Hellbent

Hellbent
Bab 76: Seorang Tunangan


__ADS_3

"Siapa lagi pria bernama "Alex" ini?" Ellijah melangkah lebar, dalam sekejap sudah ada di hadapan Ava dengan wajah dingin yang menahan murka.


Hawa keberadaan orang dengan level yang lebih dari 200 memang berbeda, sorotan tajam yang ditujukan pada Ava tanpa sadar membuat kerah tunik yang ia pakai terasa lebih ketat dari biasanya.


Pertama-tama, tunjukkan sopan santun terlebih dahulu.


"Terima kasih atas bantuannya, Tuan. Juga maafkan saya, karena hari yang sudah mulai menggelap, siluet Anda mirip dengan salah satu teman saya, jadi saya salah mengira."


Namun berbanding terbalik dengan perhitungannya, rahang pria itu malah mengetat, tidak suka. "Apa kau masih marah denganku?"


Marah? Ah, benar.


Laki-laki ini adalah tunangan Eve, pria yang dirumorkan memenggal kepala seorang anak bangsawan untuk membuktikan kalau dia tidak pernah selingkuh.


Namun Ava tidak berniat menggantikan posisi Eve sebagai putri kerajaan, dia hanya ingin untuk segera pulang. Jadi gadis itu akan berpura-pura bodoh. "Maaf, Tuan, saya tidak mengerti. Saya rasa ini pertemuan pertama kita."


Seketika itu lengan Ava dicengkram keras, ia refleks memekik. Kekuatan yang melebihi 50 poin tidak bisa diremehkan. "Kalau kau marah, bentak saja aku! Jangan perlakukan aku seperti orang asing!" Seluruh badan Ava tergoncang kuat, kepalanya langsung pusing.


"Sakit, Tuan, ampun!"


Sepertinya baru sadar dengan lemahnya tubuh gadis itu, Ellijah melepas genggamannya dengan kaget. Pupilnya bergetar melihat lebam yang tercipta pada lengan, jejak kekasarannya. "Dimana kalung regenerasi yang kuberikan padamu? Bagaimana bisa kau terluka dengan mudah?"


Meskipun ia memiliki artifak penyembuh, bukan suatu alasan ia bisa dianiaya seperti ini, Ava mencibir dalam hati.


Dan dia masih teguh dengan perannya. "Maaf, Tuan, sepertinya Anda salah orang."


Ava tidak tahu apa-apa.


Lebih baik jika ia bersikap seperti itu.


Ava tersentak ketika Ellijah mendadak mendekatkan muka mereka, sampai-sampai ia dapat merasakan hembusan dingin napas pria yang disebut Duke Frost tersebut.

__ADS_1


Apa tidak ada yang mengerti jarak personal di dimensi ini?


Di sisi lain, Ellijah memperhatikan setiap detail wajah gadi di hadapannya. Mata hitam dalam yang seringkali membuat ia lupa waktu hanya dengan memandangnya, bibir merah yang tidak tahu sudah berapa kali menjadi fokusnya dalam percakapan tadi, serta hidung mancung yang memiliki kerutan halus, hasil dari kebiasaan tunangannya itu ketika tidak menyukai sesuatu. Tidak salah lagi, dia adalah Eve.


Namun ketika ia mundur, Ellijah melihat tubuh wanita yang meskipun mungil memiliki otot-otot atletis yang tidak bisa diremehkan, bukan badan kecil seorang tuan putri yang langsing, karena itulah ia sering memberikan artifak pertahanan atau penyembuhan.


Ia juga tidak dapat mengalihkan atensinya dari bekas-bekas luka lama yang mengintip dari balik tunik panjang gadis itu kenakan. Eve hanya hilang selama empat bulan, tidak cukup waktu untuk menodai badan seorang alkemis genius yang selalu berada di barisan belakang ketika bertarung dengan borok.


Ellijah pun tidak memungkiri keahlian berkelahi wanita tersebut, bukan sesuatu yang bisa diraih hanya dalam beberapa bulan.


Tapi dia tidak pernah mendengar kalau keluarga kerajaan memiliki anak kembar yang hilang, kalau tidak bagaimana bisa ada yang menjelaskan keanehan ini?


"Kalau begitu, sebutkan namamu!" masih dengan ekspresi keras, Ellijah memerintah sebagai Duke Frost.


"Rina Hoffman, Tuan."


"Tuug." Tanpa diberitahu perintah lebih lanjut, pelayan setia yang ada di sampingnya sudah mengangguk. "Siap, laksanakan, Tuan."


Fokus Ellijah kembali pada gadis itu. Ava hanya berkedip polos, nampak tidak mengerti.


"Untuk saat ini sebaiknya kau ikut denganku. Penjaga!"


"Hah? Tunggu dulu!" Dua orang gagah dengan pakaian bertudung sudah mengapit Ava di kedua sisi, lengannya diungkit.


Ellijah mengeluarkan skrol teleportasinya, tanpa menunggu waktu langsung merobek artifak berharga tersebut.


Lingkaran ungu terbentuk di tanah yang mereka pijaki.


"Hei, saya tidak pernah setuju--"


Sedetik kemudian, keberadaan mereka hilang bersamaan dengan cahaya yang membutakan.

__ADS_1


Ava mematung terhadap dunia yang mendadak senyap. Dari ujung kepala hingga kaki, semua rasanya kebas. Sensasi yang familiar. Namun tidak lama, pandangannya disambut oleh cahaya lembut dari lampu kristal.


Mereka sampai di tempat tujuan.


"Keluar." Dengan satu kata, dua orang yang menggaet lengannya langsung membungkuk hormat, kemudian menghilang.


"Kenapa saya dibawa paksa ke sini?" Eve dan Ellijah memang pasangan yang cocok, keduanya memiliki hobi untuk menculik orang. Ava sampai tidak bisa menghargai dekorasi mewah dan barang-barang mahal yang menghiasi kamar tersebut.


"Masih ada yang harus aku pastikan." Ellijah melenggang ke sisi lain ruangan, menghampiri meja kerja, lalu mengambil sebatang cerutu tebal. Akan tetapi setelah satu lirikan ke arah gadis yang memperhatikannya dengan hati-hati, Ellijah mengurungkan niatnya untuk merokok, Eve tidak pernah menyukai bau tembakau.


"Duduk." Mungkin statusnya sebagai seorang Duke membuat pria itu terbiasa memerintah singkat. Bagaimanapun juga, Ava tetap meletakkan pantatnya di kursi besar empuk yang terbingkai oleh kayu dengan ukiran rumit.


"Melihat Anda memiliki pasukan penjaga, sepertinya Anda adalah orang berstatus tinggi." Ava sudah tahu siapa dia, tapi perannya masih mengharuskan ia untuk pura-pura tidak mengenal bangsawan yang seenaknya itu. "Namun seingat saya penculikan masih dilarang oleh hukum internasional, bahkan untuk bangsawan seperti Anda." Benar, Ava sibuk menghapalkan undang-undang serta hukum yang berlaku di dimensi ini dari buku-buku yang ia baca, karena dengan begitulah ia bisa menyusun strategi untuk menghindari hukuman, seperti itulah kehidupan kriminalnya.


"Suara kalian juga sama." Tanpa respon yang relevan dari Ellijah, segumpal rasa kesal membuat Ava tidak ingin melihat wajah yang dengan menyebalkannya sama dengan Alex.


Alex dan Lexa telah menjadi sahabatnya sejak mereka bertemu di panti asuhan untuk pertama kalinya. Kalau saja bukan karena kejadian itu, Alex pasti ...


Argh! Lupakan.


Bagaimanapun juga, Lexa masih menunggu Ava di bumi asalnya, perempuan yang terus berada di rumah sakit karena tubuh lemahnya itu pasti menunggu dirinya kembali, karena Ava selalu meluangkan waktu dua minggu sekali untuk menjenguknya. Akan tetapi sudah lebih satu bulan Ava terjebak di dimensi fantasi ini.


Dan sampai sekarang ia masih belum mengetahui objektif asli dari Eve.


Pandangan Ava lalu berpapasan dengan mata biru Ellijah yang menyorotinya tajam, memutuskan untuk menantang perhatian berlebih dari pria tersebut.


Ellijah juga sepertinya tidak akan mengerti apa-apa tentang penculikan dari Eve, pasalnya keberadaan tunangannya yang asli saja ia tidak tahu, apalagi eksistensi dopplegangger dari dunia lain seperti Ava.


Bukannya menganggap tidak sopan tingkah Ava, Ellijah malah tersenyum. "Bahkan sikap kalian juga sama."


Sekarang, bagaimana Ava bisa meyakinkan pria itu kalau dia bukan tuan putri Edodale?

__ADS_1


Memikirkan nasibnya ke depan membuat Ava menghembuskan napas panjang.


__ADS_2