Hellbent

Hellbent
Bab 71: Target


__ADS_3

"Apa kau melihatnya?" Yong berujar dengan berat, masih terduduk di posisinya. Matanya tajam mengamati dengan teliti pergerakan-pergerakan di arena dari awal mulainya duel.


"Gadis itu tidak memiliki fondasi, meskipun terlihat efektif, pola gerakannya tidak bisa diprediksi," Rai membalas sama seriusnya.


"Itu artinya, Rina belajar bertarung secara otodidak dan sudah berpengalaman."


"Karena itulah dia lebih fleksibel dalam menghadapi lawan."


"Benar, gadis itu beradaptasi dan berkembang setiap detiknya dalam duel tadi."


Ketua dan wakilnya itu saling melirik, kemudian berbarengan mengangguk. Canthan adalah guild terhormat yang menempati posisi atas dalam ranking dunia, jadi mereka tidak sembarangan ketika merekrut anggota. Sudah seminggu lebih Hao menekan keduanya untuk segera menjadikan Rina sebagai bagian dari mereka. Namun popularitas dalam satu insiden tidak cukup meyakinkan mereka, apalagi jika hanya mengandalkan cerita atau rumor yang bisa saja dibesar-besarkan. Mereka membutuhkan bukti.


"Untuk pertama kalinya, Hao memberikan saran yang berguna." Yong melewatkan nada masam dari pernyataan Rai, sudah terbiasa dengan sikap ketidaksukaan pria itu terhadap adiknya. "Tapi kita harus merevisi kontrak terlebih dahulu." Awalnya mereka hanya berniat melakukan perjanjian eksklusif dengan Rina untuk menjadi penyedia obat, melihat mujarabnya salep penyembuh yang ia jual sebagai stok di kapal. Namun kini mereka yakin, bulat dengan keputusan untuk mengikat Rina sebagai anggota resmi guild Canthan.


"Lebih cepat lebih baik, aku yakin banyak lagi orang yang akan menyaksikan kemampuan perempuan itu."

__ADS_1


***


"Bacakan padaku," erang Ellijah dengan rahang yang mengerat.


"Gu Hao. Putra bungsu dari keluarga Gu yang dijuluki sebagai genius abad ini karena keahlian pedang sekaligus keambisiusannya. Telah berperan secara signifikan dalam misi-misi yang Guild Canthan berikan kepadanya. Hubungan dengan Nona Weinhamer, terdapat saksi yang menyatakan kalau Gu Hao pernah melamar Tuan Putri di depan publik," Tuuq, pelayan setia Ellijah, menghantarkan kalimat dengan lancar. Meskipun sepertinya tuannya itu tidak begitu senang dengan informasi yang ia berikan.


"Melamar," Ellijah pun menyembur geram, untung saja artifak peredam suara yang mereka pasang membuat orang-orang di sekitar mereka tidak mendengar apapun. "Berani-beraninya dia." Meskipun tubuhnya bergetar berang dan panas, kepalanya tetap dingin, memikirkan hukuman. Tontonan tadi masih membekas, bahkan terbakar di retina matanya. Eve dan Hao terlalu dekat, bahkan tunangannya itu menempatkan pria bajingan tersebut tepat di bawah naungannya.


Apakah Hao adalah orang brengsek yang mencegah Eve untuk pulang selama ini?


Apa karena dia Ellijah masih belum dimaafkan meskipun sudah memenggal wanita tidak tahu malu yang mengaku-aku mengandung anaknya?


Jadi si keparat itu biang masalahnya?


Kalau Hao menghilang, bukankah Eve akan segera kembali ke istana?

__ADS_1


Kalau Hao menghilang, Eve akan berada di pelukannya lagi, pastinya.


Kalau Hao menghilang, hubungannya dengan Eve akan kembali seperti semula.


Benar, Hao harus menghilang.


Mendadak Ellijah batuk parah sampai-sampai tenggorokannya terasa tertutup, kepalanya juga pening serta berdenyut-denyut. Sarapan yang setengah hati ia makan pun terancam keluar di bangku penonton yang ia duduki.


Baru tiga hari dia tidak lagi mengonsumsi opium, tapi gejala penarikannya sudah muncul saja.


"Lebih baik Tuan beristirahat dulu untuk saat ini," Tuuq menyarankan.


Ellijah tidak mau beranjak dan kehilangan sosok yang selama tiga bulan tidak pernah ia lihat, tapi pelayannya itu benar, dia butuh istirahat. Namun kemarahannya masih belum reda.


"Panggil pasukan Gagak."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Ellijah akan menghapus Hao dari narasi.


__ADS_2