Hellbent

Hellbent
Bab 178: Black and White or Gray?


__ADS_3

"Uwah, kau terlihat kejam sekali! Mengusir orang yang baru saja lolos dari dua kejadian traumatis sendirian!" Walaupun suasana canggung sunyi meliputi rombongan mereka, Adam berisik di sebelah Ava.


"Dia hanya akan menjadi beban," bisiknya pelan, posisi Ava berada di paling belakang untuk menjaga punggung mereka


"Ugh, memang benar! Tapi astaga, kau terlihat punya dendam pribadi kepada gadis itu!"


"Tidak benar."


"Benar!


"Dia orang yang tidak bisa dipercaya, kau dengar sendiri ceritanya."


"Yang kudengar hanyalah tangisan yang bertahan hingga satu jam setelah ceritanya selesai."


"Kau percaya dengan air mata buaya?"


"Aku yakin kalau buaya tidak bisa menangis sampai satu jam! Gadis itu benar-benar sedih dan terguncang!"


"Kenapa kau membelanya?!" lepas kendali, suara Ava mengangetkan Siwon, Ratu Isabel, dan River di depannya. "Um, ada apa, Rin-- Yang Mulia?"


"Seekor nyamuk menggangguku dari tadi."


Ava masih melihat keraguan dalam sorot mereka, tapi untungnya tidak ada yang ingin bertanya lebih lanjut.


Sayang, Adam belum selesai.


"Aku bukan membelanya. Tapi terkadang ... seseorang terpaksa melakukan sesuatu hal yang ia benci karena keadaan."

__ADS_1


"Kalau mereka memang benar-benar membenci hal tersebut, seharusnya tidak usah mereka lakukan dari awal."


"Tapi kalau keadaanya terpaksa--"


"Apakah keadaannya memang terpaksa? Atau dia hanya terlalu pengecut untuk menanggung konsekuensinya nanti?"


Tidak ada yang mau mengalah.


"... Pengecut?"


"Kalau sudah terlanjur terjadi, lalu apa? Kalau memang dia menyesal, sesali semuanya seumur hidup. Jangan malah menggunakannya untuk mencari pembenaran atau poin kasihan."


"Poin kasihan? Kau juga lihat kalau gadis itu hampir saja diperko--"


"Kalau dia tetap menolak mengakui kesalahannya ketika seorang balita serta ibunya dibunuh oleh orang satu desa, kenapa masalah antara gadis itu dengan Count Couliy menjadi tanggung jawabku?"


"Lebih tepatnya praktikal."


"Picik."


Ava diam.


"Egois."


Adam meneruskan rentetan hinaannya.


"Dingin."

__ADS_1


"Kau tidak ingin diam?"


"Balita itu adalah "kambing hitam" yang ditentukan oleh [System]! Kalau mereka tidak melaksanakannya, mereka akan terjebak dalam gate itu!"


Dan Adam membawa argumen mereka kembali ke titik awal.


"Dia tidak pernah menjelaskan misinya secara lengkap. Tidak ada dalam ceritanya yang mengatakan kalau mereka hanya bisa keluar jika mengorbankan "kambing hitam"! Bisa saja itu gate yang mengeluarkan pemain dengan sendirinya apabila waktu habis. Bisa saja mereka semua selamat tanpa saling membunuh dan akibatnya cuma poin kontribusi yang sedikit."


Kalau diingat-ingat, Ava benar. Kali ini Adam yang terdiam, tidak bisa membantah.


"Dan kembali ke poin pertamaku, gadis itu hanya akan menjadi beban. Kita tidak bisa terus-terusan menerima orang ketika terperangkap dalam lingkungan dengan sumber daya terbatas."


Hantu tersebut merenungkan perkataan Ava, ke dalam situasinya sendiri.


Apakah keadaannya dulu memang terpaksa?


Apakah sebenarnya dia memiliki kesempatan untuk membantah?


... Apakah dia tanpa sadar memperjuangkan perspektif gadis asing itu karena proyeksi akan dirinya sendiri?


Adam, pria yang diperbudak oleh Eve dan dikurung di laboratorium bawah danau pada pulau terpencil yang dipenuhi monster.


Adam, asisten Eve ketika mengerjakan berbagai eksperimen yang semua hasilnya menggemparkan dunia.


Adam, pelaku dari pembunuhan massal atas dasar percobaan alkemi, sihir, serta artifak.


Nyawa ratusan orang melayang karena tangannya. Namun karena itu pula dia dan Eve berhasil membuat ramuan penangkal wabah Uflaria, pengganda EXP, serbuk bius, dan masih banyak lagi.

__ADS_1


Dosa-dosanya terkumpul dalam buku jurnal yang sekarang terkunci dalam inventori Ava.


__ADS_2