
"Kita sudah tidak bisa menunda lagi keberangkatan kapal, Tuan Putri!" Ellijah dengan keras kepala menghalangi Ava. Akan tetapi gadis itu tidak kalah dalam pertarungan argumen, tidak untuk saat ini. "Kapal sudah disewa selama sebulan untuk perjalanan, dan aku punya hak menentukan jadwal keberangkatan. Jadi semuanya tergantung padaku!" Ava mendengus, menyingkirkan Ellijah dari jalannya.
Meskipun Dom dan Lorah di belakang, mengikuti sang putri yang wajahnya memerah dan nampak siap menyeruduk siapapun yang menghalangi, Ava telah tahu arah tujuannya, stadium yang dulu ia gunakan sebagai tempat latih tanding.
Tempat di mana River berada.
Ketergesaanya didasari oleh kekhawatiran serta kecemasan, namun yang paling intens ialah murka yang membakar.
Cerita dari Dom dan Lorah berputar lagi di kepalanya yang memanas.
"Kak River terkena ... wabah penyakit."
"Seorang tentara bayaran pulang dari misinya yang gagal di Uflaria, akan tetapi tingkah lakunya aneh dan tiap hari semakin agresif. Tidak lama kemudian, tentara bayaran tersebut menggeram tidak jelas lalu mulai menyerang orang-orang sekitar. River ingin melerai, tapi sayangnya dia juga ikut terluka, tergigit. Beberapa hari selanjutnya, River beserta korban-korban lain mengalami gejala yang sama dengan tentara bayaran tersebut. Jadi kini, mereka diisolasi di stadium yang dijadikan sebagai pusat karantina darurat. Banyak yang bilang kalau apa yang terjadi ialah pertanda bahwa wabah penyakit dari Uflaria telah menyebar sampai Oranera."
Wabah di Uflaria? Maksudnya yang mirip dengan fenomena zombie itu?
Bagaimana bisa menyebar hingga melintasi benua?
__ADS_1
... Ava tidak tahu apa yang dilakukan orang-orang di Uflaria dalam menangani krisi itu, tapi sepertinya perlakuan mereka tidak baik melihat terdapat tentara bayaran yang lebih memilih untuk menyembunyikan lukanya daripada menerima uang kompensasi.
Dan sekarang River juga terjangkit?
Hah.
Wabah ini memangnya seperti apa bentuknya? Apakah memang zombie seperti yang Ava bayangkan? Kalau begitu, apakah mereka memang mengincar otak? Atau hanya daging mentah secara umum? Apakah terdapat serum yang mengembalikan diri mereka seperti semula? Atau hanya ada vaksin pencegah? Bagi yang terinfeksi, fungsi tubuh mereka masih normal atau semuanya membusuk persis seperti mayat hidup? Apakah mereka masih bisa menggunakan skill? Atau hanya poin status yang berlaku?
Argh, dipikirkan pun percuma, semuanya masih asumsi.
Berbeda dengan dulu, kini stadium yang Ava tuju memiliki belasan prajurit yang berjaga, memperketat pengawasan. Untungnya proses masuk pengunjung tidaklah kompleks, mengingat cara penularan adalah dengan gigitan, jadi selama mereka tidak terlalu dekat dengan 'si pasien' dan terdapat seorang penjaga yang menemani kunjungan mereka setiap saat, mereka diperbolehkan masuk, apalagi ternyata Dom serta Lorah merupakan pengunjung rutin, proses semakin mudah.
Mereka dianggap sebagai hewan buas atau apa?!
Jajaran kandang besi tertata rapi, masing-masing di dalamnya ialah seseorang yang entah menggeram, menggonggong, atau menggetarkan kasar jeruji besi begitu melihat mereka. Ava tahu jika ia berteriak, keadaan hanya akan menjadi lebih buruk.
Akhirnya, sampailah dia di depan kurungan yang memiliki papan gantung bertuliskan angka 17. Satu-satunya 'pasien' yang terduduk lesu di antara keributan yang mirip kebun binatang. River.
__ADS_1
"Hei ...," Ava menyapa ragu-ragu, membuat nadanya menggantung.
River menoleh. Wajahnya yang dulu ramah kini pucat pasi tanpa ekspresi dengan kulit yang kering serta pecah-pecah, matanya pun kosong, tidak lagi memancarkan sinar ramah seperti dulu.
Gambaran yang asing membuat Ava tidak nyaman melihat River.
Otomatis, dari pikiran impulsifnya, Ava langsung memutuskan untuk menjadikan kesembuhan River sebagai prioritas.
"Aku punya resep penyembuhnya, ada di lab rahasiaku, jadi lebih baik kau menaiki kapal yang ada."
Tunggu dulu ...
Suara siapa itu, langsung di dalam otaknya?
...
...
__ADS_1
Eve?!