Hellbent

Hellbent
Bab 122: Es dan Cheetah


__ADS_3

"Mari kita membelikanmu camilan terlebih dahulu, makanan manis akan membuat sakit hati menghilang," Ava duduk di samping Lorah yang sudah tenang, akan tetapi mata merahnya akibat menahan tangis masih terlihat.


Namun sebelum gadis cilik itu mengangguk, Ellijah menyela, "Bukankah sebaiknya kita lekas-lekas menaiki kapal? Keberadaan kita telah terekspos."


"Hah, keberadaan kita sudah menjadi perhatian orang-orang semenjak keluar dari penginapan kalau kau ingin mengeluh, salahkan pengikut-pengikut yang berisik itu."


Meskipun para mage buru-buru membereskan masalah yang dilakukan anggotanya, keberangkatan mereka lagi-lagi harus ditunda, kali ini karena memanglah itu keinginan Ava. Ia tidak mau meninggalkan seorang anak kecil yang baru saja dianiaya. Masa kecil suramnya malah akan menyerangnya dalam mimpi buruk nanti malam, terlanjur teringatkan. Lagipula, hal tersebut akan meninggalkan rasa pahit di ujung lidahnya.


Yah, status dan uang memang membuat semuanya lebih mudah.


"Cara bicaranya sombong banget!" Dom menutupi sisi bibirnya agar gerakannya tidak terlihat oleh Duke Frost, akan tetapi keluhannya terlalu keras untuk disebut bisikan.


"Tapi jangan cari gara-gara dengan dia, karena hobimu adalah bertengkar," balas Ava, tidak perlu membantah karena Dom memang benar.

__ADS_1


"Hei! Kau yang bertingkah sok tahu terlebih dahulu!"


"Karena aku memang tahu, kenapa kau ingin aku berpura-pura bodoh?"


"Apa?! Kau itu--"


"Jaga mulutmu, Beastman. Kau sedang berbicara dengan seorang putri kerajaan." Ellijah tidak menyembunyikan kebenciannya terhadap situasi yang terjadi. Mata birunya menatap pelipis Dom dari tadi, seolah ingin menancapkan belati ke kepala pria tersebut.


Di sisi lain, pengalaman kasar dari jalanan membuat Dom tidak mudah terintimidasi. "Kami sedang mengobrol santai," ia menimpali, lalu melanjutkan dengan seringai, "Orang luar tidak perlu ikut campur."


Untungnya, mereka saat itu sampai di kafe dekat pelabuhan. Seorang pelayan menghampiri rombongan mereka dengan senyum lebar, mengenali kain mahal dari baju yang Ava serta Ellijah pakai, meneriakkan label 'orang kaya'.


"Meja untuk lima, bukan, enam orang. Teh hitam dan susu, serta keluarkan camilan yang akan dipilih oleh gadis ini." Mendengar runtutan perintah orang di depannya, si pelayan dengan sigap membuka menu dan menjelaskan setiap daftarnya dengan semangat selagi menggiring mereka ke tempat yang tersedia. Lorah memilih dengan malu-malu.

__ADS_1


Ketika Ava ingin duduk, ia diinterupsi. "Kau duduk di sebelahku." Sekali lagi, Ellijah bersikap tidak kooperatif, Dom pun tidak membantu situasi dengan sengaja memanas-manasi suasana, cheetah jantan tersebut berniat mengambil kursi di sebelah Ava. Kini Ava berada di sebelah Ellijah, Dom dan Lorah duduk berdampingan seperti biasa, meninggalkan dua kursi kosong yang bum ditempati. "Rose, duduk. Jangan coba-coba membuat kita lebih mencolok lagi." Pelayan pribadi sang putri itu menurut dengan berat hati, karena posisinya berada di antara dua laki-laki yang berusaha menampakkan dominasi dari tadi.


Kini, hanya satu kursi kosong di sebelah Ava yang tidak berpenghuni. Akhirnya mengajukan pertanyaan yang telah gatal ia tanyakan. "Dimana River?"


Ava kira River akan terus menempel pada Dom dan Lorah, mengingat alasan terbesar pria itu mengikuti Ava sebagai teman perjalanan adalah karena Ava dapat menggantikan posisi adiknya yang di masa lalu tidak bisa River lindungi. Maka dari itu, Lorah malah menjadi kandidat yang terbaik, umur bocah itu sama dengan adik River ketika kejadian yang membekas sebagai trauma bagi penjinak monster tersebut terjadi.


Namun Ava tidak melihat pria berambut coklat dengan mata hijau ramah itu dari tadi.


Saat itulah Lorah yang hampir memakan sepotong kue terhenti, Dom juga diam dengan muka gelap mengerut.


...


...

__ADS_1


Sesuatu telah terjadi.


__ADS_2