Hellbent

Hellbent
Bab 54: Sarapan Sebelum Berlayar


__ADS_3

"Ok, siapa yang mau menjelaskan kenapa ada beberapa serangga di meja kita?" Dom tidak berbasa-basi, pria itu langsung menghina eksistensi tiga orang baru yang bergabung dalam sarapan mereka.


"Jangan ikut campur," Hao membalas tajam, terlihat kesal. Mereka berdua memang tidak akur sejak awal.


"Wah, tidak ada serangga yang setampan wajahku, Kucing Liar," Rai juga tidak mau kalah, melilit lawannya dengan kata sesinis ular. Pria itu tiba-tiba saja memutuskan untuk satu meja dengan mereka.


"Ah, maafkan kami yang menganggu sarapan kalian." Hanya satu orang yang terlihat benar-benar tidak enak dengan kelakuan dua pria lainnya. Ava belum pernah melihat dia, tapi dari skill observasinya gadis itu pun tahu kalau nama orang tersebut adalah Gu Yong, kakak besar yang dibicarakan oleh Hao.


River, yang paling sopan di antara kelompok Ava langsung menimpali, "Ah, tidak apa-apa, kalian tidak menganggu. Makanan yang dimakan bersama-sama akan terasa lebih enak."


"Lebih enak lagi kalau kita hanya berdua." Ava menghiraukan gumaman lirih Hao yang bersikeras duduk di sampingnya. Imajinasi romantis mengenai kencan pagi itu seketika pecah dengan kehadiran empat pria lain di meja mereka.


Ib kali ini tidak ikut bergabung, meskipun baginya kehilangan sponsor kejam adalah peristiwa yang menyenangkan, laporan yang harus ia buat adalah manifestasi mimpi buruk.


Semua orang di meja memesan pesanan mereka masing-masing, "Ah, aku ikut dengan gadis di sampingku ini," begitu juga Hao yang keras kepala mengorder makanan yang persis sama dengan Ava, sup krim jagung dan teh susu.


"Apa? Jangan!" Yong melarang, tapi kakaknya sudah menjadi prioritas kedua dalam satu malam. Hao sendiri sebenarnya tahu betul kalau tubuhnya tidak bisa mencerna benar produk susu.


"Kubayangkan kentut sepanjang hari tidak akan membuat seorang wanita terkesan," Rai meledek. Pernyataannya nyaris membuat Hao melempari pria itu dengan segelas air.


Intoleran laktosa? "Aku akan makan apapun yang kumau!" Hao malah mulai mirip dengan bayi dewasa.


Dalam situasi sepeti ini, Ava yang harus mengalah. "Kalau begitu pesanannya akan kuganti menjadi sup daging dan jus apel. Dan kau, sebaiknya juga ikut mengganti pesananmu," Ava menatap lurus pada sepasang mata Hao, yang tidak bisa tenang di bawah sorotan wanita yang ia sukai.

__ADS_1


Apa yang Ava katakan jelas-jelas membuat seisi meja bereaksi. "Padahal aku tertarik melihat Hao yang berusaha keras menahan kentut sepanjang hari," Rai menyeringai jahil, kipas sakuranya berkibas pelan. Yong diam-diam mengirimkan bungkuk terima kasih kepada Ava. River tersenyum bangga. Lorah mengepalkan tangan kanannya dengan semangat. Sedangkan Dom mendengus jengkel.


"Jadi benar kalian akan mengawal kapal hingga sampai ke tujuan?" Setelah itu Ava berusaha mengarahkan pembicaraan pada topik yang lebih berguna daripada membahas cuaca mendung.


Kejadian tadi masih membuat Hao senang, sehingga jawabannya lebih detail daripada yang seharusnya, "Benar, setengah meneruskan pencarian orang hilang, meskipun kelihatannya percuma saja. Setengahnya lagi mengawal kapal karena para bangsawan yang cerewet dan penakut." Yong langsung menendang adiknya dari bawah meja, memperingati. Membicarakan hal buruk tentang bangsawan tidak akan disarankan pada sebagian besar belahan dunia.


Omong-omong, prediksi Ib benar.


"Untuk pertama kalinya aku setuju dengan ucapanmu, para bangsawan memang cerewet dan penakut," Dom setengah hati mendukung, sepenuhnya berasal dari kebencian pria itu dengan masyarakat atas, bukan karena ia menyukai Hao.


"Tenang saja, kami juga sering bergosip tentang pihak dengan status sosial tinggi," Ava menenangkan Yong dan Rai yang terlihat sedikit panik.


"Sudah beberapa hari, artinya presentase mereka selamat semakin kecil, begitu?" River dengan polosnya menyetir topik kembali.


"Karena mereka bisa saja terluka, kehabisan napas, atau dimakan?" Jarang sekali Dom bertanya tanpa intonasi kasar.


"Benar, karena kita berurusan dengan monster amfibi pemakan daging, selain itu dari daftar orang hilang yang kulihat," Yong mengangguk.


"Kecuali jika mereka mempunyai skill yang berguna atau berlevel tinggi?" Lorah malu-malu bertanya, mengingatkan mereka kalau topik ini terlalu mengerikan untuk dibicarakan di depan anak kecil.


Namun tetap saja Rai menjawab masam, "Kalau orang-orang yang hilang itu memang memiliki skill yang berguna, seharusnya mereka muncul dari kemarin. Selain itu level yang tinggi tidak akan membantu kalian untuk menahan napas di bawah air."


Ava hanya menyimak betapa pesimisnya mereka terhadap pencarian ini, terlebih lagi terdengar tidak ada motivasi dalam tindakan mereka. Hanya sebuah orkestra untuk dilihat meskipun sia-sia.

__ADS_1


"Semoga keluarga yang ditinggalkan memiliki ketabahan," hanya River yang memandang masalah ini dari perspektif kemanusiaan. Mungkin karena masa lalunya sebagai penyintas outbreak yang kehilangan anggota keluarga.


Meskipun setengah tulus, seisi meja mereka mengamini.


***


"Panggilan untuk para penumpang! Kapal akan segera berangkat!" Suara dari salah staf kapal menggelegar di pesisir pulau kecil tanpa nama tersebut. Sudah waktunya mereka berlayar lagi, melanjutkan perjalanan ke Feretrum Sanctus.


Kamar Ava, River, Dom, dan Lorah dipindah ke sisi kanan lantai bawah, lebih dekat dengan kantor staf. Kamar kosong lainnya yang ditinggal oleh para penumpang yang memilih pulang digunakan sebagai akomodasi kelompok bala bantuan.


Dan seperti yang diduga, Hao bersikeras tinggal di kamar sebelah. Ava mengernyit akan tindakan pria itu yang terang-terangan menjadi penguntit.


Kenapa Ava menjadi magnet orang-orang aneh akhir-akhir ini?


Omong-omong power bank Ava sudah selesai. Bia menyelesaikannya lebih cepat dari yang ia duga. Meskipun bentuknya lebih mirip pretelan mesin tanpa kasing, setidaknya kini ia bisa mengisi daya telepon untuk memainkan musik ataupun mengambil foto dan video sebagai bukti, kalau dia pernah berada di dimensi lain. Hal seperti ini memerlukan penelitian lebih lanjut. Selain itu akan menjadi cerita yang seru meskipun orang-orang tidak akan pernah percaya. Mungkin Ava bisa menjualnya bukti-buktinya ke program televisi, majalah, atau channel konspirasi.


Baru saja selesai, Bia sudah mendapat komisi lain dari Ava. Untungnya toko dalam [System] memiliki fitur chat.


Modifikasi untuk kalung budak.


Meskipun Bia sangat lama membalas, mungkin karena ia ragu menerima komisi ini mengingat sistem perbudakan tidak diijinkan di negara asalnya, Igoceolon, namun Ava sangat membutuhkan artifak ini untuk dirinya sendiri.


Karena indranya yang terlalu sensitif, ia sampai kehilangan jam-jam tidur.

__ADS_1


__ADS_2