
Ava mendapat tambahan 23.830 koin sekaligus, sama sekali tidak memberikan simpati kepada enam pembunuh bayaran yang tidak profesional tersebut. Mungkin dengan kejadian tadi mereka kapok dan tidak lagi mendalami pekerjaan seperti ini, bukankah dengan ini Ava sama saja berbuat baik?
Lagipula gadis itu sudah memberikan luka permanen pada serangan pertamanya. Satu lengan hilang, dua orang dengan otot serta saraf kaki yang teriris, paha dan bahu yang terkoyak, tidak lupa juga puluhan tulang yang patah. Jadi kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan sehari-hari akan terbatasi, apalagi jika digunakan untuk membunuh seseorang.
Selain uang, Ava juga mendapatkan beberapa informasi penting. Keenam orang itu adalah bawahan dari suatu organisasi bernama "Daggerion" yang menangani misi-misi kecil yang diterima kelompok tersebut, dari testimoni mereka misi-misi ini biasanya di dapatkan dari fitur tersembunyi dari [System] yang dinamakan Anggrek Ungu.
Anggrek Ungu pada dasarnya platform penghisap koin. Untuk membuka akses seseorang harus berlangganan terlebih dahulu, mengunggah apapun harus membayar, melihat postingan juga memakan uang, meninggalkan komentar pun mengorbankan duit. Namun di sanalah tugas dengan ribuan hingga jutaan koin sebagai imbalan didapat. Anggrek Ungu juga merupakan lapak penjualan item-item langka serta ekslusif. Postingan menarik pun disulap menjadi ladang uang. High risk high return. Jika seseorang tidak pintar mengelola akunnya, hanya kebangkrutan yang akan menunggu, tapi sebaliknya Anggrek Ungu akan menjadi tempat yang cocok bagi Ava untuk menguras dompet orang-orang kaya.
Sayangnya, tidak ada yang mengetahui identitas klien penyewa mereka. Wajar saja, permintaan untuk membunuh seseorang tidak akan diatur menjadi konsumsi publik, nama akun akan dirahasiakan oleh [System] itu sendiri.
Akan tetapi Ava sudah yakin terhadap tebakannya.
Si kakek merak itu akan menerima ganjaran yang lebih besar daripada dipermalukan di hadapan massa.
__ADS_1
"Sebaiknya kita pulang," Ava memutuskan. Meski tujuan awalnya tidak tercapai, hasil yang dapatkan tidak buruk juga.
Hao mengangguk secara otomatis, dalam tahap ini pria itu secara praktis akan bersujud jika disuruh. Rina benar-benar tipenya!
Namun belum sempat beranjak, bulu kuduk Ava berdiri, punggungnya seolah terjengat listrik hingga ia refleks mundur ke belakang untuk bersiaga. Enam orang yang ia hajar masih terkapar lemas di tanah, sudah tidak kuat bergerak. Akan tetapi, belasan tahun bertahan di lingkungan yang penuh kejahatan, Ava mengembangkan insting bertahan diri, dan seseorang di kejauhan hutan mengusik instingnya tersebut.
Ada lagi seseorang yang ingin membunuhnya? Kali ini, Ava tidak tahu sama sekali siapa.
Akan tetapi, dalam menit-menit yang berjalan lambat, tidak ada pertanda apapun selain perasaan Ava yang tidak enak. Indranya tidak menangkap keberadaan sosok lain, bahkan jangkrik yang sedari tadi berisik pun sekarang diam membisu.
... Benar, Ava sebaiknya pulang.
"Lari." Dalam hitungan detik, gadis itu sudah sampai di pinggiran hutan, kerlap-kerlip kota Oranera memberinya setitik rasa aman. Tidak ada yang mengejarnya, hanya langkah Hao yang tertinggal beberapa meter di belakangnya.
__ADS_1
Mungkin Ava hanya paranoid.
Mungkin.
***
"Dia benar-benar ada di sini."
"Apa yang ingin Anda lakukan, Tuan?" Setelah mengeluarkan skrol teleportasi dari ruang penyimpanan harta, item terbatas dari hadiah perjuangan di masa lalu, Duke Frost sudah membalap Eve untuk sampai di kota Oranera dua hari yang lalu.
"Identifikasi semua pria yang dekat dengan Nona Weinhamer." Dalam mata birunya, terdapat api amarah yang membara panas. Dadanya sesak, tidak tahan untuk diam ketika melihat tunangannya dikelilingi oleh pria ketika kabur darinya.
Satu lagi yang menjanggal, Eve yang dikenal sebagai alkemis genius kerajaan Edodale, kenapa tidak menggunakan sihir atau mana sama sekali dalam pertarungan tadi?
__ADS_1
Dia juga tidak mengingat kalau tunangannya sangat mahir menggunakan pisau, teknik berkelahinya pun seperti orang yang ahli, bukan pemula yang baru belajar empat bulan yang lalu.
Apakah kabur dari istana membuat putri tersebut berubah sedrastis itu?