Hellbent

Hellbent
Bab 48: Bala Bantuan


__ADS_3

Meskipun kespektisisan mereka masih kental, Dom dan Ib mau tak mau harus mengakui kalau ramuan yang dibuat Rina itu manjur. Melihat kemampuan perempuan manis tersebut membunuh banderhobbs dengan level di atas 80 merupakan bukti itu sendiri. Mereka pun yakin, Rina memiliki level melebihi monster yang dilawannya.


Saat seumuran Rina, Ib hanya memiliki level 40-an meskipun dia bertarung serta berlatih dengan rajin. Di sisi lain, Dom merasa masih lebih lemah dari gadis itu, meskipun secara fisik ototnya lebih gempal, tubuhnya dua kali lipat lebih besar, beastman juga sebenarnya terkenal karena kekuatan mereka yang lebih besar secara lahiriah, itulah satu-satunya alasan yang Dom terima dalam hati ketika dia dan adiknya diperlakukan berbeda, karena para manusia itu sebenarnya iri seperti pamannya.


Namun bertambah lagi poin Rina yang membedakan gadis tersebut dari manusia yang lain. Saat dia dan adiknya ada di desa, mereka dipandang seolah seperti aib, orang aneh. Tidak berbeda saat mereka ada di perkotaan manusia, sorot merendahkan dan jijik hampir selalu membuat Dom naik pitam dan ingin menerjang siapa saja. Jadi dia hampir kaget dengan sikap acuh tak acuh dari Rina, melenceng dari River yang sepenuhnya mengerti dengan perbedaan spesies mereka meskipun pria itu tetap berperilaku baik. Dan kini, perempuan yang mengaku sebagai seorang herbalis itu memiliki level yang jauh lebih tinggi darinya meskipun mereka sepantaran? Seorang ranker yang tidak resmi dengan usia semuda itu?


Pasti ada rahasianya.


Sehingga, ketika Rina dengan lihai mempromosikan ramuan pengganda EXP yang ia buat, otak Ib dan Dom secara otomatis mengkonfirmasi kecurigaan mereka. Item itulah yang membantu Rina menaikkan level.


Tapi tetap saja, dalam sudut pikiran mereka masih bertanya-tanya, bagaimana ada orang yang bisa membuat ramuan yang mengintervensi [System] itu sendiri, program yang dibuat oleh [The Developer], ciptaan Tuhan Besar?


Walaupun tidak ada salahnya mencoba, mereka berani meresikokan keringat mereka menjadi darah jika itu artinya level mereka akan dengan cepat naik. Jadi mereka membeli 10 botol masing-masing, Ib untuk mempermudahnya melewati dinding tak kasat mata yang menghalangi jalannya dalam leveling-up, dan Dom untuk dibagi kepada adiknya agar mereka cepat-cepat menjadi ranker yang disegani.


Sukses besar dalam penjualannya, Ava tersenyum cerah.

__ADS_1


Tidak lama kemudian sarapan mereka terganggu dengan keributan di luar restoran kecil di pulau yang sementara mereka singgahi, dari kaca jendela yang berdebu mereka dapat melihat sebuah kapal besar dengan bendera biru bersimbol elang emas terparkir di pelabuhan pulau yang fungsi sebenarnya adalah tempat tinggal kapal nelayan. Barisan orang-orang berbadan tegap dengan tiga seragam yang berbeda turun secara rapi dan sistematis. Si kapten dan staf kapal menyambut mereka dengan formal.


"Prajurit kerajaan Igoceolon, Guild Canthan, dan Guild Kryli," Ib berbisik, lebih kepada dirinya sendiri, tapi Ava mendengarnya dengan telinga yang sensitif. Seperti yang diharapkan dari seorang veteran, si ranker mengenali setiap seragam yang dikenakan.


"Sepertinya besok kita akan berangkat lagi," River bergumam rendah. Ava mengangguk setuju, "Setengah dari staf kapal akan tetap tinggal di sini untuk melanjutkan pencarian orang yang hilang bersama bala bantuan yang baru saja datang, sisanya kemungkinan besar akan mengikuti kita untuk melanjutkan perjalanan karena tekanan pihak para bangsawan yang masih mengikuti perjalanan."


"Rempong sekali mereka," Ib lah yang paling keras tertawa dengan komentar Dom. "Yah, orang seperti mereka kan tidak pernah paham dengan konsep bahaya, cara mereka untuk menaikkan level saja tidak pasti dijamin keamanannya. Dengan membeli monster yang sudah terbius, tugas para bangsawan hanyalah menancapkan pisau yang dilumuri racun mematikan, beberapa detik saja monster yang dibeli akan mati dan level mereka naik." Ava paham, dia bahkan pernah membunuh satu gorila yang sudah dibeli bangsawan.


"Pengecut seperti mereka tidak akan selamat jika dilemparkan ke dalam gate," Dom menyeletuk lebih pedas lagi, tidak disaring.


"Orang kaya pastilah memiliki artifak pertahanan yang mahal, setidaknya mereka bisa kabur jika nyawa mereka terancam," Ava mengingatkan, kekuasaan seorang bangsawan tidak hanya berasal dari status, tapi juga uang.


"Um, kalian sebaiknya lebih berhati-hati, tidak hanya ada kita yang ada di sini," meskipun kikuk, ucapan River ada benarnya. Pulau kecil yang mereka singgahi tidak memiliki banyak restoran yang layak, jadi setengah penumpang akan tetap makan di kapal, sedangkan sisanya mencoba kuliner lokal. Selain itu, meja mereka yang berisi sepasang kakak-beradik beastman, penjinak monster, penerima medali emas, serta seorang ranker pastilah menarik perhatian, tanpa ada yang memastikan kalau siapapun yang mendengar mereka tidak akan melaporkan.


"Ah, tidak apa-apa, aku memasang artifak penghalang suara, jadi tidak akan ada yang mendengar pembicaraan kita," Ib menenangkan, terlihat terbiasa dengan pola seperti ini. Mempunyai kenalan berlevel tinggi ada keuntungannya juga.

__ADS_1


Jadi mereka berbincang sepuas hati, terutama Dom dan Ib yang sekarang nampak bebas dengan raut ceria, menjelek-jelekkan siapa saja yang keduanya inginkan. Dendam pria-pria tersebut terpampang dari setiap cerita yang mereka lontarkan. Ib dengan perlakuan seenaknya dari keluarga donaturnya, serta Dom yang dengan bangga memaparkan perkelahiannya ketika dia dan Lorah didiskriminasi.


Setelah dua jam "berunding", artifak yang dipasang Ib kehabisan daya. Semuanya pun bangkit untuk kembali ke kapal. "Hei, kau!" Namun teriakan kencang dari pintu masuk mengagetkan mereka, apalagi Ava yang telinganya seketika berdenging.


Seorang pemuda dengan kulit putih dan mata sipit berjalan cepat ke arah mereka, setengah berlari. Hanya Ava yang tahu identitas pria itu. Gu Hao. Pemburu maniak, genius asli, ... orang mabuk. Levelnya sudah menjadi 16, perkembangan yang sangat pesat.


Hao berhenti tepat di hadapan Ava, memandangi gadis itu lekat-lekat, membuka mulut, menggeleng, kemudian mengangguk-angguk. Tidak jelas. River memandangi dengan heran. Ava masih tutup mulut, tidak akan menjelaskan historinya dengan pemuda tersebut.


Untuk beberapa detik tidak ada yang mulai bicara. "Apaan?" Kecanggungan akhirnya dipecah oleh Dom yang bertanya, meskipun nadanya lebih terdengar seperti ajakan untuk berkelahi.


Mendadak Hao merapikan diri, kedua tangan bersidekap di perut, ia mengambil napas panjang, "Tolong jadilah kekasih saya!" Kali ini seisi restoran yang terdiam, syok dengan pernyataan pemuda yang membungkuk 90 derajat itu.


... Apa?


Ava tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


__ADS_2