Hellbent

Hellbent
Bab 81: Oh, Kau Percaya?


__ADS_3

"Saya bertindak seperti itu karena dari pengamatan saya keadaan Tuan Putri tidaklah normal."


"Tidak normal? Maksud Anda sakit? Lalu kalau memang benar, kenapa Anda ingin mengajukan tanggal pernikahan?"


Tunggu dulu! Pernikahan apanya?!


Ava dengan tergesa-gesa mendekat sampai Pangeran Marvin menyapanya terlebih dahulu, "Selamat siang, Putri Eve," laki-laki itu berdiri dengan tangan kanan yang tertempel di dada kiri. Seperti itukah cara keluarga kerajaan bersalaman? Ava mengikuti gesturnya, "Selamat siang, Pangeran Marvin, Duke Frost."


Di sisi lain, Ellijah tidak membalas salamnya, ia malah bangkit dan menempatkan kedua tangan besarnya di pundak gadis tersebut, "Kau seharusnya beristirahat lebih lama lagi."


Sekarang dia mengkhawatirkannya? Hah, lucu sekali. "Tidak perlu, berkat seseorang telah membius saya, tidur saya sangatlah nyenyak."


Nampak sekali Ellijah tidak menghargai sarkasme Ava, tapi gadis itu juga tidak terima dengan pembawaan paksa seperti ini. Terlebih lagi, menikah?! Sudah berkali-kali Ava mengaku kalau dirinya bukanlah putri kerajaan Edodale, tapi sepertinya argumen bahkan pembuktian lewat artifak tidak mampu menembus keyakinan kukuh Ellijah. Kemudian dia mau mempercepat pernikahan dengan orang yang terus menolak identitas sebagai tunangannya? Pria itu benar-benar ceroboh dan tidak masuk akal.


Jadi Ava akan mengubah targetnya.


"Jika perbincangan kalian selesai, saya ingin berbicara berdua saja dengan Pangeran Marvin."


Namun Ellijah buta terhadap kode yang Ava lemparkan, dia tidak segera beranjak, sampai Marvin yang kini bertindak, "Obrolan kami sampai di sini saja, Duke Frost, Anda bebas menikmati pemandangan kebun kerajaan dengan leluasa. Saya dan Putri Eve pamit terlebih dahulu,"


Keduanya pun pergi dari taman kaca tersebut, tidak menoleh ke belakang. Kalau saja mereka berbalik, Ava dan Marvin akan mendapati Ellijah yang telapaknya basah akan teh dan arah. Kepingan gelas berhamburan di meja serta pangkuan pria tersebut.


Dia kesal.


Eve masih tidak menghiraukannya.


***


Ava didudukkan di ruang tamu kerajaan, luas dan mewah, dan sekarang mereka sendirian.


Sedangkan Marvin ada di sisi lain meja, menikmati kopinya yang baru dan panas, berbeda dengan cangkir tak tersentuh yang pasti sudah dingin di taman tadi. Berhadapan dengan Duke Frost terkadang membuat Marvin tidak nyaman.


"Saya bukanlah Tuan Putri Eve Weinhamer."


Tanpa berbasa-basi lagi Ava melemparkan bom fakta kepada si pangeran.


Namun tidak sesuai dengan perkiraan, Marvin masih tenang meminum kopinya yang harum. Kemudian balasan pria itu lebih mengejutkan lagi, "Aku tahu." Dua kata dengan nada informal yang membuat Ava menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


... Prosesnya mudah kali ini.


Mungkin karena sudah menghadapai dua pria keras kepala yang susah sekali dibuat percaya, Ava menjadi setengah tertegun.


Namun karena saking mudahnya, Ava pun curiga.


Mempertanyakan Ava terlebih dahulu memang membuatnya repot, tapi itu reaksi yang normal, jadi dia maklum.


Tapi si pangeran langsung mengerti.


Dan satu kemungkinan membuat Ava menyipitkan mata, Marvin tahu keberadaan Eve yang asli.


"Asal kau tahu, berpura-pura menjadi seorang keluarga kerajaan bisa dijatuhi hukuman penggal."


"Namun saya sudah menjelaskan semuanya kepada Duke Frost, interogasi dengan artifak pula, tapi dialah yang tetap tidak percaya dan menculik saya ke sini."


Tak!


Cangkir kopi Marvin ditaruh di tatakan keramik, mata abu-abunya memandangi Ava dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Aku sudah tahu ketertarikan berlebih yang ditunjukkan oleh Duke Frost kepada kakakku, jadi aku bisa membayangkannya. Tapi ... wajah kalian benar-benar mirip, astaga."


Ava sudah tahu, Eve adalah dopplegangger-nya. Ia mulai lelah dengan kalimat itu.


"Kalau Pangeran sudah mengerti, dengan segala hormat, saya meminta untuk dikembalikan ke kota Oranera." Apapun yang Marvin ketahui, Ava lebih memedulikan progresnya untuk mendapatkan artifak yang dapat mengembalikan dia ke dimensi asalnya. Padahal Ava sudah sangat dekat dari Crimsonwood, tempat yang secara spesifik ditunjuk di jurnal Eve sebagai lokasi keberadaan salah satu item tersebut. Namun tentu saja orang lain harus mengacaukannya.


Cih.


"Oh, tidak bisa."


"... Apa?"


"Sudah kubilang tadi, hukuman untuk orang yang berpura-pura menjadi seorang royalti adalah pemenggalan kepala, aku sebagai pangeran kerajaan Edodale tentu tidak boleh melepaskan seorang kriminal."


"Apa?!" Tali kesabaran Ava yang sebenarnya tipis akhirnya putus.


"Tapi kau sendiri paham kalau kesalahpahaman ini sepenuhnya tanggung jawab Duke Frost!" Emosi meliputi mata hitam Ava yang membara api, garis-garis wajahnya mengeras terkuras dari sopan santun artifisial.


"Dari yang kulihat, kau sudah berani memakai gaun milik Kakakku," Marvin juga tidak mau kalah.

__ADS_1


Ava berkedip, kemudian memperhatikan apa yang ia kenakan. Dia bangun di kamar yang ia asumsikan sebagai kamar Eve, jadi wajar saja jika para pelayan memperlakukannya sebagai putri kerajaan yang asli, mereka pun tidak salah jika memilih baju milik si tuan putri tersebut.


Namun Ava juga tidak mau memikul tanggung jawab karena sebuah pakaian.


Sorot gadis itu berubah dingin. "Kalau begitu aku bisa telanjang sekarang." Ia langsung mengendurkan tali dan pita dari gaun yang ia kenakan.


Marvin sempat terpaku, kopinya nyaris tersedak. Namun akhirnya sadar dari ketegunannya saat perempuan di depannya telah melepaskan dia baris tali korset luar. Melupakan martabat sebagai pangeran, Marvin melompati meja yang memisahkan mereka dan menangkap tangan sibuk perempuan tersebut. "Apa yang kau lakukan?!"


"Bugil di depan publik masih lebih baik daripada eksekusi mati."


Namun Marvin tidak mau melihat tubuh wanita yang wajahnya identik dengan kakak kandungnya.


"Aku juga tidak ingin kau dihukum mati!" Membayangkan kepala Eve lepas dari badannya saja sudah membuat Marvin bergidik dan mual. "Aku tadinya akan mengajukan kontrak!" Benar, pangeran itu sebenarnya memiliki persetujuan yang akan menguntungkan dia maupun gadis di hadapannya, hanya saja ia tidak menyangka akan mendapat reaksi ekstrim dari ancaman kosong yang ia lontarkan.


Kontrak? Marvin sudah siap sekali, seolah kehadiran Ava memang sudah diperkirakan.


... Apakah Eve memberitahukan adiknya mengenai eksistensi Ava yang berasal dari dunia lain?


"Jadi kau sudah tahu siapa aku sebenarnya?"


Marvin mengamati hati-hati, sepertinya gadis itu sudah tidak berniat melanjutkan tindakannya. Ia berdehem, sejenak menenangkan dirinya yang sempat panik, "T-tidak terlalu, kakak hanya menyuruhku untuk memberikan kontrak yang ia siapkan ketika orang yang persis dengannya muncul."


Selembar kertas dengan tulisan bercahaya redup muncul di tangan Marvin, ia segera memberikannya kepada Ava.


Pihak A setuju untuk menggantikan pihak B dalam menjalankan tugas resminya sebagai putri kerajaan Edodale.


Pihak B akan menjamin Ring of Genesis sebagai imbalan jasa pihak A.


Dua klausa tersebut membuat dahinya berkerut. Jangka waktu kontraknya tidak disebutkan.


Ring of Genesis. Ia mengingat apa yang ia baca dari jurnal Eve.


Ring of Genesis dalam penjelasan yang kutemukan pada sebuah buku terlarang di perpustakaan bawah tanah di kastil ini dapat membebaskan seorang individu dari ikatan jarak yang dibatasi oleh [System]. Sehingga skill yang dimiliki bisa digunakan di mana saja, sejauh yang diinginkan. Item ini diperkirakan berada di wilayah kerajaan Edodale.


Karena penjelasan lokasi yang masih belum jelas itu, Ava lebih memilih untuk pergi ke Crimsonwood terlebih dahulu, lebih tepatnya lab rahasia Eve, tempat penyimpanan Necklace of Genesis.


Jadi selama ini, Eve sudah memiliki keduanya?

__ADS_1


Tapi, objektif Eve masih belum jelas.


Namun, tidak masuk akal jika Eve menculik Ava hanya untuk memintanya berpura-pura menjadi dirinya, bukan?


__ADS_2