
Jika Ava harus mendeskripsikan Ratu Isabel dengan satu kata, ia akan memilih "proper". Meskipun mereka berada di labirin kotor yang dipenuhi sarang monster, hal tersebut tidak dijadikan sebagai alasan sang ratu untuk "relaks". Badan yang masih berbalut gaun mewah tegak dan elegan ketika berjalan, kepala tidak pernah menunduk dan pandangannya lurus dengan mata yakin. Kalimat yang keluar juga dihantarkan dengan nada tanpa gentar dan penuh percaya diri. Ava dengar kalau Ratu Isabel dan Raja Dion, sama seperti Eve dan Ellijah, sudah bertunangan semenjak mereka berumur 7 tahun, karena itulah pendidikan royalti untuk menjadi ratu kerajaan ditanamkan dalam diri sang ratu semenjak kecil. Mungkin inilah hasilnya, figur seorang pemimpin tidak pernah pudar dari sosok Isabel.
Oh, omong-omong ....
"Astaga, lihat dirimu!"
Dibandingkan dengan Ratu Isabel, Ava terlihat seperti pengemis. Tidak ada titik yang tidak tertutupi debu, ia benar-benar kotor.
Byur!
Gadis itu kaget akan bola air yang pecah di atas kepalanya. Jari telunjuk sang ratu bergerak membentuk pola di udara, air yang pecah tadi berkumpul hingga kembali menjadi bola, yang kemudian bergerak mengikuti perintah Ratu Isabel.
Sekarang, tubuh Ava bersih, tapi ia menjadi basah, apalagi udara di labirin ini lembab, mereka harus menghabiskan beberapa jam hanya untuk mengeringkan baju. Ditambah lagi, kini gaunnya yang sudah terpotong malah bertambah berat dengan adanya air yang meresap.
Apa Ratu Isabel memang berniat menyabotase Ava?
"Jangan cemberut dulu." Sebelum protes, gadis itu didahului. Angin kencang entah darimana menerpa Ava, persis seperti tadi angin tersebut mengitari seluruh inchi tubuhnya mengikuti ayunan jari telunjuk sang ratu.
Seketika itu juga, Ava kering.
Tunggu, dual-atribut?
Jarang sekali ada mage yang memiliki afiniti elemen lebih dari satu. Meskipun terlihat sepele, penerapan sihir seperti ini membutuhkan kontrol mana yang teliti dan halus agar efektif serta tidak menyakiti subjek. Tidak lupa juga dengan status tambahan Ratu Isabel yang berupa keberuntungan. Kalau saja ini adalah dunia novel, sang ratu pasti menjadi pemeran utamanya.
"Keren." Rasa tidak nyaman Ava langsung terhapus.
"Tentu saja." Kepercayaan diri memancar dari senyum Isabel.
Grrr!
Sayangnya, momen damai mereka harus terintupsi oleh kehadiran seekor monster. Indra sensitif Ava menangkap kehadiran makhluk tidak diundang tersebut walaupun sosoknya belum nampak dari balik kabut. Ia berjongkok, nyaris merangkak, mendekati asal suara itu. Mereka masih membutuhkan persediaan untuk meningkatkan kemungkinan agar mereka selamat.
__ADS_1
Monster yang familiar Ava lihat selama berjam-jam sebelumnya, gnoll. Kali ini kepala yang menempel pada tubuh manusia berbulu tersebut ialah hyena. Berdiri dengan dua kaki, badan besar jangkung yang membungkuk serta warnanya nyaris hijau, gnoll ini nampak lebih agresif dan mengancam karena air liur yang terus menetes dari moncong penuh taringnya.
Level 48, lebih tinggi dari gnoll-gnoll yang lain.
Kelebihan menghadapi monster berotonomi manusia, ialah titik vital mereka persis sama.
Ketika monster berkepala hyena tersebut memunggungi Ava, gadis itu berlari secepat kilat. Targetnya adalah arteri kartorid.
Namun sebelum pisaunya tertancap dalam, gnoll tersebut berhasil mempertahankan diri sekaligus membalas. Pundak Ava tercakar dangkal. Untungnya, luka yang diberikan gadis itu terhadap si monster lebih parah. Hyena tersebut melolong keras, darah mengucur deras dari kulit lehernya yang tersayat. Mata yang melotot merah dan mulut penuh liur membuat monster itu seolah terkena rabies.
Hm, sebaiknya Ava memprioritaskan untuk menghindar agar ia tidak tergigit. Jadi dia kabur, menyelinap di antara kabut. Satu-satunya cara untuk mendeteksi Ava sekarang, apabila ada yang memiliki indra yang lebih sensitif darinya.
Kemenangannya hanya menunggu waktu, cepat atau lambat gnoll tersebut akan mati kekurangan darah.
"Jadi, kau ingin memamerkan diri di depan orang itu." Mendadak, Adam menyelipkan komentar tidak bergunanya.
"Tidak."
"Kita masih kekurangan persediaan," Ava berbisik, takut kalau Ratu Isabel menganggapnya gila karena berbicara sendiri.
"Omong kosong! Kau baru saja diberi makan dan minum oleh orang itu, kulihat juga stok orang itu masih banyak!"
"Kau ingin aku tanpa malu meminta dan bergantung, begitu?"
"Benar! Lagipula kau hanya ketiban sial dari tadi, isi kotak yang kau buka hanya sampah!"
Ah, betul, Adam tidak tahu mengenai status keberuntungan serta skill sang ratu. "Diam saja kau!"
"Kau baik-baik saja?" Ratu Isabel yang sedari tadi mengikuti Ava dengan diam, akhirnya membuka mulut ketika ia mendengar suara "gedebuk" yang terpantul dari dinding ke dinding. Lolongan marah disertai perih pun tidak ada lagi, gnoll itu setidaknya sekarat kalau belum mati.
"Hanya luka ringan, Yang Mulia." Ava menghampiri peti yang dijaga oleh monster tersebut. Ia membawa kotak itu di hadapan Ratu Isabel, lalu menyodorkannya.
__ADS_1
"Silahkan dibuka, Yang Mulia."
"Tuh kan, benar! Kau ingin sok-sokan di depan orang ini!" Entah kenapa Adam menjadi histeris begitu. Namun pada akhirnya tetap saja Ava abaikan.
"Kau yang membunuh monsternya, kau juga yang seharusnya membuka hadiahnya."
Tapi Ava membutuhkan keberuntungan Ratu Isabel sekarang! Kalau ia mendapatkan item tidak berguna untuk kesekian kalinya, Ava takut dirinya malah akan gila karena frustasi. "Hal ini sebagai rasa terima kasih saya atas makanan dan minuman yang Ratu berikan kepada saya tadi."
"Kau benar-benar akan memberikannya kepadaku?"
"Apabila Anda merasa tidak enak, benda yang muncul nanti bisa dijadikan sebagai persediaan bagi kita berdua." Dan itulah tujuan asli Ava.
"Baiklah kalau begitu."
Peti itu terbuka, cahaya keemasan terpancar sampai-sampai membutakan. Tunggu dulu, kotak tersebut bercahaya?
Dan dewi keberuntungan tersenyum kepada mereka, tidak, hanya kepada Ratu Isabel.
"Daging panggang, sebotol jus apel, dan ramuan penyembuh."
Intinya, hanya nasib Ava yang sial.
***
Ellijah tidak tahu apakah kesabarannya akan cukup untuk menghadapi raja menyedihkan ini. Biasanya dia hanya berinteraksi dengan Raja Dion ketika memberikan laporan tahunan atau saat diundang makan malam, itupun sang raja selalu mempertahankan kewibawaannya sehingga rasa hormat mutual dasar masih dipertahankan. Akan tetapi, sosok yang menduduki status tertinggi di kerajaan Edodale tersebut sekarang meruntuhkan segala kemunafikannya.
Seringkali mereka dihadapkan dengan monster-monster yang menghalangi jalan ataupun melindungi kotak persediaan, seringkali juga Raja Dion lebih sibuk bersembunyi di balik punggungnya ataupun berteriak ketakutan dengan suara yang memuakkan. Bukan hanya sekali saja Ellijah tergoda untuk mendorong sang raja agar ia menjadi santapan monster. Lagipula, gate sebenarnya adalah zona tanpa aturan, tidak akan ada yang tahu tindakan lese-majeste nya.
Tapi jangan, demi pernikahannya dengan Eve.
"Kenapa bengong?! Bunuh makhluk itu! Bunuh! Aakh!"
__ADS_1
Lagi-lagi, Ellijah menahan sumpah serapahnya.