
Berkebalikan dengan apa yang Ava cemaskan, kondisi River pulih dengan cepat. Sepuluh menit setelah pemberian antidot, berefek pada otot lemas dan mengantuk, hingga pada akhirnya tidur, wajah River juga mulai memiliki warna. Satu jam setelahnya, pria itu sadar.
Dia tidak berani menatap langsung mata Ava dari tadi.
"Apa kau tidak merasa aneh?"
"Aku-- Ah, saya baik-baik saja, Tuan Putri," River membungkuk hormat, kepalanya menunduk seperti seorang anak kecil yang takut dimarahi.
Melihat River yang seperti itu malah membuat Ava kesal.
"Hei, akan lebih sopan kalau kau menatap mata orang yang mengajakmu berbicara," nada tajam yang tanpa sadar terselip keluar membuat Ava kaget akan ucapannya sendiri, apalagi River yang telah gelisah dari tadi, pria tersebut secara praktis melonjak dari kasur saking nervousnya.
"Kau itu masih pasien, jangan banyak bergerak!"
"Iy-- B-baik, Tuan Putri."
Gadis itu berdecak.
Tidak bisa, mereka berdua tidak akan bisa berbincang dengan normal kalau terus seperti ini.
Mungkin lebih baik Ava kembali lagi nanti, setelah River tidak lagi ketakutan dan dia tidak lagi cemas bukan kepalang, hingga menyebabkan dirinya "sedikit" sensitif.
"Rose, jaga dia." Ava memutuskan untuk berdiri, meninggalkan pelayan pribadinya agar dapat mengawasi perkembangan kesembuhan River. Ellijah mengikuti langkah Ava tanpa perlu diminta, ia malah terlihat senang.
Saat Ava keluar dari kamar, gadis itu langsung disambut dengan dengan senyum kapitalis Ezra.
Ah, benar. Si pangeran juga ada di sini.
"Bagaimana keadaan Tuan River, Putri Eve?" Tuan River? Pft, niatan Ezra untuk terlihat baik di hadapannya tercermin jelas, keserakahan bersinar dalam mata emas pangeran ketiga tersebut.
__ADS_1
"Dia semakin membaik, sudah bisa berbicara dengan normal. Akan tetapi kulit kering yang terlanjur pecah-pecah serta goresan yang didapat ketika bertingkah agresif butuh penanganan yang lebih lanjut menggunakan obat yang berbeda."
"Jadi ... penawarnya berhasil."
Inilah objektif sebenarnya Ezra, memastikan.
"Prosesnya tetap harus diawasi karena ini masih kasus pertama, tapi setidaknya akal sehat pasien sudah kembali seperti semula."
Ava dapat melihat Roy yang diam-diam meninju udara di belakang Ezra, tanda kemenangan.
"Benar-benar kabar baik, Tuan Putri."
"Betul sekali, Pangeran."
"Kalau Anda tidak keberatan, maukah Tuan Putri menyempatkan diri untuk meminum teh bersama? Ah, Duke Frost juga dipersilahkan turut serta."
"Terima kasih atas undangannya, akan tetapi sayang sekali saya sudah memiliki janji."
Tentu saja walikota baru yang tidak punya otak itu.
Dengan adanya antidot, sekarang alasan apa yang akan membenarkan mandat eksekusi yang ia rencanakan?
Apapun itu, Ava tidak akan mendengarkan, karena ia tahu semuanya hanya menjadi omong kosong.
Dia akan menggilas habis pemimpin tidak becus tersebut.
***
Sayangnya, Ava tidak menyiapkan diri untuk menerima respon yang diberikan si walikota.
__ADS_1
"Tolong, bantu kami, Tuan Putri. Tolong!" Seorang elf yang biasanya memancarkan keanggunan di setiap gerakan mereka, kini bersujud putus asa di kakinya. Air mata dan ingus mengalir bebas dari wajah yang berantakan.
Ava awalnya berniat mengunjungi kantor walikota untuk memberinya sepatah dua kata mengenai keputusan cerobohnya, kalau tidak berhasil ia baru akan mengancam posisinya sebagai pemimpin baru Oranera. Namun dia malah didahului.
Walikota lah yang duluan menemui Ava di depan penginapannya. Rupanya ia sudah mendengar kehadiran penawar dari wabah yang merajalela. Setelah tahu kalau pasien yang ia bawa, River, dalam proses penyembuhan, si walikota memohon-mohon untuk diberikan penawar yang tersisa, ternyata anak perempuannya juga terkena wabah zombie, disembunyikan dalam lantai bawah rumah daripada dibawa ke stadium karantina.
Tentu saja kericuhan tersebut berhasil menarik perhatian orang-orang di sekitar. Tidak lama kemudian, Ava dikelilingi oleh penduduk-penduduk yang bersujud, meminta bantuannya.
"Tuan Putri mungkin tidak mengingat saya, tapi saya pernah menaiki kapal yang sama dengan Tuan Putri saat monster katak menyerang. Tolong selamatkan keluarga saya sekali lagi!"
"Tuan Putri dan saya pernah bermain kartu bersama! Saya mohon kembalikan saudara saya seperti semula."
"Saya pemilik toko herbal yang Tuan Putri kunjungi. Tuan Putri boleh mengambil apa saja dari toko saya untuk menyembuhkan anak saya!"
Tahu-tahu, kompetisi "siapa yang lebih mengenal Tuan Putri" terjadi, secuil harapan kalau simpati sang putri tergugah dan membuat mereka mendapat giliran.
Hm, Ava memang tidak berniat untuk merahasiakan resep antidot. Meskipun cuek, ia tahu kalau masalah ini menyangkut keselamatan banyak orang. Namun yang menjadi masalah tentu saja suplai-nya. Oranera saja sudah memiliki demand yang tinggi, dia yakin pihak Uflaria yang mendengar kabar di sini akan juga menuntut stok penawar yang ada.
Sayangnya, dalam seminggu terakhir selama perjalanannya di kapal, Ava hanya berhasil membuat 3 botol.
Dia membutuhkan bantuan sumber daya.
Untung saja, Ezra muncul.
Dari pesan yang dikirim Roy, Ava sudah tahu kalau si pangeran berniat mengajaknya bekerja sama dalam menangani wabah zombie ini. Tentu saja hal tersebut termasuk dalam rangkaian usaha Ezra untuk meraih skor dalam perebutan tahta Egoceolon. Membebaskan seluruh dunia dari ancaman sebuah wabah pastilah bernilai tinggi.
Proposalnya tidak buruk juga.
Hanya dengan menyerahkan resep antidotnya, Ava akan mendapat untung berupa royalti sebagai pemilik paten. Biarkan Ezra yang mengatur manufaktur produksi, penjualan, serta distribusi. Dengan begini Ava tidak akan bertanggung jawab dengan kerugian dalam pembuatan produk, karena dia sendiri masih sulit membuatnya. Bayangkan kalau Ava mampu meramu 10 botol setiap hari, dan dalam seminggu hanya 3 yang berhasil, artinya tingkat kesuksesan kurang dari 3%. Mungkin kemungkinan tersebut akan meningkat jika Ezra menemukan ahli alkemi yang handal, lagipula Ava cuma penipu ulung yang sedikit pintar, bukan kimiawan.
__ADS_1
Mulai malam itu, Ava memiliki pendapatan pasif.