Hellbent

Hellbent
Bab 179: Segera Kembali!


__ADS_3

Dinding putih bersih, lantai keramik susu, dan bau antiseptik. Ava duduk pada kursi kecil di samping ranjang pasien yang kosong, terdapat selimut bermotif garis biru menggumpal berantakan di sudut kasur, sedangkan bantal serta gulingnya jatuh di bawah kasur.


"Dokter bilang kau sebaiknya banyak-banyak tidur untuk sementara waktu ini, bukan?," suara Ava nyaring di dalam kamar yang sepi itu.


"Kenapa kau tidak kembali?" Meskipun tidak berkorelasi, sahutan lirih terdengar tidak jauh dari tempat duduknya.


Lexa. Dengan gaun pasien tipis, gadis itu berdiri dan memandangi pemandangan di luar jendela tanpa sudi menoleh.


Namun ketika Ava mendekat, yang ia lihat hanya warna putih tanpa batas.


"Kenapa kau tidak kembali?" Sekali lagi, pertanyaan terlontar dari bibir kering Lexa yang pucat.


"Apa maksudmu?"


"Kau sudah menemukan sebuah keluarga yang kau impi-impikan?"


" ... Apa yang kau bicarakan?"


"Apa benar mereka bisa disebut keluarga?"


Ava bingung, tapi hatinya seolah tertusuk.


"Kau punya kebiasaan buruk, Ava, terlalu lekat terlalu cepat kepada orang asing."


Walaupun Lexa hanya bergumam, Ava merasa kalimat tersebut terus terpantul pada lantai dan dinding putih bersih dalam kamar itu, membuat gemaan bising yang ingin ia lenyapkan. "Diam!"


"Jangan lupa tempat itu bukan tempatmu."


Ava tidak bisa bernapas, dadanya sesak dan ingin meledak. "Diam!"


"Kau hanya pengganti."

__ADS_1


Terhuyung, Ava nyaris terjungkal ke belakang. Jejak kakinya berbekas hitam pekat pada lantai yang putih. "Diam!"


"Kau harus segera kembali."


"Aku tahu!" Semakin ia mundur, semakin banyak jejak arang yang ia tinggalkan.


"Tidak ada yang benar-benar menerimamu kecuali kami."


"Aku tahu." Tulang dan sendinya seakan meleleh, Ava tidak punya tenaga untuk berdiri. Ia jatuh terlungkup.


"Kalau tidak, kembalikan kembaranku yang sudah kau bunuh!"


Setelah itu, gelap.


Warna putih yang membutakan tadi seolah terhisap ke dalam lubang cacing dengan seketika.


Dalam kesunyian, Ava berbisik, "Kalau saja posisi kami bisa ditukar waktu itu."


***


Namun ia dapat merasakan setetes air mata di pipinya.


Hm.


Dia harus segera kembali ke dunia asalnya.


***


"Bunuh monster itu! Agh! Bunuh, cepat!"


"Duke Frost, tolong! Monsternya semakin mendekat! Agh!"

__ADS_1


"Duke Frost!"


"Duke Frost!


"Duke Frost!"


Satu kali lagi namanya dipanggil, Ellijah akan meratakan area ini dengan es!


Rombongannya membesar dengan sangat cepat, bukan kemauannya tentu saja. Raja Dion yang dari kemarin menempelinya seperti benalu sok-sokan bersikap dermawan kepada bangsawan faksi royalti yang mereka temui selama perjalanan. Di sisi lain, orang dari faksi bangsawan harus memohon-mohon terlebih dahulu untuk masuk ke dalam grup.


Raja Dion manfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Selain memamerkan kekuasaanya, dia dapat menekan pihak oposisi.


Namun Ellijah yang menerima getahnya. Hanya dia yang memiliki skill yang cukup kuat untuk membunuh monster dalam satu kali serang.


Dia benar-benar diperlakukan seperti anjing pemburu.


Walaupun sekujur tubuhnya dingin karena efek penggunaan skill beratribut es tanpa jeda, tatapannya panas kepada monster yang dadanya bolong di hadapannya, membayangkan kalau mayat tersebut adalah Raja Dion.


"Oh! Orang baru!" Salah satu anggota rombongannya berseru.


Terdengar seperti penambahan hukuman bagi Ellijah.


"Oh, Ratu Isabel dan Putri Eve!" Yang lain pun langsung heboh.


Begitu juga Ellijah yang suasana hatinya mendadak berbalik 180 derajat. Senyumnya merekah.


Ratu Isabel muncul dari balik dinding, masih elegan dengan gaunnya yang megah. Disusul oleh si penjinak monster dan naga cilik yang familiar. Dan akhirnya, Eve.


Tunggu dulu!


Ellijah berlari secepat mungkin menuju tunangannya itu, jas yang selama ini ia anggap sebagai penghambat gerakan kini diikat mengelilingi pinggang Eve, menjadikannya sebagai kain tambahan untuk menutupi kaki Eve yang terekspos.

__ADS_1


Hanya dia yang boleh melihatnya.


__ADS_2