Hellbent

Hellbent
Bab 121: Hukum Tidak Populer


__ADS_3

Apa yang terjadi otomatis menarik perhatian orang lain.


"Am-puni saya--!" Mage itu bingung bukan kepalang mau memanggil bocah beastman itu dengan sebutan apa. "Beastman yang terhormat!"


Ava mendengus mendengar panggilan tersebut. Namun itu bukanlah prioritasnya. Ia mengelus lagi punggung Lorah yang sekarang sudah tenang.


Omong-omong, dimana Dom?

__ADS_1


"Loooorah!" Baru saja dipikirkan, orangnya muncul. Dom susah payah melewati kerumunan bersama badannya yang besar, sesampainya di depan Ava dibanjiri deras oleh keringat, wajahnya sudah memerah, tapi rona mukanya semakin dalam layaknya darah ketika melihat adiknya yang menahan tangis di dalam dekapan gadis yang ia kenali. Dom secara refleks bergerak ingin mengambil adiknya. Akan tetapi langkahnya dihalangi oleh seorang pria, Dom mengetahui pria itu dari koran. "Minggir!"


"Tidak ada yang boleh mendekati Putri Eve dengan seenaknya," Ellijah mendebat, memantapkan posisinya sebagai pengawal sang putri. Dia sebenarnya tahu identitas beastman di hadapannya. Tentu saja, ia sudah melakukan penyelidikan ekstensif mengenai pria-pria yang dekat dengan Eve selama 4 bulan ia keluar dari istana.


Namun, apa yang Ellijah katakan mengundang kontradiksi yang tidak akan menguntungkan bagi argumen yang Ava siapkan. Jadi ia menepuk bahu Ellijah, "Dia adalah kakak gadis ini."


Dom terkejut dengan nada otoratif yang Rina--bukan, Putri Eve, keluarkan. Dulu, meskipun gadis tersebut bertindak seperti pemimpin rombongan mereka, memerintah sana-sini, nada yang ia gunakan tidak merendahkan, dan Dom, River, serta Lorah menurut karena pemahaman mutual bahwa yang Rina minta memang diperlukan. Sepertinya apa yang dikatakan orang-orang memang benar. Foto yang ia lihat adalah gambar seorang putri kerajaan. Ketika Dom melirik sedikit, ia bisa melihat seorang mage yang hampir mengubur seluruh wajahnya ke tanah dan anggota mage lain yang berusaha menjaga jarak sejauh yang mereka bisa untuk mengindikasikan kepasrahan, tidak ikut campur dalam urusan ini.

__ADS_1


Ava mendongak melihat kawan lamanya tersebut. Ia kemudian mengangkat Lorah, Dom menerima sigap adiknya. Ramuan penyembuh muncul dari inventori Ava, terdapat upgrade karena bahan-bahan langka serta mahal yang bisa ia dapatkan dengan mudah sebagai Eve. Uang dan status memang membuka jalan dan kesempatan yang lebih banyak. Menggunakan sapu tangan yang ia minta dari Rose, ia menuangkan ramuan tersebut, lalu mengeluskannya lembut ke pada pipi Lorah yang bengkak dan merah, serta lutut yang berdarah. "Lorah, apa yang kau ingin lakukan untuk menghukum dia?" disela-sela pengobatan, Ava bertanya kepada gadis cilik tersebut menggunakan intonasi halus.


Ia tahu kalau hukum internasional telah melarang diskriminasi antar ras, hukuman pelanggaran bervariasi karena ditentukan masing-masing oleh penguasa daerah itu, mulai dari denda, cambuk, bahkan masa kurungan. Sayangnya untuk spesifik hukum di Oranera, Ava belum membacanya. Mungkin karena ketidakpopuleran tersebutlah yang membuat hukum anti-diskriminasi merajalela.


Lorah masih diam, ia hanya ingin segera menangis dan pergi dari situ. Ia mengeratkan rangkulannya pada leher kakaknya. Di sisi lain, Dom marah dan frustasi, lebih banyak bingung. Baru kali ini ia berada di posisi menang, menentukan hukuman sesuka hati saat kejadian buruk terjadi, menunjukkan kekuasaan baru yang muncul dari koneksi yang miliki.


Mungkin karena inilah manusia tergila-gila dengan status dan kekayaan, meskipun kedua tersebut bukan bersumber dari mereka sendiri, mereka akan mencari orang lain untuk memenuhinya.

__ADS_1


"Hanya-- Jangan muncul lagi di hadapan kami! Lalu jangan seenaknya memukul orang lagi!" Dom lantang dan keras. Hatinya sakit karena apa yang ditimpa oleh adiknya, sekarang sedikit terobati karena kehadiran rasa kepuasan baru, ia bisa saja ketagihan.


__ADS_2