Hellbent

Hellbent
Bab 44 : Medali Penghargaan


__ADS_3

Mata hitam Ava terbuka, mengenali wajah-wajah yang memenuhi pandangannya. Namun saat ia ingin mendudukkan diri, rasa sakit tiba-tiba datang, mengirimkan sinyal kejut ke area punggungnya. "Argh!"


"Jangan bergerak dulu!" River buru-buru memperingati panik, tapi jelas-jelas dia terlambat. Ava seharusnya sadar kalau badannya remuk dan kaku, dengan perban tebal yang membalut batang tubuhnya. Aroma daun, rempah, dan obat-obatan herbal hampir membuatnya tidak bisa bernapas saking kuatnya.


"Kau bahkan lebih merepotkan dari seorang anak kecil," Ava tidak terkejut dengan kalimat pertama yang dilontarkan Dom tepat setelah ia bangun dari pingsan yang ... Hm, entah berapa lama. Lorah di sisi lain berpihak pada Ava, gadis cilik itu memukul kakaknya dengan tangan mungil yang ia ayunkan ringan. "Kakak!" tegurnya lucu.


"Tapi menghadapi monster sebesar itu sendirian, usahamu patut diacungi jempol," kali ini Ib yang bersuara, terdapat binar cerah pada wajah tua pria itu.


"Kalau begitu aku mengharapkan bagian yang besar dari penjualannya," balas Ava tangkas. Ib tergelak, tawanya lepas dan ringan. Melihat hal itu, Ava yakin sesuatu telah terjadi, pasalnya si ranker nampak tidak terbebani apapun lagi.


"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Ava akhirnya, masuk ke topik utama rasa penasarannya.


"Yang lain" di sini tentu saja merujuk pada penumpang yang hilang pada saat badai hitam menerpa kapal.


Suasana dalam ruangan 8×8 meter tersebut mendadak serius. "23 luka ringan, 17 luka sedang, 34 luka parah, 8 belum ditemukan," sosok baru terjun langsung dalam percakapan mereka. Si kapten narsis. Pria itu masih saja rapi dengan seragam putih tanpa noda yang dikelim sempurna.


Meskipun tidak ada yang mengatakannya dalam kamar itu, semuanya ragu tentang keselamatan 8 korban yang hilang. Kemungkinan hidup dari orang yang diculik oleh monster tidak mencapai 10%. Satu hal yang membuat lega, tubuh-tubuh yang tergeletak lemas di geladak kapal malam itu bukanlah mayat, hanya pingsan, meskipun beberapa orang kehilangan bagian tubuh, setidaknya nyawa mereka tidak melayang.

__ADS_1


"Kami masih melakukan pencarian terhadap individu yang masih belum ditemukan." Tentu saja mereka harus melakukannya, setidaknya mereka akan terlihat bertanggung jawab atas insiden yang terjadi di atas kapal, meskipun jika usaha tersebut sia-sia.


"Semoga keselamatan semua orang yang menjadi hasil akhir pencarian," saat si kapten berdoa dengan tangan kanan di dada, semua yang ada di sana mengikuti panjatannya.


"Omong-omong," kapten kapal menadahkan tangan, salah satu staf kapal bergegas memberinya sebuah kotak hitam yang berkilau, "Ini adalah tanda penghargaan yang secara resmi kami berikan kepada pejuang-pejuang yang dengan berani mempertahankan kapal."


1 medali emas, 3 medali perak, dan 1 medali perunggu diserahkan pada Ava, Ib, River, Dom, dan Lorah masing-masing dengan berurutan.


Ib nampak terbiasa dengan proses seperti ini, jadi dia langsung berdiri tegak di hadapan si kapten yang menunggu, 3 lainnya meniru dengan malu-malu, sedangkan Ava dipersilahkan tetap berbaring di ranjang mengingat luka yang ia derita. Setelah itu, kapten beserta stafnya pergi dengan bungkukan hormat.


Ava memandang medali emasnya dengan tidak tertarik, dia hanya bertanya-tanya apakah benda itu bisa dijual atau tidak. Berbanding terbalik dengan Lorah yang terus saja menggoyangkan tubuhnya hanya untuk melihat bundaran perunggu tersebut berkilap saat bergerak. Dom meskipun berusaha nampak tidak peduli, sekali-kali ia mengelus medali di dadanya. River dan Ib langsung menyimpan medali mereka dengan alasan yang berbeda, si penjinak tidak melihat nilai dari penghargaan yang ia terima, sedangkan si ranker sudah mendapatkan banyak sekali tanda jasa seperti itu.


"Satu hari, tapi penjagamu itu kelabakan setiap detiknya, orang-orang bahkan mengira kau akan segera mati," Dom mencemooh River dengan pandangan menuduh.


Tapi seolah tidak mendengar ejekan itu, River malah menceramahi Ava panjang lebar. "Baru satu bulan kau kutemukan tergeletak dengan racun kadal hijau, setiap hari setelah berburu kau juga selalu mendapat luka, kini kau nyaris mati dan pingsan selama satu hari karena diremas katak raksasa." Ava hanya berkedip-kedip, membisu.


Tapi River belum selesai, "Kenapa kau tidak berhati-hati, hah? Jaga tubuhmu agar tidak ada lagi luka. Nyawamu cuma satu, kau tahu." Sikap tenang River lah yang malah membuat Ava secara insting mengalihkan perhatian, meminta bantuan kepada 3 orang lain yang bisa ditatapnya. Namun semuanya menggeleng.

__ADS_1


"Meskipun rempong, dia ada benarnya." Dom yang baru saja menyinggung River kini beralih sisi.


"Ya, Kakak, harusnya lebih hati-hati," Lorah menimpali.


"Kau masih muda, jangan buru-buru mati," Ib menambahkan.


Dibombardir seperti itu, Ava kehilangan niat untuk berargumen. Yah, mereka tidak salah, tapi diomeli layaknya anak kecil seperti ini membuat Ava kesal, dia meniup kasar poni rambutnya.


River mendekat, duduk di ujung ranjang. Tangan terulur, menyingkirkan rambut liar yang menempel pada wajah Ava, kemudian telapak besarnya menepuk lembut dahi gadis itu, "Aku tahu kau punya kemampuan yang tinggi untuk melawan siapapun, pikiranmu juga cerdas, tapi terkadang kau maju tanpa pikir panjang," nada halus mengalun dari pria dengan manik hijau daun tersebut.


"Dasar ceroboh!" Andai saja Ava leluasa bergerak, dia pasti sudah mengajak gelut Dom, tapi sayangnya tidak, jadi Ava harus puas hanya dengan mengirim tatapan mengancam pada pria berlengan tato itu. "Kata yang lebih tepat adalah "impulsif"," bantah Ava setengah menggeram.


Tidak hanya satu atau dua orang asing yang mengunjungi Ava dan kawan-kawan, kamar sempit itu mulai dipenuhi dengan bingkisan sederhana dari penumpang yang selamat dari serangan banderhobbs, mengucapkan terima kasih atas perlawanan mereka menuntaskan para monster tersebut. Impresi mereka terhadap River sebagai penjinak, serta Dom dan Lorah yang berasal dari ras beastman juga ikut membaik, kini banyak orang yang menyapa mereka dengan ramah setiap kali bertemu.


Untung saja penumpang kapal ini tahu balas budi, jika tidak ... Ava sendiri yang akan mengundang para katak itu untuk kembali menyerang. Karena dia orang yang pendendam.


Tentu tidak hanya mereka yang menerima penghargaan tersebut. Di sisi lain kapal, para staf yang dipimpin oleh kaptennya juga melawan puluhan banderhobbs yang menginvasi. Si kapten narsistik itu terlihat senang setiap kali ia dipuji, medal emas untuk dirinya sendiri pun yang paling besar di antara yang lainnya. Bukankah hal seperti itu termasuk korupsi?

__ADS_1


Namun momen yang paling heboh diceritakan tentu saja pertarungan Ava dengan banderhobbs berlevel lebih dari 100--rumor melebih-lebihkan apa yang sebenarnya terjadi. Bukti raksasa kemenangan gadis itu telah para penumpang lihat setelah bangun dari pingsan mereka.


Saat mereka sampai di daratan, pasti akan ada keributan di sekeliling Ava.


__ADS_2