Hellbent

Hellbent
Bab 171: Labirin


__ADS_3

"Kiri, jalur kanan hanya jalan buntu." Perjalanan Ava lebih mulus karena kehadiran Adam yang menjadi pemandunya. Memang, mengetahui jalan-jalan yang buntu tidak membantu banyak kecuali mengurangi waktu yang terbuang. Ava masih saja tersesat, tidak tahu posisi keluar. Omong-omong, pemberitahuan tadi tidak menyebutkan posisi pintu keluar tepatnya dimana. Katanya pintu keluar yang ada berbentuk portal, artinya portal tersebut bisa terletak dimana saja, bukan?


Hal ini sama saja berjalan buta.


Yah, setidaknya Ava memiliki tujuan jangka pendek. Konsumsi. Berjalan selama berjam-jam membuatnya lapar dan haus, monster-monster berlevel rendah yang ia temui menjaga kotak yang hanya berisi pakaian lusuh, pisau berkarat, dan mangkuk kayu yang pecah. Monster yang ia bunuh pun kalau tidak beracun dagingnya, pasti memiliki bentuk tubuh yang menyamai manusia. Ava tidak mau memakan daging kalau hal tersebut membuat ia merasa seperti kanibal. Yah, kalau situasi tidak benar-benar mendesak. Sayangnya juga roti keras yang ia temukan sudah habis, ditambah lagi ia tidak meneguk air sama sekali selama terjebak dalam gate tersebut. Apakah tidak ada peti lain yang isinya bisa mengganjal perut serta memuaskan dahaga?


Hingga akhirnya, Adam kembali setelah menjelajahi area dengan raga tembus pandangnya. "Hei, aku menemukan air!"


Meskipun menyebalkan, Adam ada gunanya.


"Tunjukkan jalannya!" Tanpa pikir panjang, Ava langsung berlari, menyamai kecepatan hantu yang melayang.


Sampailah gadis itu di depan sebuah danau. Airnya sangat jernih, berkilauan bahkan. Namun itulah yang membuat Ava tidak lagi mendekat. Pemandangan di hadapannya amat tidak cocok dengan lingkungan sekitar. Apabila ia maju satu langkah saja, kaki tanpa alasnya akan disambut dengan bantalan rumput yang lembut, bunga berwarna-warni yang tumbuh liar, serta badan air yang seolah mengundangnya untuk berenang. Itu semua seratus delapan puluh derajat dengan area yang selama ini ia lalui. Lantai hanya berupa tanah liat yang lembab, batu serta kerikil menghalangi jalan, dan tentu saja dinding pemisah berlumut.


Apakah danau ini adalah "safe zone" yang pernah ia dengar? Atau malah jebakan?


Untungnya, terdapat orang lain yang menguji dua asumsi tersebut.


"Akhirnya!" Seorang pria berteriak bahagia dari sisi dinding terbuka yang lain, Ava mengenalinya sebagai salah satu orang yang berada dalam faksi bangsawan. Pria itu berlari sekencang mungkin hingga tubuhnya condong, hampir terjungkal. Dia berlutut, mengambil air danau dengan tangkupan tangannya.


Hm, mungkin Ava hanya paranoid? Pria itu baik-baik saj--


Guahm!


Dalam sekejap, tidak ada yang tersisa dari bangsawan tersebut. Tubuhnya tertelan bulat-bulat oleh monster yang sekilas muncul. Danau misterius itu masih saja tenang, bahkan tidak riak air di permukaannya. Kalau saja bukan karena jejak rumput yang masih segar, Ava akan berpikir kalau ia hanya salah lihat.


"Um, sebaiknya kita tidak dekat-dekat."


Ava sepenuhnya setuju dengan Adam. Ia masih bisa menahan haus, selain itu manusia bisa bertahan tanpa makanan hingga 21 hari. Dirinya akan baik-baik saja ... mungkin.


Kalau jalan yang nampak damai ternyata berbahaya, Ava mengambil arah yang berlawanan. Tidak lama kemudian, ia ditelan oleh kabut lembab.


Mungkin dirinya semakin dekat dengan portal keluar, karena halangan yang menghadangnya makin beragam dan riskan. Contohnya embun ini, bahkan dengan indra yang disetel hingga 100%, jarak pandang Ava hanya mencapai 10 meter saking tebalnya.


"Apa kau bisa melihat sesuatu?" Ava berbisik. Dengan penglihatan yang terbatas, siapapun yang terperangkap di dalam kabut tersebut pasti akan mengandalkan telinga mereka sama seperti Ava.


"Kau aman untuk berjalan lurus." Gadis itu semakin jarang membalas petunjuk Adam. Semakin lama mereka terjebak di antara embun senyap, semakin natural Ava dan Adam dalam membisu. Rasa was-was tinggi mereka juga maksimal terpasang. Suara sesunyi apapun membuat Ava mengeratkan genggaman pisaunya.


Salah satu situasi yang ia benci, kekurangan informasi.


Dia tahu kalau monster danau terlalu cepat untuk Ava lihat, karena itulah ia menghindar. Namun bagaimana dengan monster yang mengintai dalam kabut ini? Apakah Ava yakin bisa menanganinya? Bagaimana jika jalan ini malah yang lebih berbahaya? Apakah dia salah mengambil keputusan? Bukankah setidaknya danau tadi memiliki air yang bisa ia minum?


Kesenyapan malah mengundang paranoia bising Ava.


Gadis itu mempercepat langkah sebelum termakan cemas.


"Belok kanan, jangan lurus!"

__ADS_1


Ah.


Lagi-lagi dia begini.


Bukan saatnya untuk bertingkah ceroboh karena mental yang tidak stabil, Ava.


Plak!


"Ap-- Apa yang kau lakukan?!"


Sensasi nyeri yang membakar menyadarkan Ava.


Semua usahanya untuk pulang ke dimensi asal akan sia-sia jika ia mati di sini.


Labirin penuh monster, asalkan bertingkah hati-hati, dia pasti akan selamat.


Dipenuhi tekad serta rasa optimistik baru, Ava kembali mengikuti Adam yang melihatnya dengan mata khawatir transparan. "Kau baik-baik saja?"


Gadis itu memberinya gestur agar melanjutkan arahan. Si hantu mengangguk paham walaupun masih dipenuhi kebingungan. Gadis itu menjadi gila atau apa?


Sret! Sret! Sret!


Tiba-tiba rentetan bunyi yang makin mendekat terdengar, seolah ada yang menyeret sesuatu di tanah. Ava dan Adam langsung memutar badan, memasang kuda-kuda sembari berjalan mundur tanpa suara. Monster?


Sret! Sret!


Sret! Sret! Sret!


Semakin dekat, siluet yang ada lebih mirip dengan otonomi manusia. Tapi ada banyak monster humanoid, bukan?


Sret!


Makin dekat.


Sret!


"Lorong istana dan labirin ini sama-sama membuatku bingung."


Untungnya sebelum Ava memutuskan untuk melempar pisau, ia mendengar suara yang familiar. "Yang Mulia Ratu Isabel?" panggil gadis itu lirih.


"Hm? Putri Eve?"


Sret! Sret! Sret!


Dan benar. Sosok yang muncul dibalik kabut ialah Ratu Isabel, yang masih memakai gaun megah panjang hingga menyapu lantai.


Pertama-tama, Ava terkesan. Meskipun terhisap gate tidak termasuk dalam rencananya, Ratu Isabel masih dapat mempertahankan penampilan anggun serta rapinya. Riasannya sempurna, tidak ada rambut yang secara liar keluar dari tatanan sanggul sang ratu. Selain itu, walau menyeret tanah, pakaian yang ia pakai tetap bersih tanpa noda dan debu. Mungkin karena artifak sihir?

__ADS_1


Kedua, Ava kaget kalau selama ini Ratu Isabel bisa selamat dari serangan monster menggunakan setelan merepotkan tersebut.


"Apa Anda tidak menemui monster selama perjalanan tadi?" tahu-tahu pertanyaan Ava terlontar.


"Ah, aku memang beruntung dari kecil."


Omong-omong, Ava sadar kalau ia belum pernah mengecek jendela status sang raja dan ratu. "[Observasi]," ia bergumam pelan.


Nama: Isabel Weinhamer


Ras: Manusia


Level: 1 (87)


Kecepatan: 2 (22)


Kekuatan: 1 (16)


Kelincahan: 1 (14)


Keberuntungan: 2 (25)


Mana: 1 (12)


Koin: 7636382726266


Skill: Midas' Touch (IV)


Status tambahan Ratu Isabel adalah ... keberuntungan?


Jadi, apapun bisa kalah kalau dihadapkan dengan orang yang beruntung, begitu?


Tapi level sang ratu tetap direset. Artinya, cuma 2 poin keberuntungan dapat menghindarkan Ratu Isabel dari monster selama berjam-jam?


Hm.


Ava tidak iri.


Sama sekali tidak iri.


... Tapi bukankah hal ini sama saja memberikan sang ratu cheat code untuk memenangkan setiap situasi?


Kruk!


Perut Ava memutuskan untuk bergemuruh saat itu juga. Gadis itu otomatis menghindari kontak mata.


"Makan dan minum ini, aku menemukannya di sebuah peti tadi." Dendeng sapi dan sebotol air. Sekali lagi Ava kagum dengan plot armor yang melindungi Ratu Isabel.

__ADS_1


__ADS_2