
Ava memandangi tubuh bersimbah darah yang tidak bergerak di depannya. Dada gadis cilik itu bergetar sakit, mengalahkan perih di tangannya yang teriris.
Direktur panti asuhan melakukan hal yang buruk kepada Lexa. Dia menjambak serta merobek pakaian temannya meskipun Lexa berteriak tidak.
Dan Alex datang untuk melindungi adik kembarnya, dibantu oleh Ava.
Kini pria itu tenggelam dalam kubangan darahnya sendiri, dengan lubang di tenggorokannya.
Ada yang salah dengan apa yang Ava lakukan.
Namun tidak ada yang pernah memberitahukannya apa itu.
Ia ingin menangis, tapi rasanya tidak pantas berduka akan kepergian orang jahat.
Apa yang ia baca dari buku tidak selalu benar.
Orang dewasa tidak akan melindungi ataupun membimbing anak kecil seperti dia.
Sebaliknya, apa yang dijelaskan tentang sistem hutan berlaku juga pada manusia.
Hukum rimba.
Siapa yang kuat maka dialah yang akan menang.
Dan yang lemah akan menjadi mangsa.
Setelah paham, hatinya menjadi lebih tenang.
"Ayo mandi," Lexa berucap akhirnya setelah mengelap sidik jari mereka dengan tisu. Kaus hijaunya ternoda darah dan koyak, dialah yang paling berantakan di antara mereka.
Meskipun kakinya masih bergetar, Alex bangkit, kedua tangannya menggenggam lengan Ava dan Lexa, menuntun mereka ke satu-satunya kamar mandi di lantai tiga, kamar mandi pribadi milik direktur tepat di samping kantornya.
"Kita harus segera pergi," Alex bergumam. Mereka bertiga saling menatap, membiarkan air mengalir dari shower menghapus noda merah yang mengotori mereka. "Kabur hanya akan membuat polisi curiga," Lexa membalas suram.
Alex menunduk resah, "Lalu ... bagaimana?"
Ava pun angkat bicara, "Para orang dewasa akan percaya kalau aku melakukannya sendiri."
Benar, dialah yang selalu menjadi biang masalah karena perilaku yang tidak terkendali. Ava juga sudah memiliki jejak kasus kekerasan dari panti asuhannya yang dulu.
Alex berubah mencengkram telapak Ava. "Tidak, sepertinya kali ini para orang dewasa tidak akan melepasmu hanya dengan berpindah ke panti asuhan lain."
"Betul, lagipula kita tidak mau berpisah denganmu!" Lexa menukas keras.
Shower dimatikan. Baju, rambut, hingga seluruh badan mereka basah, Lexa bahkan sudah menggigil dan kulitnya berkeriput.
__ADS_1
Pembunuhan seharusnya bukan termasuk ke dalam daftar isi yang harus dikhawatirkan oleh anak berumur lima tahun seperti mereka.
Keluar dari bilik kamar mandi, tinggi ketiga bocah tersebut bahkan tidak sampai untuk melihat cermin wastafel. "Kalau begitu kita ubah kasusnya." Lexa menelusuri setiap laci yang ada di ruangan tersebut, hingga dia menemukan apa yang ia cari, pemutih.
"Bukan pembunuhan, melainkan perampokan oleh orang asing."
"Oh, ide bagus!"
Alex dan Lexa sudah kukuh, absolut. Ava mengerut sembari menggigit bibir, tidak yakin. Tapi kemudian dia mengikuti kemauan si kembar tersebut, karena dia juga tidak mau berpisah dengan mereka. Baru kali ini dia mendapatkan teman.
Membungkus tangan serta kaki mungil mereka dengan kresek, ketiganya menggosok bersih tongkat besi yang berhasil merenggut nyawa pria gemuk itu dengan pemutih, takut kalau masih terdapat jejak yang akan menunjukkan pelaku sebenarnya. Pasalnya Lexa pernah membaca kalau hidrogen peroksida, dalam pemutih, dapat menghapus bercak darah jika luminol digunakan dalam penyidikan polisi nanti. Tidak lupa juga mengelap lantai dimana langkah bernoda merah mereka saat ke kamar mandi.
Setelah itu, menggunakan kresek yang baru, ketiganya mengobrak-abrik kantor tersebut dengan diam-diam, tidak ingin menarik perhatian orang lain dengan kegiatan mereka saat terdapat mayat di tengah ruangan.
Sentuhan terakhir, petunjuk palsu. Jendela dibuka lebar. Memakai sepatu boot yang dua kali lebar besar dari kaki mereka, jejak kotor tercipta di lantai, mengelilingi ruangan seolah mengincar sesuatu.
Dan dengan begitu, TKP pun berubah.
Langit jingga gelap menandakan senja hampir selesai, sudah dekat waktunya makan malam.
Mereka bahkan belum berganti pakaian, baju mereka yang basah sudah kering seiring berjalannya waktu.
"Kita pergi ke hutan dulu, jadi jika para pengasuh bertanya kemana saja kita, itulah alasannya." Alibi.
Ava dan Alex mengangguk mengerti.
***
Malam berlangsung heboh.
Salah satu pekerja yang memanggil direktur ketika makan malam, sebagai pemimpin doa yang sudah menjadi tradisi mereka, berteriak ketakutan dengan pemandangan yang ia temukan.
Mayat kaku dan ruangan yang berantakan.
Polisi segera dipanggil.
Para pengasuh sibuk menenangkan anak-anak kecil yang merengek ketakutan dengan kehadiran orang asing. "Haruskah kita menangis juga?" Alex berbisik pelan kepada dua gadis yang menghampitnya di kedua sisi.
"Tidak perlu, mereka malah akan merasa aneh jika kita ikutan menangis," Lexa menimpali. "Apabila polisi akan menginterogasi kita, ingat saja kalau kita bermain di hutan dari pagi hingga senja."
"Tenang saja, aku pintar berbohong," Ava pun ikut berteguh hati.
Hanya Alex yang mengernyit, merasa bermasalah. Untung saja kembarannya menenangkan bocah itu, "Kalaupun kita terbata-bata atau gugup, mereka akan menganggap kalau kita takut dengan orang asing, seperti yang lain." Alex pun menghela napas panjang.
Dia siap.
__ADS_1
***
Kejadian tersebut ramai diberitakan di koran lokal. Sedikit melenceng dari yang mereka rencanakan, polisi mengkategorikan kasus itu menjadi pembunuh berencana, bukan perampokan. Pasalnya tidak ada barang yang hilang, jadi kacaunya TKP dianggap sebagai pengalihan belaka. Namun untung saja petunjuk yang ditemukan hanyalah jejak kaki berlumpur dari sepatu yang sudah mereka buang di hutan, artinya sidik jari ketiga bocah tersebut tidak ada.
Setelah menanyai anak-anak di panti asuhan, polisi lebih berfokus kepada para pekerja dewasa serta orang-orang yang berhubungan dengan direktur. Jadi penyidikan tetap menuju ke arah yang salah. Mereka aman.
Itulah kasus pertama mereka.
Ketiga bocah tersebut sudah kukuh untuk berniat tetap bersama.
Dan insiden ini masih halangan awal mereka.
***
"Alex?" Ava tidak mempercayai matanya. Bagaimana bisa dia ada di dimensi fantasi ini?
Bukankah dia ....
"Aku tidak percaya kau akan mengucapkan nama pria lain di depanku, Tuan Putri," pria di depannya membantah geram. Senyum lebar di wajah pucatnya yang tampan tidak pudar.
Ava pasti berkhayal, jadi dia memenangkan jantungnya yang hampir meloncat kaget. Ia menatap lagi pria tersebut. Mata biru langit yang masih Ava ingat, hanya saja ia tahu kalau rambut Alex berwarna coklat gelap, bukan putih bersih layaknya salju seperti laki-laki itu. Solusi lain, dia menggunakan skill observasinya.
Nama : Ellijah Tristan Frost
Ras : Manusia (kontraktor iblis)
Level : 235
Koin : 872816284963415
Kekuatan : 55
Kecepatan : 42
Kelentukan : 38
Mana : 101
Nama pria tersebut bukan Alex. Setidaknya Ava akan melihat tanda bintang jika namanya juga disensor.
Frost, huh?
Duke Frost maksudnya? Tunangan Eve?
Selain itu, levelnya 235, mendapat rekor tertinggi dari yang pernah Ava lihat, bahkan seorang ranker pun, Ib, hanya sedikit melebihi 100. Apalagi dengan wajah semuda itu.
__ADS_1
Namun ada yang lebih menarik perhatiannya, pada bagian ras, kontraktor iblis?
Bukankah ini tanda-tanda hal yang merepotkan ke depannya?