Hellbent

Hellbent
Bab 69: Duel


__ADS_3

Jantung Hao masih berdebar-debar semenjak kejadian tadi malam. Ia gelisah sekaligus bersemangat, akibatnya ranjang yang ia tiduri berantakan dengan seprei lecek yang terlepas. Hao tidak bisa tidur.


Rina, wanita pujaannya itu, pastilah tercipta hanya untuk dirinya seorang. Hao tidak dapat melupakan mata hitam perempuan tersebut yang bersinar ketika bertarung. Rambut pendeknya yang berkibar indah setiap kali ia bergerak dengan lincah.


Jadi, kalau Hao belum bisa menjadikan Rina sebagai istri atau kekasih, dia memiliki opsi lain.


"Kau ingin berlatih tanding denganku?" Ava meneleng heran. Pagi-pagi, Hao sudah mengganggunya, akan tetapi ajakan pria itu kali ini tidak buruk juga.


Setiap kali berkelahi, Ava harus selalu berhati-hati agar tidak terjatuh. Memiliki kecepatan, kekuatan, serta kelincahan yang meningkat hanya dengan penambahan poin memang menguntungkan, tapi dia masih belum beradaptasi betul dengan perubahan yang ada dalam tubuhnya. Kalau begitu, dengan duel yang diproposikan oleh Hao, Ava sekaligus bisa berlatih untuk menyesuaikan diri terhadap kelebihan supernya.


"Baiklah, ayo." Hao nyaris bersorak ketika ajakannya disetujui. Namun kebahagiaannya tidak berlangsung lama.

__ADS_1


"Oh, aku juga ingin bertarung denganmu," River yang pertama mengambil antrian.


Hao dan Rina seharusnya berdua saja! "Hei! Tu--"


"Setelah itu, kau akan melawanku," kali ini Dom yang mengklaim urutan.


Kesempatan untuk berduel tidak boleh disia-siakan oleh seorang petarung, karena saat itulah mereka bisa berkembang. Kekalahan maupun kemenangan akan membawa mereka selangkah lebih dekat untuk menjadi lebih kuat.


Di sisi lain, Dom sudah gatal ingin mengalahkan perempuan itu semenjak insiden dengan banderhobbs beberapa hari yang lalu, tetapi mereka masih di atas kapal, tidak ada tempat yang cocok untuk merealisasikan keinginannya. Jadi kalau saja Hao tidak mengajak Rina bertarung terlebih dahulu, Dom pasti sudah melakukannya selesai sarapan tadi.


Ava mengerutkan dahi, tidak suka. Bertarung dengan orang-orang di dunia fantasi ini memang peluang yang bagus, tapi menghadapi tiga orang berturut-turut tentu akan menguras staminanya. Poin status yang meningkat berbanding terbalik dengan energi Ava, mungkin sebagai kompensasi sehingga dia kini mudah lelah. "Tidak, tidak, tidak! Satu hati satu pertarungan. Jadi, aku akan melawan River besok, sedangkan Dom lusa. Kalian bisa saling bertarung hari ini jika merasa bosan."

__ADS_1


Hao dengan cekatan menimpali, "Ide bagus. Hari ini Rina akan berduaan denganku saja!" Ava menyipit curiga dengan pemilihan kata Hao yang aneh.


***


Terkenal sebagai kota bebas yang menjadi tempat berkumpulnya para petarung, Oranera menyediakan fasilitas berupa arena yang bisa disewa selama beberapa jam. Berhubung ini adalah kesempatan Hao untuk membuat impresi yang bagus, pria itulah yang membayar.


Mengambil belati kayu tumpul dari rak yang disediakan, Ava menggenggam sepasang pisau di kedua tangannya. Sesi ini hanya dianggap sebagai latih tanding, jadi mereka tidak perlu menggunakan senjata yang sesungguhnya. Kabar baik, karena Ava juga belum ingin menghadapi skill Hao yang dapat membelah pohon hanya dengan sekali ayunan pedang.


Omong-omong, Hao tidak menerapkan aturan apapun.


Artinya, selain menggunakan senjata kayu, Ava boleh menggunakan apapun, bukan?

__ADS_1


__ADS_2