
Gempa yang ada semakin dahsyat. Para pelayan berbondong-bondong membantu tamu undangan yang tidak bisa berdiri dari tadi.
Krak!
Saat itulah, Ava mendengar bunyi retakan di bawah kakinya. Tanah terpecah.
... Apakah Eve memiliki artifak yang dapat menerbangkan massa?
"Kenapa ekspresimu tidak enak begitu?" Ava seketika menoleh ke asal suara yang asing.
Seorang pria berdiri tegak dengan ajaib, pongah, sama sekali tidak terpengaruh dengan kondisi kacau di sekitar mereka. Seolah ia terlingkupi selaput sihir yang membuatnya imun terhadap intervensi apapun pada titik tempatnya berdiri.
Siapa?
Ava tidak mengingat wajah arogan tersebut dari berkas-berkas tamu undangan yang ia hapalkan. Namun sebelum ia sempat mengaktifkan skill observasinya, Ava didahului.
"Kau seharusnya merasa terhormat karena Lucifer Yang Maha Kuasa sudi menginjakkan kaki di istana lusuhmu ini."
"Hah? Apa katanya tadi?"
"Lucifer? Bukankah Lucifer adalah nama iblis kuno?"
Cih, hebat. Orang-orang yang terlambat mengungsi dan mendengar kalimat pria itu pun langsung berisik.
Semenjak Ava bertemu dengan iblis bernama Mammon bulan lalu, ia seharusnya telah menduga akan bertemu dengan iblis-iblis yang lain. Dan berhubung Lucifer telah mengungkapkan identitas aslinya, berpura-pura bodoh tidak akan mempan seperti kemarin.
"Aku tidak pernah ingat mengundangmu di pesta--"
Plak!
Ava terkesiap akan pipinya yang nyeri dan panas.
"Beraninya kau berbicara santai kepadaku." Seketika suasana berubah sunyi. Bukan hanya putri kerajaan Edodale ditampar, pelaku juga merendahkan status Eve.
"Hei! Kau itu--" Ava masih sempat menahan Ellijah yang ingin langsung menerjang pria di hadapan mereka. Kalau dia saja tidak dapat menghindari tamparan Lucifer meskipun dengan status indra melebihi angka 30, seberapa cepat iblis tersebut bergerak?.
Secara intuisi, Ava sadar, jika Lucifer memang berniat untuk menyerang mereka, tidak akan ada yang bisa menghentikannya.
Nama: Lucifer
Ras: Iblis
Level: 1067
Kecepatan: 198
Kekuatan: 293
Kelincahan: 176
Mana: 489
Koin: 0
Skill:
__ADS_1
- Obey Me (VIII)
- Almighty Sword (V)
Dengan jendela status seperti itu, Ava bersyukur kepalanya tidak sampai melayang saat ditampar.
Skill [Obey Me] Lucifer menyala terang. Aura yang memancar dari tubuh jangkung pria itu pun berubah, berat serta opresif.
"Sekarang, berlutut."
Dengan simponi suara "dup" yang nyaris berbarengan, semua orang bahkan yang sudah masuk ke dalam aula istana terjatuh, kedua lutut mereka seolah dicengkeram oleh gravitasi. Banyak yang mengerang kesakitan, wajar saja mengingat badan mereka ditarik paksa untuk berlutut di tanah, Ava sendiri yakin kalau kulitnya tergores kerikil meskipun telah dilindungi oleh rok gaunnya.
Ia lalu mendengar tawa kecil tidak jauh dari tempatnya, pelakunya tentu saja Lucifer. Wajah pucatnya bersinar, terhibur.
Apalagi fungsi makhluk dunia bawah kalau bukan untuk menghiburnya?
"Sembari menunggu prosesnya selesai, sediakan jamuan untukku."
Dia mencari pelayan sukarela.
Namun tidak ada yang menyahut.
Semua orang terjebak di antara rasa takut mereka.
Iblis!
Inilah makhluk yang dari generasi ke generasi dijadikan sebagai momok sejarah. Kisah kebiadaban mereka dijadikan cerita penghantar tidur anak agar tidak nakal.
Makhluk yang mutlak akan kekuatan.
Sayangnya mata Ava hanya melihat satu orang yang levelnya pantas disebut ranker, Ellijah.
Namun Ellijah adalah seorang kontraktor iblis. Ava masih belum yakin apa efek yang mengikuti status tersebut, karena tunangan (palsu)-nya itu merespon dengan wajar akan tindakan Lucifer tadi. Atau, Ellijah hanya akan bereaksi terhadap iblis yang berkaitan dengan kontraknya?
"Kau." Lucifer melepaskan Ava dari pengaruh skill-nya. "Berikan aku segelas wine."
Ava selalu berpikir kalau status sosial Eve sangatlah menguntungkan baginya, tapi kini seorang putri kerajaan hanya dipandang sebagai pelayan di hadapan sesosok iblis, di pesta ulang tahunnya sendiri. Benar-benar pertunjukan ironis di hadapan para tamu undangan yang datang.
Sisi baiknya, Ava bebas bergerak, gempa juga sudah berhenti.
Sisi buruknya, kalau apa yang ia sajikan tidak memenuhi standar Lucifer, ia takut konsekuensinya akan besar.
Tapi jika membantah, nyawa Ava yang terancam.
Mengabaikan tatapan nanar semua orang, dia berlari sekencang mungkin ke aula istana, menuju meja sajian yang disusun sedemikian rupa hingga gelas wine yang ada membentuk formasi setinggi dua meter. Ava menyambar gelas pertama yang ia lihat, tidak lupa juga dengan sebotol wine yang belum dibuka.
Namun Ava gagal dalam memahami niatan asli si iblis.
Wine yang dia persembahkan dilempar meskipun belum setetes pun tercicipi. Botol yang ia bawa pun pecah, aroma alkohol dan anggur semerbak dari ujung kepala hingga kaki Ava yang sekarang berwarna merah keunguan.
Benar.
Lucifer tidak haus. Ia hanya ingin mempermalukan bintang utama dari pesta yang ia hancurkan.
Ia selalu merasa geli dengan permainan "siapa yang lebih berkuasa" dari dunia bawah. Pft, tikus bodoh. Raja tikus tetaplah seekor tikus di matanya.
__ADS_1
Selama Lucifer berada di dunia bawah ini, ia tidak henti-hentinya mendengar berbagai pujian untuk Eve. Apalagi dengan kontribusi tikus itu dalam mengatasi wabah yang disebarkan oleh Beelzub.
Cih, payah.
Tidak ada yang bermain secara benar kecuali dirinya.
Tapi reaksi putri tikus tersebut sangatlah ... membosankan.
Lucifer mengharapkan tangis, teriakan ketakutan, atau permohonan putus asa. Iblis itu meneruskan tindakannya dengan mendorong bahu Ava dengan setengah botol pecah yang masih digenggam.
Tapi Ava hanya diam, matanya datar, sama sekali tidak mengernyit meskipun kulitnya tersayat.
Yah, Ava sendiri sudah menyerah dari awal. Ia rela diperlakukan apa saja asalkan selamat. Tidak ada yang patah, hanya sedikit berdarah. Impulsivitasnya dikalahkan oleh otak yang sibuk.
Tidak lama, Lucifer kehilangan minat terhadapnya.
"Cih, kau itu boneka atau apa?"
Ava tidak menjawab, karena ia tahu kalau orang yang kedudukannya lebih tinggi tidak suka jika bawahannya angkat bicara.
"Jawab!"
Zet zet zet!
Disertai dengan suara yang mirip dengan listrik, cahaya kebiruan menyinari mereka. Lucifer mendongak lalu berdecak, "Kau beruntung." Sekejap, dia menghilang.
Angin malam berhembus dengan kencang, terlalu kencang. Tubuh Ava yang terbasahi oleh wine seketika kering.
"[Cancel: Obey Me]."
Orang-orang yang sedari tadi dipaksa untuk berlutut diam-diam bernapas lega saat mereka terbebas dari pengekang tak kasat mata. Kini mereka tersungkur lemas. Sayangnya bencana belum usai.
Cahaya biru di atas mereka semakin terang, seolah ada yang mengikis langit malam. Mereka semua menyaksikan secara langsung proses pecahan dimensi, atau dalam arti lain gate.
"Lari!" Teriakan tersebut membangunkan mereka.
Fenomena terbukanya gate tidaklah rapi. Arus mana di sekitar mengalami ketidakstabilan. Mungkin karena itulah artifak yang membuat pulau ini melayang sedikit eror tadi. Selain itu, gate baru akan menghisap apapun yang dekat dengannya, termasuk yakni orang. Dengan kata lain, calon korban penaklukan pertama gate tanpa informasi. Semakin tinggi batas level yang ada, semakin besar dan parah pula efek proses ini.
Dan angin yang saat ini Ava rasakan, sama saja dengan angin topan. Langkahnya berat, ditambah lagi gaun panjangnya sangat menyusahkan.
"Ayo!" Ellijah menarik Ava sekuat tenaga.
"Ahh! Tolong!" Belasan orang melayang di udara, terhisap ke cahaya kotak biru di angkasa hitam yang masih saja membesar, mencari mangsa.
Angin yang menarik mereka semakin besar, sudah setengah tamu undangan yang hilang. Ellijah kini memeluk erat pinggang gadis di sampingnya, berusaha mati-matian untuk menjauh dari gate yang menganga di atas istana.
Sayang, keberuntungan mereka habis.
Ava tergelincir, kuda-kuda Ellijah rusak karenanya.
Ia mengutuk dalam hati, "Sepatu hak tidak berguna."
"Jangan lepaskan!" Tangannya hampir remuk dicengkram oleh Ellijah.
Pasangan itu pun masuk ke dalam dimensi asing tanpa persiapan apapun.
__ADS_1