
Rencananya cukup simpel, Ava akan masuk dengan mencuri kartu identitas seseorang, karena setelah diperhatikan, prajurit penjaga tidak akan mengecek secara manual layar status seseorang apabila mereka menunjukkan kartu identitas yang untungnya tidak menyertakan foto di dalamnya, hanya nama, tanggal lahir, serta alamat asal. Namun dia harus memilih targetnya secara tepat, bukan orang yang dikenal oleh kedua penjaga tersebut secara personal, bukan orang yang sudah biasa keluar-masuk gerbang Tezia, bukan orang yang terkenal. Dan masalah yang lebih besar lagi, bagaimana caranya ia menyingkirkan kehadiran River.
“Sepertinya cukup sampai di sini saja kau mengantarku,” ujar Ava pelan-pelan, terdengar cukup manis walaupun ia mencoba mengusir satu-satunya orang yang selama ini menemaninya tanpa membahayakan fisik maupun mentalnya di dunia yang asing ini.
River sempat tersentak, tidak menyangka bahwa gadis itu akan menyampaikan topik yang selama ini ia hindari secara blak-blakan. “Bu-bukankah lebih baik kalau ... kalau aku menjagamu sampai memasuki kota secara aman?”
“Tidak perlu.” Ketegasan yang diutarakan Ava melalui penolakannya sampai-sampai membuat River tidak memiliki niat untuk berargumen. River sebenarnya ingin sekali mengatakan banyak hal, selain itu ia juga tidak rela melepaskan satu-satunya orang yang bisa ia ajak bicara tanpa memandanginya aneh serta takut karena skill-nya yang dapat memanggil monster, musuh alami dari semua ras lain termasuk manusia. Tapi melihat resolusi yang disampaikan Ava secara tidak langsung, River ragu bahwa kehadirannya masih dibutuhkan. Jadi dia memilih diam, mundur tanpa suara.
Saat itulah, tiba-tiba saja terdengar teriakan nyaring dari depan, yang disusul dengan kerusuhan massal. Orang-orang berlari ketakutan ke belakang, pandangan horor mereka menyiratkan bahwa terjadi sesuatu yang tidak ingin mereka lihat. Kemudian lolongan menggelegar keras sampai terdengar dari kejauhan.
Serangan monster.
Wajah River memucat, mata hijaunya kehilangan fokus. “Rin-Rina! Kita harus--” Namun Ava sudah tidak ada lagi di sampingnya. “Oh tidak!” Kejadian ini menyerangnya dengan kenangan buruk, dan ia takut hal yang ada di masa lalu akan terjadi lagi.
Di sisi lain, memanfaatkan kepanikan massal yang terjadi, Ava menggunakan kesempatan itu untuk mencuri kartu identitas milik orang yang telah ia jadikan target. Seorang perempuan yang dari penampilannya terlihat seperti gadis desa yang baru pertama kali memasuki kota besar, calon korbannya sudah lari tunggang langgang semenjak teriakan dari orang-orang tadi. Jadi andong umum yang mereka tumpangi kosong, kalau saja Ava beruntung, kartu identitas mereka akan ketinggalan. Dan ... benar saja, isi dari tas kecil yang jatuh terburai. Kartu identitas, buku kecil, dan kukis tercecer di lantai andong tersebut.
Well, sayangnya dia harus kembali lagi.
Dengan jendela yang terbuka lebar serta angin yang berhembus kencang, mereka akan menganggap lembar kertas tipis yang Ava curi terbang terbawa angin. Gadis itu kemudian melangkah keluar, dari kejauhan ia lihat seekor kera dengan lengan yang dua kali lebih besar dari badannya mengamuk dengan menghantam apa saja dalam radius jangkauannya.
“[Observation].”
__ADS_1
Ras : Longhand ape
Level : 23
HP : 309/400
Tunggu dulu, HP?
Jika [Observation] level 2 menunjukkan jumlah uang yang dimiliki oleh seseorang, untuk monster menunjukkan HP, begitu? HP atau health point, dalam sebuah permainan hal tersebut biasanya mengindikasikan mengenai kondisi lawan, jadi apabila HP monster itu habis sampai nol, menurut logika game dia akan mati.
Menolak untuk lebih mendekat setelah maju dua posisi, Ava memilih untuk mendaki ke atas kereta pedagar guna mengamati keadaan lebih seksama. Di sekitar monster itu, Ava melihat seonggok rongsokan besi yang ia asumsikan sebagai kandang yang memerangkap monster itu sebelum ia membuka paksa serta menghancurkannya. Setengah lusin prajurit memegang senjata mereka masing-masing untuk mengalahkan kera berlengan besar itu.
Pola serangan monster tersebut sebenarnya repetitif, jadi cukup mudah menghadapinya dengan enam orang prajurit berlevel sedang, namun setelah HP kera itu berkurang hingga 100 poin, pergerakannya berubah, kini ia melompat-lompat secara acak sembari mengerih keras-keras. Kewalahan dengan transisi yang ada, prajurit-prajurit itu terpukul mundur dan mulai berjatuhan.
Hm.
Meskipun HP-nya hanya tinggal 64 poin, jika dibiarkan malah akan berakibat fatal bagi Ava. Pertama, si monster kera akan beralih menyerang orang lain, termasuk dirinya. Kedua, kalaupun kera tersebut berhasil dikalahkan dengan bala bantuan yang sudah dipanggil tadi untuk berjaga-jaga, keamanan akan diperketat, mengancam rencananya. Terakhir, gerbang akan sepenuhnya ditutup, meskipun Ava sudah tahu informasi inti mengenai caranya untuk kembali, ia masih membutuhkan informasi tambahan, lagipula ia harus melewati Tezia untuk bisa sampai ke tempat tujuannya yang lain, Crimsonwood.
Dengan apa yang ia ingat, Ava pernah membaca sesuatu pada buku pemberian Eve. “Membuat gas tidur dengan serbuk monster Nightingale”, lavender hitam telah dikenal sebagai obat tidur yang ampuh, namun belum ada yang tahu kalau mencampurnya dengan serbuk yang dikeluarkan oleh monster Nightingale akan menjadikannya sebagai obat bius yang dapat merubuhkan bahkan seekor naga.
Setelah mengecek arah angin, Ava segera membeli mahkota lavender hitam dan serbuk Nightingale. Setelah memasukkanya ke dalam bunga Puff, yang memiliki karakteristik mirip seperti balon, gadis itu siap untuk melemparkannya. Namun dia lupa satu hal.
__ADS_1
“Rina!”
River. Tentu saja, bukannya berlari menyelamatkan diri seperti yang lain, pria itu malah mencarinya.
Namun Ava tidak punya banyak waktu sebelum semua prajurit yang ada tumbang. Ia melompat turun dan langsung berlari ke depan dengan kecepatan penuh. Panggilan River semakin terdengar putus asa di belakangnya. Setelah mendapat jarak yang cukup jauh namun bisa terjangkau dengan lemparannya yang lebih kuat dari sebelumnya, Ava berancang-ancang.
Campuran yang dibungkus dalam buntalan sebesar kepalan tangan tersebut meluncur, lalu meletus ketika menabrak bahu monster yang meloncat-loncat itu, meleset dari target asalnya yakni kepala. Namun sepertinya apa yang ia coba lakukan berhasil, pergerakan monster itu melambat, hingga akhirnya benar-benar berhenti. Tubuhnya jatuh lunglai dengan debuman besar yang menggetarkan tanah di sekelilingnya.
Efek serbuk tersebut tidak hanya mengenai si monster kera, tapi juga prajurit-prajurit yang melawannya karena pengaruh arah angin. HP 30, secara teknis dia masih hidup, jadi Ava mengambil inisiatif untuk benar-benar mengakhirinya. Gadis itu kemudian mengiris dada tebal monster itu, butuh beberapa kali coba sebelum batu mana
yang ia cari muncul.
Level meningkat!
Hadiah: 1 poin status
Proses eror!
Ava mengecek keadaan dari prajurit-prajurit yang tegeletak, sebagian besar pingsan dengan luka lebam, mungkin juga beberapa tulang patah, intinya tidak ada yang sampai mengancam nyawa.
Derap kuda yang keras mendekat dengan cepat, bala bantuan datang. Tapi mereka sudah terlambat. Hanya ada seonggok mayat Longhand ape dengan dada yang terbuka, serta setengah lusin prajurit yang tidak sadarkan diri. Ava sudah hilang dari tempat kejadian.
__ADS_1