Hellbent

Hellbent
Bab 24: Outbreak


__ADS_3

Akhirnya setelah seminggu menunggu, Ava kini dapat berpisah dari stalker-nya, Ezra. Ia sudah melarang River untuk memberitahukan tujuan mereka kepada siapapun untuk lebih amannya. Tiket yang ada masih terbatas karena daya tampung kapal yang masih kecil, sehingga seseorang harus memesan tiket minimal tiga hari sebelum keberangkatan karena selebihnya akan habis terjual.


Hanya tinggal beberapa jam lagi sebelum ia dan River melintasi samudra untuk sampai di benua Feretrum Sanctus. Setelah menaiki kapal pelayan lokal, ia akan sampai di pulau Crimsonwood, di mana salah satu bagian yang dapat membawanya pulang ke dimensi asal, lab Eve.


River mengecek lagi daftar kebutuhan yang ia tulis, mungkin sudah ke sebelas kalinya. "Makanan, cek. Minum, cek. Senjata, cek. Alat masak, cek. Alat makan, cek. Peralatan kemah, cek. Payung, cek. Selusin buku, cek. Kartu, cek. ...."


Semakin didengarkan semakin tidak berguna alat yang ia bawa.


"Aku ingin menanyakannya dari tadi, payung aku masih bisa mengerti, tapi buku dan kartu?" Seingat Ava, River hanya pernah menemaninya ke perpustakaan, pernah dia mencoba untuk membaca tapi setengah jam selanjutnya ia menyerah, dalam permainan kartu juga ia tidak terlalu jago, jadi Ava kira ia tidak akan terlalu menikmatinya.


Terdapat setitik rona merah di pipi yang menjalar ke telinga River. "Karena kau suka membaca buku, sampai-sampai setiap hari ke perpustakaan, dan kelihatan senang saat bermain kartu kemarin-kemarin."


Hm.


Ava seharusnya sudah menduganya terlebih dahulu.


Orang ini terlalu perhatian.


"Kalau kau ingin membawa hiburan, seharusnya kau membawa benda yang dapat menghiburmu."


Untuk sesaat River kelihatan sedih, alisnya perlahan turun bersamaan dengan pandangannya yang mengarah ke lantai. "Aku suka hewan, tapi kurasa tidak akan ada yang suka dengan hewan yang kubawa."


Oh, River yang mempunyai skill untuk menjinakkan monster masih dipandang buruk oleh orang-orang sekitar, Ava sudah mendengarnya langsung. Tapi tidak bisa melakukan apa yang ingin kau lakukan rasanya sesak, Ava yang melihatnya saja hampir kesal.


Namun hal seperti ini tidak bisa langsung dipaksakan, apalagi dengan sifat River yang lembek, konsekuensinya malah bisa memperburuk kesehatan mentalnya.


Jadi untuk saat ini Ava mengusahakan pada penerimaan yang dimulai dari dirinya.


"Kau bisa mengajak bermain serigala dan kucingmu di kamar gabungan kita. Oh, kurasa mungkin kucingmu saja, soalnya aku masih belum tahu seberapa besar kamar kelas ekonomi di sini, Lig mungkin tidak muat," Ava berucap setelah menimbang-nimbang.


"Kau ... tidak memaksakan diri kan? Apa kau tidak takut? Pada dasarnya mereka monster," tangan River terjulur, kelihatannya berniat untuk meraih bahu Ava, akan tetapi urung, gerakannya layu seiring kalimatnya berjalan.


Jadi Ava memutuskan untuk meraihnya, menggenggam tangan pria itu yang gemetar.

__ADS_1


"Dari kelihatannya mereka sudah jinak. Yah, asalkan nanti kau tidak memintaku untuk membersihkan bulu mereka yang rontok."


Tawa kecil segera keluar dari dadanya yang lega. River menatap gadis di depannya dalam-dalam, merasa bersyukur. Sudah lama ia tidak merasa bisa sebebas ini. Sudah lebih dua minggu ia bersama "Rina", teman bicaranya saat luang, partner perjalanan, serta pengganti sosok adik yang sangat ia rindukan. "Aku yang akan membersihkan bulu yang rontok, kalau begitu kau yang membersihkan kotoran dan kencing mereka."


"Rina" menatapnya kaget, merasa dicurangi. "Tunggu! Aku tarik lagi penawaranku!"


River mengacak rambut kelam gadis tersebut, mata hijaunya tersenyum bersamaan dengan ujung bibirnya yang naik, wajah ramahnya secara praktis berkilauan.


Sekitar mereka semakin ramai seiring waktu keberangkatan yang kian mendekat. Angin laut yang bahkan bisa Ava kecap asinnya di lidah, berhembus diam membawa lembab air yang membuat gerombolan di pelabuhan itu pengap.


"Penumpang silahkan naik!" suara lantang staf kapal menggelegar tak lama kemudian.


Sebuah papan landai diturunkan,


untung saja tidak ada masalah besar, orang-orang naik satu-persatu tanpa ada kerusuhan yang membuat pihak yang lemah terjepit dan jatuh, hanya isu kecil seperti dua atau tiga anak yang menyalip barisan, namun semuanya kelihatan memaklumi jika pelakunya anak-anak.


Namun ketika hanya sisa beberapa orang di depannya, pijakannya tiba-tiba goyah, seruan terdengar dimana-mana.


Gempa.


"Outbreak!" suara wanita menjerit.


"Di sana!" Kali ini seorang pria melolong sembari menunjuk sebuah arah di lautan.


Di sana, seutas cahaya merah muncul dari dalam air, menjulang hingga menusuk langit.


Situasi seketika berbalik.


Penumpang yang sudah menaiki kapal tergesa-gesa turun, mendorong, saling menyalip, tidak mempedulikan orang lain. Beberapa orang bahkan jatuh ke air karena papan yang memang sebenarnya tidak didesain untuk jalan 4 orang sekaligus, kayu tersebut bahkan terlihat semakin melengkung, tidak kuat menampung beban semuanya, hampir patah.


River di belakangnya segera menarik Ava menjauh dari air. Jika gate yang mengalami outbreak berada di atas level yang bisa ia tangani, seluruh kota Englerock akan dalam bahaya. Lonceng besar berdentang di atas salah satu menara di pelabuhan, menandakan situasi darurat.


Gate sampai saat ini masih dianggap sebagai fenomena acak, artinya tidak ada yang dapat memperkirakan jumlah dan posisi gate baru yang terbentuk jika tidak ada yang melihatnya secara langsung. Oleh karena itulah, dasar laut atau dalam hutan yang tidak berpenghuni sangat rawan mengalami outbreak.

__ADS_1


Dalam pelariannya, Ava dapat melihat Ezra, Al, dan Roy mengarahkan para penduduk untuk mengungsi ke kota lain yang terdekat. Selena tidak jauh mereka sudah berkeringat, bekerja keras mengobati korban-korban yang tidak sengaja terjatuh dan terinjak.


Seperti yang diduga, River mengajak Ava untuk mendekati mereka, berniat membantu. Ia sebenarnya berat hati bertemu lagi dengan si pangeran dan para pelayannya, tapi keadaan kacau seperti ini akan lebih mudah ditangani jika memang ada yang mengorganisir massa.


"Aku akan ikut membantu!" Ezra membalas River hanya dengan anggukan. Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk mengatur lalu lintas yang sempat terhambat karena kepanikan.


Seorang wanita dewasa kemudian menghampiri mereka dengan air mata yang membasahi wajah "Tolong! Aku kehilangan anakku! Tolong, Tuan! Kumohon!"


Meski waspada, Al masih saja berwajah datar di tengah situasi darurat ini. "Baiklah, Nyonya. Tenangkan diri Anda terlebih dahulu, lalu bisa jelaskan ciri-ciri anak Anda?"


Wanita tersebut mati-matian menyebutkan perawakan anaknya yang masih berusia tujuh tahun di tengah isakannya, "P-perempuan, ram-rambutnya coklat, dia memakai baju kuning. Saya mohon bantu cari anak saya!" Ava yang melihatnya saja hampir patah hati melihat kesedihan ibu itu.


Al yang dari gerak-geriknya ingin mengirimkan Roy untuk mencari anak yang hilang, diinterupsi oleh River yang memberanikan diri untuk maju terlebih dahulu. "Maaf, kalau boleh tahu, apakah ada barang bawaan milik anak Anda yang sedang Anda bawa?"


"Ah, ada! Ada!" Ibu tersebut langsung tergesa-gesa mengeluarkan boneka yang terselempit di tas besarnya.


Setelah menerima boneka perca berbentuk beruang, River menggunakan skillnya.


"[Summon: Lig]."


Serigala sebesar kuda dengan bulu abu-abu muncul tiba-tiba di hadapan mereka. Banyak yang menghentikan langkah, entah karena kaget ataupun terlalu takut mengira monster dari outbreak telah sejauh ini.


River mengelus Lig yang menggeram senang karena akhirnya dikeluarkan, "Endus, lacak."


Serigala memang mempunyai indra penciuman yang superior daripada manusia, itulah kenapa banyak polisi yang melatih anjing, versi serigala yang lebih jinak, untuk menjadi anjing pelacak.


"Baiklah, aku yang akan mencari anak Ibu." Tidak ada yang membalas.


River menaiki Lig, kemudian membelah kerumunan mengerjakan tugasnya.


Setelah semua itu, Ava menantang tatapan mata-mata yang masih terpaku, mengancam hanya dengan matanya siapapun yang berani berkata buruk mengenai River ataupun Lig.


"Baru pertama kali ini aku melihat seorang tamer secara langsung," Ezra akhirnya memecah es yang membekukan suasana. Jarinya mengelus dagu dengan senyum yang membuat Ava ingin menonjok wajah tampannya.

__ADS_1


__ADS_2