Hellbent

Hellbent
Bab 52: Seorang Kenalan


__ADS_3

Ava sebenarnya ragu dengan ada tidaknya fenomena "cinta pada pandangan pertama", dia selalu skeptis. Apakah benar mereka merasakan "cinta"? Bukan hanya passion yang muncul sebagai bentuk reaksi alami? Karena gadis itu memiliki banyak pengalaman tentang masalah ini. Ketika ia pergi ke bar sebagai rutinitas dalam pencuriannya, seorang pria seringkali menghampirinya, mengaku kalau dia jatuh hati saat itu juga, pada akhirnya tujuan akhir mereka hanyalah sebatas cinta satu malam.


Tapi Hao terlalu canggung jika dia memang ingin melakukan hal tersebut. Selain itu, meski sikap pria itu tidak terlalu mengesankan, dia selalu menjaga tangannya untuk tidak menyentuh Ava sembarangan.


Hm, kemungkinan lain ini pertama kali untuknya.


Apapun itu, Ava memiliki posisi yang lebih tinggi dalam hubungan ini.


Ia tidak akan ragu memanfaatkan perasaan atau memanipulasi pikiran seseorang untuk keuntungannya.


Begitulah caranya dia bisa hidup sampai saat ini.


Semuanya berasal dan berakhir pada hati serta akal.


Karena itu juga Ava mempelajari psikologi, yang secara istilah diartikan sebagai ilmu jiwa. Secara otodidak, dia memahami dari buku yang ia pinjam di perpustakaan umum, atau sekali-kali ia curi dengan identitas palsu.


Lebih mudah mengendalikan seseorang jika kau mengenal seluk beluk perasaan serta pikiran mereka.


Untuk kesekian kalinya, Ava menolak ajakan Hao untuk mengantarnya pulang. Karena walaupun terkena angin segar dan pandangan Hao tidak lagi berkabut, ia masih sempoyongan ketika berjalan. Berliter-liter bir yang ia teguk tidak akan hilang begitu saja. Bukankah ini artinya Ava lah yang seharusnya mengantar Hao pulang? Tapi gadis itu tidak ingin. Jadi dia melesat pergi sendirian, tentu setelah menepuk halus dada kiri Hao, yang segera membuat pria itu terpaku.


Namun bukannya menuju kapal, Ava masuk lebih jauh ke dalam hutan. Dia masih harus berburu untuk menabung poin sebagai jaminan.


Gadis itu tidak bisa memprediksi bahaya yang akan datang kepadanya di dunia fantasi ini. Dia membutuhkan berbagai sumber daya untuk bertahan, termasuk status dasarnya, skill, informasi, koneksi, artifak, dan ramuan.


"Setelah hilang selama beberapa bulan, tidak kusangka Tuan Putri ada di sini."


Bas rendah seorang pria asing segera membuat Ava mengeluarkan belati beracun dari inventori, melemparnya ke asal suara tersebut.


Bagaimana orang itu bisa menyelinap di belakangnya? Inikah akibatnya ketika kelima indra terus saja dibanjiri oleh stimulasi sehingga Ava kesulitan membedakan apapun di antaranya?


"Wah, hati-hati!"


Pohon bergemerisik, detik selanjutnya laki-laki ramping dengan rambut ungu panjang senada cahaya bulan melompat turun dengan anggun, kostum yang orang asing itu kenakan persis seperti pakaian tradisional Jepang, kimono.


Kipas tangan berhiaskan sakura menutupi setengah dari wajah pucat pria tersebut, menyembunyikan senyum jahil yang dapat Ava lihat dari kerutan matanya.


... Siapa?


Dia memanggil Ava dengan sebutan "Tuan Putri", apakah artinya dia mengenal dopplegangger-nya?

__ADS_1


Dari penampilan Eve yang selalu mengenakan gaun hitam mewah, Ava langsung berasumsi kedudukan gadis itu yang sebenarnya tinggi. Setidaknya dalam status bangsawan.


Tapi seorang putri? Putri kerajaan?


Ava masih belum yakin benar, jadi yang bisa ia lakukan hanyalah mengorek informasi tanpa lawannya sadari. Bersikap jauh dan netral.


"Membuat kaget seorang gadis ketika malam-malam seperti ini, bukanlah sikap yang sopan, Tuan," Ava sudah memberi jarak dengan kalimat pertamanya.


Namun pria di hadapannya malah tertawa kecil, "Dingin seperti biasa, Tuan Putri."


Dia jelas-jelas mengenali wajah Ava, lebih tepatnya Eve yang identik dengannya.


"Jika Anda tidak mempunyai urusan yang penting, saya akan pergi terlebih dahulu." Akan tetapi ketika dia berbalik, pria itu berada tepat di wajahnya. Jarak mereka hanyalah sebatas jengkal dan kipas tangan laki-laki tersebut. "Kukira Tuan Putri lagi-lagi melakukan eksperimen di suatu tempat, tidak kusangka Anda bermain hati dengan Hao, pendatang baru di guild kami." Setiap kata yang keluar dari mulut pria itu terasa lengket, Ava mengerutkan kening tanpa sadar, tidak nyaman.


Pertama, dia mengenal Hao.


Kedua, dia berhubungan dengan guild Canthan.


Apakah dia adalah kakak besar yang dibangga-banggakan Hao?


Ava menggunakan observasinya.


Nama : Rai Takahashi


Level : 87


Koin : 28276382968


Kekuatan : 12


Kecepatan : 22


Kelentukan : 15


Afinitas spirit : 34


Bukan. Mereka memiliki nama keluarga yang berbeda.


Lalu ... spirit?

__ADS_1


Spirit dalam buku dijelaskan sebagai manifestasi kekuatan alam, bekerja dengan cara yang berbeda dari mana. Spirit memiliki tubuh kecil sebesar telapak tangan, kelas dan atribut yang berbeda-beda tiap entitasnya. Dengan kata lain, peri.


Dan orang yang memiliki afinitas spirit akan dapat membuat kontrak dengan salah satu peri yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Semakin tinggi afinitas mereka, semakin banyak dan tinggi pula kelas peri yang dapat mereka kontrak.


Talenta yang langka.


"Saya rasa kita tidak saling mengenal," Ava membalas datar.


Kedua alis Rai terangkat, "Ouh, saya sakit hati, Tuan Putri. Saya kira kehadiran saya memiliki impresi yang membekas pada pertemuan sebelumnya, ternyata tidak." Meskipun berkata begitu, Rai masih saja memasang senyumnya, benar-benar merasa terhibur. Matanya kemudian menyipit, " Atau ini hanyalah cara Tuan Putri mengancam saya untuk tutup mulut?"


Padahal Ava tidak berniat seperti itu.


"Baiklah kalau begitu, saya tidak akan mengatakan apapun mengenai identitas Tuan Putri yang sebenarnya kepada Hao, tapi biarkan saya melihat dari samping. Sudah waktunya bocah manja itu mendapatkan pelajaran." Ava dapat merasakan setetes racun dalam ucapan Rai. "Saya juga tidak akan memberitahukan keberadaan Tuan Putri kepada Duke Frost, seperti yang saya katakan sebelumnya, drama adalah genre yang paling saya suka."


Duke Frost?


Namun pertanyaan Ava hanya semakin besar.


... Sepertinya dia harus langsung saja.


"Apa yang Anda katakan dari tadi, Tuan?"


Untuk sesaat wajah Rai membeku, mata coklatnya memandangi dalam-dalam manik hitam Ava yang dalam interpretasinya, bingung. Pria itu kemudian terkesiap, meskipun matanya berbinar-binar dengan sinar jahil yang membuat Ava curiga dengan apa yang akan ia katakan.


"Astaga, apakah Tuan Putri kehilangan memori?"


Kini Rai malah berjingkrak-jingkrak senang, tapi kimononya tetap saja bergerak anggun mengikuti hembusan angin malam. "Itulah kenapa! Itulah kenapa Tuan Putri hilang sampai berbulan-bulan!"


Eve sempat menghilang?


"Ya ampun, tidak ada momen yang tidak seru jika saya dekat dengan Tuan Putri!"


Rai makin jatuh ke dalam kesalahan pahaman yang ia buat sendiri.


"Tuan Putri kerajaan Edodale ternyata kehilangan memori, itukah kenapa Anda sekarang menggoda adik teman saya? Meskipun ingatan Anda terhapus, sifat Tuan Putri masih sama!"


Rai semakin liar berimajinasi.


Ava harus menghentikan pria itu.

__ADS_1


Eve adalah putri kerajaan Edodale. Benarkah?


Dengan begini bukankah keadaan akan semakin rumit?


__ADS_2