Hellbent

Hellbent
Bab 6: Level Up!


__ADS_3

Masih ada yang menganggu Ava mengenai cara kerja [System] ini, lebih tepatnya peningkatan level. Untuk beberapa kali perburuan selanjutnya pun ia masih menetap di level 1. Sedangkan berdasarkan buku yang ia baca, peningkatan level seharusnya terjadi setiap kali seorang individu mendapatkan pengalaman, entah itu dari kegiatan sehari-hari atapun melawan monster. Menaikkan level dari 1 menuju 2 dinyatakan sangat mudah, namun meningkatkannya lagi akan butuh usaha yang lebih karena tingkat kesulitannya naik secara eksponansial, sehingga level up dari 2 ke 3 akan sangat berbeda dengan 99 ke 100. Namun Ava saja tidak bisa merubah angka levelnya menjadi 2, apalagi ke tingkat yang lebih tinggi. Untungnya status poin yang ia dapat masih tersimpan, dan setelah mengutak-atik sendiri layar statusnya berdasarkan apa saja yang Ava tahu, sekarang ia sudah bisa mengalokasikan status poinnya ke aspek-aspek yang ingin ditingkatan.


Nama : *** ******


Ras/tribe : Manusia


Level : 1


Kekuatan : 5


Kecepatan : 2


Kelentukan : 2


Kecerdasan     : 2


Indra : 2


Poin status : -


Skill : Observation (innate) (level 2)


543 koin


Dan meskipun level individunya tidak bisa meningkat, level skill-nya kini menjadi 2. Upgrade ini membawa fitur baru, contohnya ia menggunakan kemampuannya kepada River sekarang. Yang akan ia lihat adalah hal seperti ini.


Nama : River Doyle

__ADS_1


Ras : Manusia


Level : 43


590382 koin


Pantas saja dulu River menolak koin pemberiannya sebagai ganti mengurus bangkai monster yang Ava bunuh sekaligus repot-repot menjualkannya, dia sendiri sudah kaya rupanya. Namun kalau begitu kenapa ia sangat rajin berburu bersama Ava? Apa dengan alasan yang sama ia mengikutinya selama ini, yakni menjaga gadis itu? Kalau memang seperti itu Ava sudah tidak akan kaget lagi untuk ke depannya, sifat River memang sebaik itu ..., atau dia hanya tidak punya kegiatan lain dan memutuskan untuk melekat padanya guna mengusir kebosanan.


Ava berjongkok, di sampingnya terdapat seekor mayat Horned rabbit yang masih berdarah-darah, namun manik hitamnya berfokus pada lengkungan tanah liat sedalam satu sentimeter akibat dari tinjunya sebelum ia menambahkan status poinnya ke kekuatan, kemudian atensinya beralih ke lengkungan yang baru saja ia buat, dengan hanya menambah 4 poin, kedalamannya mencapai lima sentimeter. Secara teori memang dijelaskan bahwa poin bisa mengubah fondasi dasar manusia, namun Ava masih skeptikal mengenai hal tersebut, mengingat level-nya yang tidak bisa naik, tapi kalau begini ... bukankah menjadi keuntungan? Dengan keadaanya yang hanya bisa menetap pada level 1 tanpa menganggu fitur dari [System] yang lain, ia bisa mengumpulkan status poin sebanyak mungkin dengan tingkat kesulitan yang paling mudah.


Bisa dibilang eksistensinya sendiri adalah bug dalam dunia yang masih asing itu.


Menyadari kenyataan itu, senyum bisnisnya nampak meskipun tidak ada orang yang ingin ia tipu di hadapannya.


***


“Kenapa kau penuh luka sekarang?!” Pria itu melangkah besar-besar, hampir berlari. Kemudian tangannya menarik lembut kedua lengan Ava yang tergores dengan noda merah di kausnya dan disertai dengan bau anyir, terlebih pada luka di pinggangnya yang lebih parah.


“Luka seperti ini kan biasa kalau sedang berburu,” balas Ava menggunakan nada yang monoton, ia tergoda untuk menambahkan “Duh!” di akhir, tapi dibatalkan karena sepertinya keputusan itu bukan hal yang bagus.


“Tapi kemarin-kemarin kau baik-baik saja. Apa ada monster yang terlepas dan mencoba menyerangmu?” Meskipun gesturnya jelas-jelas menujukkan keberangan, nada River tetap halus.


“Kurang lebih seperti itu,” jawab Ava setengah hati, berbohong. Karena kali ini Ava mencoba melawan Horned rabbit secara langsung menggunakan pisau untuk mengetes kekuatan dan kecepatannya yang bertambah. Pertarungannya sengit, walaupun ia sudah menghapal pola serangan makhluk tersebut, kehadiran Horned rabbit lain juga menjadi variabel kekalahannya. Sehingga meskipun Ava keluar sebagai pemenang, goresan hasil keroyokan mereka terjejak jelas di tubuhnya.


Tapi tentu saja Ava menyiapkan sesuatu sebagai rencana cadangannya. Dalam sebuah halaman pada buku yang diberikan Eve, ia menemukan judul “Obat luka goresan”.


Aloe vera yang dicampur darah Troll rebus dengan perbandingan 1:1 akan dapat menyembuhkan luka gores, keefektifan bergantung pada seberapa besar luka yang akan disembuhkan. Luka gores kecil dapat hilang dalam beberapa jam, sedangkan yang besar bisa sembuh dalam kurun waktu 1-2 hari apabila perawatan dilakukan setiap 6 jam sekali.

__ADS_1


Membeli lidah buaya beserta darah Troll sangatlah mudah dilakukan dengan fitur [Shop], item akan dikirim otomatis ke [Inventory], namun ia harus tetap berhati-hati jika saja terdapat penipuan ataupun kualitas barang terbilang buruk.


Ava memperlihatkan bahan-bahannya kepada River, “Aku sudah memiliki bahan untuk menyembuhkan luka seperti ini.”


River yang langsung paham, segera berujar, “Meskipun kurang efektif dibandingkan healer yang hanya butuh beberapa detik, ramuan herbal  memang manjur. Baiklah, kubantu sini!”


Merebus darah Troll yang mempunyai skill regeneratif yang tinggi, masih dengan kerutan di dahinya, River juga menolong dalam mengumpulkan gel lidah buaya, mencampur, bahkan mengoleskan ramuan tersebut. Walaupun Ava berniat untuk melakukannya sendiri, tidak ada untungnya menolak bantuan dari pria itu.


***


“Aku mengerti bahwa kau khawatir, tapi luka ini tidak akan membuatku mati,” kecuali jika aku terkena infeksi, lanjut Ava dalam pikiraannya saja, tentu saja tidak akan ia utarakan untuk memperburuk keadaan.


“Tapi tetap saja, seorang pasien harus tetap istirahat!” sahut River, keras kepala.


Namun Ava tidak kalah, “Kalau kau memang tidak mau, aku bisa pergi sendiri. Lagipula Tezia hanya tinggal beberapa kilometer dari sini.”


Merasa bahwa ia tidak bisa lagi membujuk gadis di depannya, River menyerah. “Baiklah, setelah makan kita berangkat.” Ava dapat melihat bahwa pria itu menyendok supnya lebih kasar dari biasanya, mengingat River adalah satu-satunya objek yang bisa ia amati beberapa hari ini, ia sudah menghapal beberapa kebiasan kecil yang Rover lakukan saat marah, berpikir, maupun sedih. Saat marah gesturnya menjadi gusar meskipun suranya tetap halus, ketika berpikir ia akan menyipitkan matanya dan memandang pada kekosongan, sedangkan sewaktu sedih ia akan melihat ke lantai,  diam.


Setelah menghabiskan makan siang, mereka segera pergi menuju gerbang masuk kota Tezia. Meskipun River mengendalikan Lig untuk berjalan lebih lambat dari biasanya, akhirnya kedua orang itu sampai pada tujuan mereka ketika cincin ungu kemerahan bulan memunculkan ujungnya.


Sebagai ibu kota, Tezia memang benar-benar ramai. Jembatan seluas 15 meter dikali ratusan meter panjang, dipenuhi oleh dua baris berbagai kendaraan yang ingin memasuki kota tersebut. Mulai dari andong umum, kereta pedagar, hingga penjelajah yang menggunakan kuda, semuanya mengantri untuk diijinkan masuk setelah para prajurit memeriksa identitas mereka, berbeda dengan kota-kota kecil sebelumnya.


Ah.


Sekarang Ava harus berpikir keras untuk melewati penjagaan tersebut. Selain ia tidak memiliki kartu identitas, layar statusnya juga sangat mencurigakan dengan nama yang hingga saat ini entah kenapa disensor.


Hm.

__ADS_1


__ADS_2