilah Ava merindukan internet. Dia ingin sekali mencari tahu bagaimana caranya mengusir hantu. Karena pada dasarnya, dia adalah orang yang realistik dan tidak percaya adanya makhluk gaib. Namun boy, oh boy, dia salah besar.


Satu-satunya cara yang ia ingat adalah menabur garam. Ataukah hal itu ditujukan untuk menghindari ular? Ah, sudahlah.


Adam mengerutkan dahinya dengan bingung saat Ava menyiraminya dengan berbagai bumbu dapur yang gadis itu dapatkan dari awak kapal. "Kau sudah gila?"


Tapi percuma saja.


Apakah hantu di dunia fantasi perlakuannya berbeda? Dia harus segera mengunjungi dukun, paling tidak shaman.


"Ah, omong-omong Siwon tumbuh semakin besar ya? Terakhir kulihat dia baru saja menetas dari telurnya."


Ava menghirup angin laut yang berhembus segar.


"Terus, apakah pria itu kekasihmu atau semacamnya? Setiap laki-laki yang mendekatimu dipandanginya dengan tajam, seolah ia akan menguliti seseorang kalau dibiarkan saja."


Pikirkan sisi baiknya saja, Adam meskipun cerewet minta ampun, dia memiliki banyak informasi yang sepertinya berguna untuk mengetahui rencana apa yang disusun oleh Eve. Pria itu juga dengan mudah terpancing emosi.


"Ya ampun, pelayanmu pucat sekali. Mabuk laut, ya?"


"Adam."


"Hah, apa?"


"Kau tahu cara memakai artifak ini?" Ava mengelus gantungan dua kalung yang bersemayam di lehernya. Satu kalung dengan rantai tipis dan zamrud hijau berbingkaikan timah dekoratif berbentuk dahan pohon, kalung pengikat jiwa Adam. Dan satu lagi, daripada disebut kalung, benda itu lebih mirip choker. Dengan emas putih tebal yang melingkar nyaman di atas tulang selangkanya, dihiasi bandul berisikan pasir berwarna -warni yang bergemericik setiap kali bergoyang, Necklace of Genesis. Penampilan item yang selama ini ia cari lebih biasa dari perkiraannya.


"Eh, tidak tahu."


"Tapi kau yang menemukannya terlebih dahulu."


"Ya, sebelum si nenek lampir merebutnya dariku. Aku tidak pernah menggunakannya!"


Cih, tidak berguna.


"Hei, omong-omong kita belum berkenalan loh."


Sudah tiga hari berlalu semenjak Ava menemukan Adam. Ia dan rombongannya telah menaiki kapal untuk kembali ke Oranera. Dan selama itu, Ava lupa kalau ia seharusnya bertingkah kalau dirinya belum mengetahui nama si hantu. Untungnya, dari kemarin-kemarin Ava merujuk Adam sebagai "kau" atau "hantu berisik".


"Baiklah, aku mulai duluan kalau begitu. Perkenalkan, namaku Adam Hanover."


Berhubung Adam sudah tahu kalau dia berasal dari dimensi lain, apakah ia perlu mengenalkan nama aslinya?


... Jangan dulu.


"Rina Hoffman."


"Tapi kau tidak berbau seperti Rina Hoffman."


Hah? Apa yang ia maksud?


Dipikir-pikir lagi, "Sejak pertama kali kita bertemu, kau terus menyinggung tentang bau jiwa."


"Benar sekali! Salah satu skill-ku! Mengenali jiwa, eh lebih tepat eksistensi sih, tapi kusebut saja jiwa karena lebih mudah."


Tapi bukankah skill Adam terkunci? Berdasarkan yang ia lihat dari skill observasinya. Namun tidak mungkin Ava bertanya langsung, jadi ia mengubah sedikit kalimat pertanyaannya, "Memangnya hantu masih bisa menggunakan skill?"


"Setahuku ya, roh atau jiwa, itu disebut sebagai raga halus, dan tubuh yang dimiliki makhluk hidup itu dinamakan raga kasar. Raga halus yang sudah terlepas dari raga kasarnya masih menyimpan jejak-jejak eksistensi, nah eksistensi inilah yang dilekati oleh [System]. Meskipun poin status serta skill yang terikat oleh sistem, percuma saja dimiliki apabila tidak ada raga kasar yang dapat menjadi media aplikasinya. Dengan kata lain, hanya skill-skill tertentu yang bisa digunakan secara pasif oleh hantu sepertiku."


... Penjelasan yang panjang.


Namun pengetahuan Ava semakin banyak.


"Kalau begitu, kenapa tidak ada [System] di dimensi tempatku berasal?"


"Hm, mungkin karena Developer dan Game master di dimensimu belum membuka jalurnya? Ah, entahlah, keberadaan dimensi lain saja masih asing bagiku."


Ava teringat dengan buku yang ia baca.


[System] yang sudah muncul sejak masa pembuatan bumi membantu umat manusia untuk berkembang dan meningkatkan taraf hidupnya melalui manfaat yang dibawa bersamanya. Konten dari [System] sendiri diatur oleh [Game master] sesuai dengan persyaratan dan persetujuan serta di bawah pengawasan [The developer].

__ADS_1


Developer dan Game master, dengan kata lain dewa atau Tuhan. Istilah-istilah game dari dunia asalnya dijadikan sebagai referensi teologi di dunia fantasi ini.


Hah, Ava semakin pusing.


"Mama! Mama! Perchobaan mama belhum sheleshai?"


Gadis itu mendongak, mendapati seekor naga kecil yang terbang di atas kepalanya. Siwon bersikeras untuk ikut serta dalam perjalanan mereka. Meskipun memiliki level lebih dari 100, Siwon tetap saja seorang balita yang kehilangan penjaganya. Ava tidak tega meninggalkan anak kecil tersebut di pulau seram yang dipenuhi monster.


Lagipula skill Siwon yang dapat menggerakkan puluhan undead sekaligus dapat dia manfaatkan dalam pertarungan skala besar.


"Mama masih beristirahat." Mendengar Ava menyebut dirinya sendiri sebagai "mama" membuat bulu kuduknya berdiri, ia masih sangat canggung.


Benar, Ava sedang berusaha membuat penawar yang dibutuhkan River selama perjalanan kapal mereka. Adam lagi-lagi berisik saat ia melihat jurnal yang Ava keluarkan. Tapi bagaimana lagi, akan sulit menyembunyikan jurnal tersebut dari hantu yang mengikutinya 24 jam non-stop. Untung saja, pria itu dengan cepat mereda amarahnya, ditambah lagi ia memberikan arahan yang berguna dalam proses pembuatan.


Penawar wabah Uflaria ini termasuk ke dalam pengaplikasian ilmu alkemi tingkat lanjut. Berbeda dengan ramuan-ramuan dulu, meskipun sebelumnya Ava membutuhkan presisi bahan yang tepat, cara pengolahannya hanyalah direbus, diaduk, atau dikocok, kali ini ia membutuhkan kemampuan untuk memilah, menyuling, memisahkan, dan lain-lain. Sepuluh kali percobaan gagal.


Ia hanya berharap, River masih bertahan ketika ia sampai.


***


Ava berhasil membuat tiga botol penawar. Dia sebenarnya membutuhkan eksperimen untuk menguji keberhasilan penawar yang ia buat, tapi mereka dikejar waktu.


Pada saat kapal mereka berlabuh, Ava langsung bergegas menuju stadium tempat River dan korban-korban lainnya dikarantina.


Namun apa yang ia lihat malah barisan prajurit yang menghalangi pintu masuk. "Ada apa ini?" Suara Ava dibebani oleh otoritas terlatih seorang putri kerajaan. Tapi mereka masih kukuh menjadi dinding penghalang.


"Kumohon, biarkan kami masuk!"


"Tolong, suami saya saya ada di dalam!"


Para penduduk lain juga berusaha untuk menerobos, sama seperti Ava.


"Ri-- Maksudku, Tuan Putri!" Suara bariton rendah memanggil jabatan samarannya dengan lantang.


Semua orang seketika terdiam kaku. Tidak menyangka akan ada sesosok berpangkat tinggi di antara mereka.


Dari balik kerumunan, Ava dapat melihat Dom yang berbadan jangkung melambai-lambaikan tangannya. Tidak hanya itu, beastman cheetah tersebut ditemani dengan sosok yang tidak asing.


"Selamat siang juga, Pangeran Ezra. Jaya selalu untuk Kerajaan Egoceolon."


Dari ekspresi-ekspresi tegang di sekitarnya, Ava langsung tahu kalau nama pangeran ketiga kerajaan Egoceolon itu sudah diketahui oleh banyak orang. Al dan Roy juga masih setia membuntuti pria tersebut.


"Salam dari Dukedom Frost, Pangeran Ezra," Ellijah juga ikut-ikutan. Niatnya lebih kepada menarik gadis itu agar tidak lebih dekat lagi dengan Ezra.


"Salam dari Kerajaan Egoceolon, Duke Frost "


Basa-basi, bla bla bla.


"Bisa beritahu saya apa yang terjadi selama saya pergi untuk mencari penawar?"


Banyak yang terkesiap. "Penawar!"


"Apa memang ada benar penawarnya?"


"Kalau begitu--"


"Ehem," Ezra dengan sengaja berdehem keras, ia lalu menjawab pertanyaan gadis di hadapannya, "Pemimpin Oranera yang baru saja dipilih secara demokratis ternyata bukanlah orang sabar."


Ah, saat ia baru sampai dua bulan lalu, grasak-grusuk pemilihan umum berada pada puncaknya. Jadi mereka sudah menobatkan pemimpin baru. "Bisa elaborasikan lebih jauh lagi?"


Kedua alis Ezra menukik, nampak sekali memamerkan kemarahannya, "Beliau ingin menyelesaikan wabah ini persis seperti negara Uflaria menanganinya, eksekusi." Ada yang terisak-isak.


"Maaf?"


"Karena masih belum ada harapan selamat hingga saat ini, cara yang mereka nilai paling efektif adalah mematikan sumber penyebaran, artinya orang-orang yang terjangkit dihukum mati."


Hawa yang dikeluarkan Ava seketika berubah dingin. Orang-orang tanpa sadar melangkah mundur, langsung mengenali aura berbahaya dari gadis itu. "Saya harap perintah omong kosong seperti itu belum dilaksanakan di Oranera."


Bahkan Ezra yang sudah terbiasa berhadapan dengan orang berstatus tinggi yang arogan, masih tetap tertegun. "Untung saja kami berhasil memperlambat tanggal eksekusi hingga minggu depan."


Bagus.

__ADS_1


"Terima kasih atas kerja samanya, Pangeran Ezra."


"Senang bisa membantu, Putri Eve."


Ava berbalik. Kali ini tidak ada prajurit yang berani menghalangi jalannya begitu mereka tahu status yang gadis itu pinggul. Seorang putri, keluarga kerajaan, Edodale pula.


Meskipun atasan mereka adalah pemimpin Oranera, tetap saja walikota tidak bisa disandingkan dengan putri kerajaan Edodale, apalagi putri yang dikenal sebagai si genius alkemi. Kalau memang benar sang putri berhasil membawa penawar, bukankah hal tersebut menguntungkan bagi semua orang?


Dengan langkah lebar, Ava segera mengambil rute ke jerusi besi yang mengurung River.


Satu kata, mengenaskan.


Kulit pria itu lebih putih dari sebelumnya, seputih kertas, seolah tidak ada darah yang mengalir dalam tubuhnya. Kulit kering River juga mengelupas, bahkan jatuh layaknya serpihan salju di dalam kandang. Rambut tipis, nyaris botak.


Sekarang, bagaimana bisa ia membuat River meminum penawar yang ia bawa?


Ia tidak bisa lagi melakukan eksperimen percobaan, keburu eksekusi direalisasikan oleh pemimpin baru dari Oranera.


Untungnya, dia memiliki Siwon.


"Siwon."


"Ya, Mama?"


"Panggil dua undead yang dapat menahan pergerakan pria itu."


"Shiap!"


"[Summon: Agras dan Koir]


Dua lingkaran rune bercahayakan ungu kehitaman tercipta, berputar-putar memunculkan dua sosok tengkorak manusia kadal, persis seperti monster yang pertama kali menyerang Ava sebelum River menyelamatkannya. Hah, deja vu.


"Buka."


Seorang penjaga yang mengikutinya, dengan takut-takut memilih kunci dari kandang tersebut.


Klik!


Dua undead Siwon bergerak sesuai dengan keinginan naga kecil tersebut. Mengekang kedua lengan River yang secara instan melompat agresif begitu pintu penjara terbuka.


Undead tidak akan mempan dengan racun, begitu juga wabah yang tertular karena gigitan.


Akhirnya, Ava masuk.


Botol biru yang ia bawa terbuka dengan suara "pop".


"Grrrr!" Salah satu tengkorak kadal memegang erat rahang River, membuat pria itu menganga dengan paksa.


"Kuharap ini berhasil."


Ava menuangkan isi penawar yang ia buat ke dalam mulut yang terbuka.


Satu dua tetes mengalir dari sudut bibir River.


Hingga akhirnya pria berwujud manusia setengah zombie tersebut tenang, atau lebih tepatnya otot-ototnya melemas.


Beberapa detik kemudian, River tertidur.


Tiga menit berlalu.


Ava gelisah di tempatnya berdiri.


Lima menit.


"Oh, bagaimana hashilnya?"


Sepuluh menit.


Akhirnya, warna kembali menempel pada wajah pria tersebut. Dia tidak lagi pucat pasi.


Ini bisa disebut kemajuan bukan?

__ADS_1


__ADS_2