Hellbent

Hellbent
Bab 183: Prickly


__ADS_3

Meskipun semuanya pura-pura tidak tahu, tidak ada yang bisa menyangkal kalau Putri Eve memasang tembok imajiner yang membatasi interaksi mereka. Sang putri memang sudah terkenal sebagai orang yang anti-sosial jadi tidak ada yang terlalu kaget, meskipun hal tersebut tidak membantu mereka dalam memberanikan diri untuk menerima respon singkat, kering, dan seringkali menusuk ketika mereka berusaha mendekat.


Pengecualian yang ada hanyalah sosok balita yang mereka kenal sebagai naga yang tiba-tiba dibawa pulang oleh Putri Eve. Tapi hak istimewa itu sepertinya juga tidak banyak membantu.


"Kau seharusnya menghemat mana."


"Taphi aku ingin bhermain dengan teman-temanku!"


"Siwon, kita sedang berada di tengah gate labirin yang mengunci level dan status kita. Kau seharusnya sadar."


"Aku boshan!"


"Apapun itu, pokoknya jangan membuang-buang mana. Kita tidak tahu kapan kita akan membutuhkannya."


"Ugh, baik." Pada akhirnya, Siwon menuruti walaupun ia kesal saat dimarahi.


Ava tahu sikapnya tidak adil.


Siwon, naga cilik itu pada dasarnya hanyalah anak kecil yang terpaksa masuk ke dalam situasi krisis yang seharusnya diselesaikan oleh orang dewasa. Sayang, ironinya, balita tersebut memiliki skill dan status yang lebih baik dari kebanyakan bangsawan dalam kelompok mereka.

__ADS_1


Ava sadar kalau aura yang ia pancarkan lebih mirip seperti landak yang dilempari batu, tegang dan berduri. Bahkan Ellijah yang sehari-harinya bertingkah layaknya penguntit, lebih memilih untuk menjaga jarak terlebih dahulu. River juga berusaha untuk tidak mengganggu Ava walaupun pria itu hanya khawatir dengan kesehatannya, respon yang normal ketika ia ditemukan dalam keadaan berbasahkan darah.


Ah, entahlah.


Dia sedang sensitif dan Ava masih tidak berniat untuk berubah, setidaknya tidak untuk saat ini.


Mimpinya dua malam yang lalu masih menancap dalam hatinya yang berdarah-darah. Pedih. Namun mencabutnya hanya akan membuat lukanya terbuka, meninggalkan lubang yang ia takut tidak akan bisa ia tambal.


Jangan lupa tempat itu bukan tempatmu.


Benar. Dunia fantasi ini bukan dunia asalnya.


Perannya di sini hanya menjadi pengganti Eve yang masih belum nampak batang hidungnya, entah kemana.


Tidak ada yang benar-benar menerimamu kecuali kami.


Sejak kecil ia sudah menganggap si kembar sebagai orang terdekatnya. Keluarga? Teman? Ava tidak berani menempelkan label terhadap hubungan mereka.


Kalau tidak, kembalikan kembaranku yang sudah kau bunuh!

__ADS_1


Akan tetapi ... apakah kehadirannya sama pentingnya bagi Lexa?


Versi jahat Lexa dalam mimpinya telah mengoyak keamanan rapuh yang menjaga hatinya. Walaupun ia tahu, sosok dalam bunga tidurnya itu hanya manifestasi pikiran buruknya sendiri. Dari tiga serangkai, Lexa lah yang memegang peran sebagai orang bijak yang tenang, meskipun umur mereka tidak jauh berbeda, sejak mereka pertama kali bertemu di perpustakaan panti asuhan. Dalam pikirannya, Ava paham kalau Lexa tidak mungkin mengeluarkan kata-kata beracun tersebut. Namun hatinya tetap gentar.


Kemudian Alex.


Ava melirik Ellijah dari sudut matanya. Seorang Duke yang bertubangan dengan Eve, dopplegangger yang telah menculik Ava ke dimensi ini.


Hanya dengan melihat siluet pria itu dalam jarak pandangnya, Ava nyaris merasakan kefamiliaran yang membuatnya tenang. Nyaris. Karena Alex tidak memiliki mata yang bersinar gelap akan obsesi. Tidak berperilaku seolah hanya Ava lah dunianya. Tidak ada pula kehati-hatian yang dijalin rumit dalam hubungan mereka.


Alex bukan Ellijah.


Begitu juga sebaliknya.


Ava bukan Eve.


... Lebih cepat ia kembali ke dunia asalnya lebih baik.


Entah apakah ia masih tetap diterima oleh Lexa atau tidak, hal tersebut akan menjadi masalah bagi Ava di masa depan, bukan dirinya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2