Hellbent

Hellbent
Bab 120: Gegabah


__ADS_3

Teh chammomile tidak membantu Ava untuk tenang.


Apakah Ellijah benar-benar ingin berdamai dengannya? Kalau iya kenapa setiap tindakan pria itu hanya memicu tekanan darah tinggi Ava?


Ah, terserah.


Saat dia keluar dari penginapan seusai istirahat, rombongan mage yang menyambut kedatangan sang putri beserta Duke Frost lagi-lagi berjajar untuk mengantarnya pergi ke pelabuhan. Biasa, mencari muka. Koneksi dengan dua figur berkuasa tersebut tentu saja akan menguntungkan bagi mereka.


Untuk sampai ke Crimsonwood, Ava harus berlayar menggunakan kapal. Berkebalikan dengan hari-harinya sebagai Rina si pemburu dari desa terpencil, identitas Eve mengijinkan Ava untuk 'meminta bantuan' sosok-sosok penting. Jadi dia tidak perlu menunggu jadwal keberangkatan kapal penumpang umum, Ava dapat 'dipinjami' sebuah kapal yang kaptennya tidak boleh marah walaupun Ava menunda keberangkatan mereka dengan sesuka hati.


Pelabuhan pagi itu ramai, sepertinya ada kapal lain yang jadwalnya bersamaan dengan kapal pribadi Ava.


Sisi kanan dan kirinya pun bising, tapi yang paling mengganggunya adalah celotehan para mage yang mempromosikan diri mereka sendiri dengan tidak tahu malu. Perjalanan mereka seharusnya rahasia, akan tetapi kelompok berisik yang berjumlahkan 10 orang tentu saja mengundang banyak perhatian dari orang-orang sekitar. Meskipun Ava memperingati para mage yang mengikutinya, ucapannya tidak berefek karena kehadiran mereka sudah terlanjur mencolok.


Ava memandang sinis wajah-wajah serakah yang mulai terlihat seperti--

__ADS_1


"Oh, Kak Rina!" Suara cempreng yang familiar mengagetkan Ava. Gadis itu otomatis menoleh, matanya seketika mengikuti pergerakan lincah gadis cilik yang memiliki ekor dan telinga kuning bertotol hitam.


Lorah.


Hanya butuh beberapa detik untuk bocah tersebut sampai di depan Ava, Lorah menarik-narik ujung tuniknya. "Kak Rina, Kak--"


Plak!


Sebuah tamparan nyaring terdengar. Gadis cilik tersungkur di tanah dengan pipi kanan yang merah.


"Berani-beraninya hewan kotor sepertimu--"


Ava mengangkat Lorah, menggendong tubuh mungil yang bergetar karena menahan tangis.


Di mana ia berada, masyarakat sama-sama busuknya. Dunia fantasi tidak sama dengan Utopia. Diskriminasi terhadap ras yang tidak menjadi bagian dari mayoritas akan tetap terkucilkan.

__ADS_1


"Tu-tuan Putri-- Maksud saya--" Mage yang disalaki tentu saja bingung. Pikirnya ia dapat menonjol di mata sang putri jika ia berbuat sesuatu. Gambaran Putri Eve yang angkuh serta dingin tidak bisa lepas dari prasangkanya. Jadi ketika ia melihat sesosok beastman yang lancang menyentuh badan sang putri, ia bertindak terlebih dulu dari mage-mage yang lain.


Beastman adalah ras humanoid yang dipandang buas serta liar, persis seperti hewan, jadi terkadang mereka dipandang lebih rendah dari budak. Dengan menyingkirkan makhluk kotor tersebut, mage itu menyangka akan mendapat pujian, lebih baik lagi rekognisi.


Sayangnya, reaksi Putri Eve tidak seperti yang ia harapkan.


Mereka berdua sepertinya saling mengenal. Apakah anak gadis itu adalah relatif dari salah satu dari beastman langka yang terkenal serta dihormati? Apapun itu, dia sudah membuat sang putri murka.


Menyadari kesalahannya, mukanya berubah pucat pasi.


"Ampuni saya, Tuan Putri!"


Ava masih mengelus punggung Lorah yang sekuat tenaga berusaha tegar. "Bukan aku yang harus kau mintai pengampunan."


Lorah dan kakaknya sudah terbiasa dengan perlakuan buruk dari manusia, jadi awalnya dia merasa aneh dengan sikap Kak Rina dan Kak River yang biasa saja melihat telinga dan ekornya.

__ADS_1


Jadi ketika manusia yang berbeda dengan manusia jahat lain membelanya secara aktif, Lorah nyaris mengeluarkan air mata, ingin sedikit bertumpu pada pilar baru yang membantunya ketika bersandar.


Ia ingin bersikap seperti anak-anak biasa.


__ADS_2