
Pertemuan kembali antara Ava dan River sangatlah singkat, meskipun begitu hanya butuh beberapa menit untuk menghancurkan seluruh kontrol diri pada gadis itu.
"Suruh kapten untuk mempercepat laju kapal." Kemanapun Ava memalingkan wajah, yang ia lihat cuma laut biru yang membentang hingga ke horizon. Namun, bukan hal itu yang Ava butuhkan saat ini.
Ia harus cepat-cepat sampai.
Gambaran River duduk meringkuk tanpa semangat untuk hidup masih membekas, dan sakit.
"Tu-tuan Putri, kapten telah berkata kalau ke-kecepatan lebih dari ini hanya akan membahayakan penumpang dan memboroskan batu m-mana yang digunakan." Rose tahu kalau suasana hati majikannya sedang buruk, tapi ia juga tidak mau mati karena tenggelam!
"Penumpang hanya kita bertiga. Duke Frost, seorang ranker beratribut es. Aku, yang memerintahkannya. Dan kau. Dia tidak usah mencemaskan kita. Batu mana? Hah, bukankah dia tahu kalau aku seorang putri kerajaan?"
Rose telah bekerja sebagai pelayan selama bertahun-tahun, dan ketika tiba-tiba ia ditempatkan di istana putri Edodale, rumor-rumor yang didengarnya terngiang-ngiang di kepala. Pertama adalah sang putri, ahli alkemis terbaik di Edodale suka melakukan eksperimen kepada orang-orang di sekitarnya. Kedua, Putri Eve tidak suka bersosialisasi dan memperlakukan para pelayannya dengan dingin serta semena-mena. Meskipun rumor pertama masih belum memiliki bukti konkret, Rose terlalu takut untuk mengabaikannya. Akan tetapi hal tersebut berbeda dengan rumor kedua, memang benar Putri Eve yang ia lihat selalu datar dan jarang sekali berekpresi, tapi itu bukan berarti ia dingin dan semena-mena. Menurutnya, asalkan tidak ada yang lancang melewati batas privasi sang putri, mereka akan diperlakukan dengan biasa-biasa saja.
__ADS_1
Tapi sekarang, Putri Eve nampak ... berbahaya. Seolah-olah, satu senggolan saja akan menjerumuskan siapapun ke dalam daftar hitam yang ia simpan. Rose tidak tahu siapa pria yang terkena wabah dan terkurung itu, tapi dia secara pasti yakin kalau pria itu memiliki hubungan yang tidak biasa dengan majikannya.
Dan sepertinya hal itu juga dirasakan oleh Ellijah.
Meskipun diam, raut mukanya kaku, ketat, dan tidak bergerak. Entah sejak kapan. Mungkin setelah Eve dan rombongannya keluar dari stadium karantina, atau ketika sang putri mengancam seluruh kru kapal yang lelah menunggu untuk segera berangkat, atau juga saat Putri Eve memerintahkan si kapten untuk meningkatkan kecepatan kapal setiap lima menit sekali.
Ellijah tidak suka.
Lalu, ... bagaimana dengannya?
Apakah dia ... akan ditinggalkan lagi?
... Eve tidak boleh melakukannya.
__ADS_1
Sebagai seorang putri kerajaan, sebagai tunangan seorang Duke Frost, Eve harus mengetahui kewajibannya untuk menikah dengannya.
Mereka harus menikah.
Tapi pernikahan mereka selalu saja diundur karena keputusan sang Raja.
Mereka ... akan menikah, bukan?
Kalau begini, apakah dia harus menyingkirkan semua orang yang menjadi rivalnya?
Tapi melihat bagaimana Eve sudah kehilangan kontrol hanya karena penyakit ringan yang diderita si penjinak itu, bukankah ia akan dibenci nanti?
Yah ..., asalkan dia tidak tahu, semua akan baik-baik saja.
__ADS_1