Hellbent

Hellbent
Bab 113: Insting Seorang Ibu


__ADS_3

"Tinggalkan kami berdua saja." Para pelayan yang tugasnya mengikuti sang ratu telah beranjak, hilang di balik pintu menuju tempat lain.


Karena ajakan Ratu Isabel, Ava dengan mudah menghindari Duke Frost, ia masih malas berhadapan dengan pria itu.


Namun, situasi ini tidak kalah canggungnya.


Sudah beberapa menit lorong istana hanya diisi dengan kesunyian, Ratu Isabel tegak berdiri di depannya dalam diam, memunggungi Ava. Ada urusan apa lagi Ratu dengan Putri Eve? Ava juga masih belum sepenuhnya memahami konteks dari hubungan keduanya.


Dari yang Ava tangkap sendiri, Marvin adalah adik yang mengagumi sekaligus menjadikan kakaknya sebagai rival, sayangnya dikarenakan kemampuan mereka yang tidak setara, terdapat setitik rasa inferior dalam sikap Marvin. Di sisi lain adalah sang raja, tipikal ayah yang memandang anak mereka sebagai pion catur untuk digunakan dalam bidang politik, ekonomi, ataupun militer agar kekuasaannya sendiri terjaga bahkan berkembang. Melihat Raja Dion yang senang bukan kepalang ketika Ava menuruti perintahnya dengan menyediakan bantuan ini-itu, sepertinya Eve seringkali membangkang dan menjadi sumber sakit kepala bagi sang raja. Yah, Ava tidak kaget, orang dengan god-complex tidak mungkin semudah itu patuh. Kalau begitu, kenapa tugasnya dalam kontrak adalah menjadi putri kerajaan yang taat?


Berbeda dengan Marvin serta Raja Dion, Ratu Isabel lebih sulit untuk dibaca. Wanita tersebut tidak pernah banyak bicara, interaksinya dengan Ava juga singkat dan tidak dalam. Dari kesaksian para pelayan yang ia tanyai pun Ava tidak menemukan banyak hal, sehingga informasinya masih belum bisa ditarik kesimpulan. Kalaupun hipotesisnya memaksa, maka Ava harus berkata ... ibu yang pragmatis?


Pada akhirnya, Ava yang membuka mulut terlebih dahulu, "Ada perlu apa, Yang Mulia?" Baru ketika itulah Ratu Isabel menoleh, tapi bukan kepada Ava, melainkan pada bulan yang cahaya ungu cincinnya masih tipis di balik awan.

__ADS_1


"Kau bukan anakku, ya?"


...


Apa?


Seketika Ava terpaku, tapi bukan waktunya untuk diam saat ini. "Saya tidak mengerti maksud, Yang Mulia."


Bagaimana bisa dia tahu?


Kalaupun ada sikapnya yang berbeda dengan Eve, ia bisa beralasan kalau selama 4 bulan ia keluar menjelajahi dunia, dirinya mendapat pencerahan atau semacamnya.


Tapi kenapa, dari semua orang yang ada, penyamaran Ava dibongkar oleh Ratu Isabel, individu yang jarang sekali ia temui selama sebulan di istana?

__ADS_1


Wanita tersebut pun berbalik, wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi kini dihiasi dengan senyum pahit. "Aku tidak berniat memarahi ataupun menghukummu karena sudah berani menyamar sebagai anggota keluarga kerajaan, hanya saja ...."


Untuk sesaat kalimat Ratu Isabel tergantung, kini matanya lah yang berkilat sedih. "Apa putriku baik-baik saja?"


Entah kenapa, hati Ava mendadak berat. Dengan bersusah payah, dia menjaga ekspresinya agar tetap tenang, meskipun ia tahu kalau bibirnya gemetar. "Saya baik-baik saja, Yang Mulia, seperti yang Anda lihat sendiri. Mungkin sedikit lelah karena proyek yang sedang berjalan."


Ava tetap berbohong.


Ratu Isabel tidak merespon dengan kata-kata, hanya tarikan bibirnya yang semakin melebar. Kemudian, dia pergi.


Ava juga terdiam di posisinya.


Pada akhirnya ia mengenali rasa yang menggemuruh dalam dadanya.

__ADS_1


Iri.


__ADS_2