Hellbent

Hellbent
Bab 105: Hologram Biru


__ADS_3

Brak!


Pintu kantor tertutup dengan dentuman keras. Ava tergesa-gesa melewati lorong remang yang disinari oleh bulan ungu. Istana megah tersebut ketika tengah malam memang sangat sepi, hanya bayangan hitamnya yang memanjang di jalur yang ia lewati. Sayangnya, detik itulah kaki kirinya mendadak kejang, membuat gadis itu tersandung dan jatuh, karpet lantai membakar dagunya yang tergores.


“Eve!” Ellijah seketika berteriak panik jauh di belakanganya. Derap langkah pria itu semakin mendekat.


Akan tetapi situasi Ava jauh dari ideal. Telapak tangan dan kaki kiri telah berubah menjadi hologram biru yang berderak, dan ia masih belum bisa menjelaskan kebenaran ataupun menyiapkan kebohongan. Jadi Ava semakin mempercepat lajunya, meskipun harus melompat dengan satu kaki.


Sayangnya status poin orang berlevel 200 lebih tidak bisa diremehkan, dalam sekejap saja Ellijah sudah di belakangnya. Kemudian tanpa meminta ijin, pria itu menggendong gadis yang tengah bersusah payah menjauh darinya. Kehilangan kesempatan untuk hilang dari pandangan Ellijah, Ava sekarang terjebak dalam dekapan tunangan palsunya. Dengan begitu, ia memilih untuk menyembunyikan bagian tubuhnya yang error dengan kain gaunnya yang panjang, akibatnya dia semakin merapat ke dada lapang yang kepalanya sandari. “Ke kamar,” Ava berbisik, yang dalam telinga Ellijah lebih mirip seperti permohonan dari wanita pujaannya. Jadi walaupun ia masih memendam pertanyaan, Ellijah lebih memprioritaskan permintaan gadis tersebut.


Rasa tidak nyaman di hati Ellijah membesar setiap detik berlalu, pasalnya napas Ava sangatlah berat seolah dadanya ditekan. Begitu pula tremor serta keringat dingin yang bahkan dapat Ellijah rasakan dari gadis itu. Setiap skenario buruk menghinggapi pikiran pria tersebut.


Apakah Eve diracuni? Siapa yang berani?!

__ADS_1


Ataukah, ini efek samping dari kebocoran jantung mana yang membuat tunangannya itu tidak bisa memakai sihir? Dia ... tidak akan mati, bukan?


Apapun itu, kini mereka sudah sampai di kamar Eve. “Kamar mandi,” sekali lagi pinta Ava. Dia masih ingat pagi ketika hal yang sama terjadi. Kasur yang penuh dengan darah.


Ellijah yang hampir secara refleks membaringkan gadis itu ke ranjang pun seketika berhenti, masih belum bisa menangkap arahan sang putri, Ellijah kembali menurut.


Saat keduanya sampai di ambang pintu kamar mandi, Ava menepuk pelan pundak Ellijah, “Turunkan, aku.”


Ava terlalu lemah untuk berdebat saat ini, jadi dia hanya menghelas napas sebelum berbicara, “Bak mandi.”


Dengan hati-hati, Ellijah mendudukkan gadis itu di dalam bak mandi tembaga yang ada. “Sudah, sekarang pergi.”


Ellijah seketika membantah, “Tidak.” Tidak mungkin ia membiarkan tubuh yang terasa rentan dalam pelukannya seperti dekoratif kaca tipis.

__ADS_1


Namun Ava juga tidak bisa menunjukkan fenomena aneh yang terjadi pada tubuhnya, setidaknya tidak untuk saat ini, jadi dia membuat kompromi. “Kalau begitu berbaliklah, jangan melihat.”


Wajah Ellijah memerah ketika melihat gadis di depannya berniat untuk membuka baju, dia langsung memutar badan, membelakangi. Meskipun begitu suaraya masih sarat akan kekhawatiran, “Apa kau tidak ingin memanggil dokter, helaer, atau priest?”


Ava tidak yakin ketiga profesi itu bahkan dapat mendiagnosa apa yang terjadi, apalagi merawat ataupu mengobatinya. Ia secara insting paham kalau fenomena ini bukanlah penyakit. “Jangan, mereka tidak bisa membantu. Sebaliknya, pasang artifak pengedap suara jika kau punya, dan jangan biarkan siapapun masuk.”


Seluruh tubuh Ava sudah tidak bisa digerakkan, kaku, kram, serta berubah menjadi hologram biru. Kemudian seperti sebulan sebelumnya, kalimat yang tidak asing muncul lagi.


Pemuatan data 100%


Sinkronisasi akan dimulai, mohon tunggu sebentar.


Ding!

__ADS_1


__ADS_2