Hellbent

Hellbent
Bab 102: Rapat Darurat


__ADS_3

Keesokan harinya, rapat darurat dilaksanakan untuk membahas insiden ledakan kemarin. Raja Dion segera mengumpulkan barisan bawahannya beserta tokoh-tokoh penting lain. Marvin dengan sukarela menjadi kepala investigator. Ava yang berperan sebagai Putri Eve dan Duke Frost juga diikutkan karena keterlibatan mereka dalam kejadian langsung. Setelah memberi salam hormat kepada orang dengan status paling tinggi di ruangan itu, sang raja, rapat dimulai dengan suasana serius dan muram.


Marvin segera menjelaskan temuan yang dihasilkan dari penyelidikan. Mengingat masih baru kemarin tragedi tersebut terjadi, tim yang dibentuk kerjanya cepat sekali. “Dari lima lokasi insiden, kami menemukan bekas serpihan artifak dari bahan tembaga di antara reruntuhan bangunan. Jejak mana yang tertinggal di tempat kejadian mengindikasikan mana beratribut api dan udara yang menjadi pemicu ledakan yang ada. Hal ini juga berkaitan dengan percobaan penyerangan terhadap Putri Eve dan Duke Frost ketika dalam perjalanan kembali ke istana.” Salah satu staf mage yang hadir memperlihatkan gambar yang diambil sebagai bahan bukti, termasuk juga artifak familiar yang hampir merenggut nyawa Ava jika saja ia tidak menggunakan skill observasinya.


Namun meski Marvin tengah mencoba memaparkan, salah satu bangsawan di sana tidak bisa sabar. Count Wildingham, salah satu pendukung faksi bangsawan yang Ava temui di pesta dansa dua malam yang lalu. “Bagaimana pengecekan keamanan dari prajurit istana sampai-sampai mereka tidak mendeteksi tanda-tanda tragedi kemarin?!” pria itu menggebrak meja, tangannya seringan yang dirumorkan.


Selain merupakan kejadian yang disayangkan karena korban nyawa serta materi yang besar, tindakan terorisme ini pun seolah menjadi tamparan pedih ke reputasi keluarga kerajaan, terlebih ketika Edodale seharusnya merayakan hati berdirinya ke 1500 tahun. Sebab itulah, faksi bangsawan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengkritisi secara tidak langsung kerja monarki, kalau hasilnya menurunkan kekuasaan sang raja malah lebih bagus lagi. Mereka masih belum berani secara langsung mencela keluarga kerajaan, Marquess Terelui—yang kini menjadi rakyat jelata semenjak status kebangsawanannya dicabut akibat tindakan ceroboh putrinya, jelas-jelas masih membekas sebagai peringatan agar faksi bangsawan tidak macam-macam dengan faksi royalti.


“Ehem, Count Wildingham, harap tenang dulu. Pangeran Marvin masih menjelaskan,” Raja Dion berdehem, mengawasi gerak-gerik setiap orang di sana dengan matanya yang tegas. Memang apa yang dilakukan Count Wildingham bisa saja dianggap sebagai tindakan yang tidak sopan di hadapan raja, akan tetapi situasi yang ada tidak mendukung Raja Dion untuk menegurnya lebih lanjut.


“Pengecekan keamanan serta pengawasan dilaksanakan dengan seoptimal mungkin. Akan tetapi modus operandi yang dilakukan oleh pelaku ialah dengan meledakkan artifak yang mereka bawa bersamaan dengan diri mereka sendiri, dengan kata lain bom bunuh diri. Karena ramainya tempat kejadian karena penduduk serta turis yang berkunjung di festival, para pelaku dengan bebas melebur dalam kerumunan.” Jawaban yang diberikan Marvin jelas sekali menunjukkan kurangnya pengalaman pangeran tersebut dalam perang politik. Walaupun apa yang ia ucapkan adalah fakta konkret hasil investigasi, Raja Dion nampak tidak puas, sedangkan pihak lawan terlihat semangat untuk merewelkan responnya. Jadi Ava bertindak terlebih dahulu. “Apa identitas pelaku sudah ditemukan?” tanyanya, memutus alur dialog sebelumnya. Kini sudah terlambat apabila ada yang mengkomplainkan tindakan pencegahan yang kurang.


“Berkat Putri Eve dan juga Duke Frost yang berhasil menangkap salah satu pelaku percobaan tindakan terorisme, kami mendapatkan petunjuk signifikan mengenai asal mereka.” Sebuah logo terpampang dalam hologram sihir, mata yang dikelilingi tujuh lingkaran serta lekukan-lekukan kompleks.


Semua orang yang hadir kecuali Ava langsung terkesiap.


“Tidak mungkin!”

__ADS_1


“Astaga!”


“Jangan bercanda!”


Rapat mendadak riuh. Bisikan cemas dan khawatir mendengung layaknya lebah di ruangan tersebut. Ava sebenarnya tidak paham betul arti logo itu, akan tetapi melihat reaksi refleks yang bercabang dari ketakutan dan penolakan semua orang, ini artinya kabar buruk.


“Harap tenang!” Sekali lagi Raja Dion angkat bicara, pandangannya lebih keras dari sebelumnya.


Barulah ketika orang-orang di meja rapat berhasil mengendalikan diri, Marvin meneruskan penjelasannya. “Benar. Seperti yang Anda ketahui, ini adalah logo yang dipakai oleh para iblis yang merusak dunia ratusan tahun yang lalu.”


Ah, Ava paham sekarang. Iblis, dengan kata lain musuh terbesar dunia.


“Meskipun ini adalah logo yang para iblis pakai sesuai dengan buku sejarah yang kita ketahui, bukan berarti ini adalah pertanda munculnya iblis. Kami lebih percaya kalau terdapat kelompok radikal pemuja iblis yang dengan sengaja meneror penduduk kerajaan Edodale demi membangkitkan rasa takut.” Argumen Marvin ada benarnya, atau opini seperti itulah yang lebih menenangkan hati mereka, jadi partisipan rapat lebih banyak yang mengangguk paham.


Namun berbeda dengan Ava, gadis itu melirik Ellijah yang duduk denga tegak lurus di sebelahnya. Jendela status pria itu memiliki “kontraktor iblis” dalam kolom rasnya.


Kontraktor iblis, dengan kata lain orang yang terikat kontrak dengan iblis, setidaknya begitulah definisi yang Ava buat. Apakah itu artinya Ellijah pernah bertemu langsung dengan iblis sampai mereka berhasil membuat kontrak? Bukankah itu artinya memang benar kalau iblis sudah turun ke dunia fantasi ini?

__ADS_1


Dan jika mereka sudah turun, akan segera ada bencana besar, bukan?


... Diingat-ingat, Ava mengingat kekhawatiran Ib mengenai kumpulan fenomena-fenomena aneh yang terjadi dari beberapa bulan lalu. Outbreak yang lebih sering terjadi, monster-monster yang bermunculan tidak pada habitat asli mereka, serta desa yang terkena wabah zombie. Belum lagi insiden ledakan kemarin.


Ava tidak bisa langsung menyimpulkan kalau semua itu disebabkan oleh perbuatan iblis hanya karena perkara yang kebetulan cocok. Setidaknya dia harus menyelediki secara menyeluruh dan detail sejarah mengerikan yang disebabkan oleh perang dengan iblis ratusan tahun yang lalu.


...


Eh, tapi kalau dipikir-pikir lagi, hal-hal tadi bukan urusannya, bukan?


Tujuan utama Ava bersedia tinggal di sini adalah agar ia mendapatkan item yang dijanjikan sehingga ia bisa pulang ke dimensi asalnya, bukan mengurusi dunia lain.


Selain berperan sebagai putri kerajaan, Ava tidak harus turun tangan.


Akan tetapi, sayangnya pikiran santai gadis itu harus ditolak oleh realita.


Di akhir rapat, Raja Dion sendiri yang memberinya instruksi, “Melihat situasi genting sekarang, Putri Eve berniat untuk menenangkan masyarakat dengan inovasinya, benar?” Ava tahu kalimat seorang raja bukanlah permintaan, melainkan perintah. Lagipula dalam daftar tugas yang harus ia kerjakan sebagai putri, nomor pertama yang dituliskan langsung oleh Eve adalah “Mewujudkan visi kerajaan, raja utamanya”. Dengan kata lain, menurut.

__ADS_1


Jadi meskipun secara internal Ava bergetar, entah karena cemas atau marah, dari luar yang nampak hanyalah Putri Eve yang mengangguk enteng dan berkata, “Baiklah, Yang Mulia.”


__ADS_2