
Dengan selesainya penahanan mage sebagai mata-mata kelompok *******, prosedur teleportasi berjalan lancar setelah tiga kali pengecekan ulang. Kepala divisi beserta sisa rombongannya meminta ampun dan maaf sepanjang waktu yang tersisa. Tindakan mereka yang didasari oleh keserakahan pada akhirnya menjadi perangkap untuk mereka sendiri. Namun itu bukan masalah yang Ava ingin tangani, biarkan Marvin yang mengurusnya.
Mage tua yang awalnya sudah keriput, terlihat sekali 10 tahun terkikis sisa umurnya karena masalah ini. Meskipun begitu dia harus menyelesaikan tugasnya dengan baik untuk menyelamatkan nama hormat tower sihir kerajaan, terutama divisinya.
Cahaya biru dengan cemerlang bersinar dari garis-garis formasi yang digambar dengan kapur, batu mana yang ada pada titik-titik pertemuan juga bergetar serta berbinar terang.
Menyilaukan. Ava tidak tahan dengan kecerahan yang membutakan, matanya tertutup.
Zap!
Untuk sesaat seluruh indranya kebas, lalu tiba-tiba disorientasi membuat kepalanya pusing dan badannya terhuyung.
"Woah!" Ava dalam sekejap tiba, tubuhnya yang nyaris jatuh ditopang oleh sosok kekar Ellijah yang dengan senang dijadikan sandaran.
"Selamat datang, Tuan Putri dan Duke Frost." Seorang mage paruh baya beserta lima muridnya langsung menyambut dua individu berstatus tinggi tersebut.
Mau tidak mau Ava berdecak. Apa Raja Dion benar-benar menyampaikan kalau ini adalah misi rahasia?
__ADS_1
***
Dia kembali lagi ke Oranera.
Tujuan Ava adalah Crimsonwood, daerah perhutanan yang hampir sama sekali dijamah oleh siapapun karena kelebatan pepohonan yang menyulitkan ekspedisi menyeluruh, akibatnya pulau yang termasuk dalam bagian luar benua Feretrum Sanctus tersebut terbengkalai dan menjadi sarang monster akibat gate-gate yang tidak ditangani. Dan lokasi tower sihir yang paling dekat dan memungkinkan untuk kerja sama dengan kerajaan Edodale ialah tower sihir di kota Oranera, kota terakhir yang ia kunjungi sebelum dipaksa menjadi seorang putri.
Hm, bagaimana kabar River dan yang lain?
Mereka tidak pernah berkirim pesan setelah Ava mengabari keadaannya yang baik-baik saja karena penculikan Ellijah.
... Mungkin mereka tidak sedekat yang ia pikirkan.
Benar, Ava perlu membaringkan diri terlebih dahulu sebelum meneruskan perjalanan. Teleportasi menggunakan ritual yang kompleks ternyata memakan beban yang banyak dari tubuhnya, berbeda dengan skrol yang dengan mudahnya Ellijah buang-buang. Mungkin sebaiknya Ava memilih jalan yang mudah dari awal.
Peduli apa dia kalau skrol teleportasi yang menjadi warisan keluarga dihabiskan dengan semena-mena oleh pewaris mereka sendiri.
Ava menghela napas untuk meringankan hatinya yang kesal. "Akan saya siapkan teh untuk menyegarkan diri Anda, Tuan Putri." Rose dengan sigap keluar dari ruang penginapan.
__ADS_1
Dalam situasi seperti ini, memiliki pelayan membuatnya lega.
Sekarang, yang mengganggunya tinggal satu.
"Kenapa belum pergi juga kau?" Ellijah masih berdiri tegak di hadapannya. "Aku ingin mengistirahatkan diri, pergi sana ke kamarmu sendiri."
"Kau beristirahat saja, aku akan tetap berjaga." Sayangnya, Duke Frost dengan leluasa mengindahkan kode pengusiran Ava.
Gadis itu tidak nyaman dengan kehadiran seseorang ketika ia ingin tidur atau hanya memejamkan mata, terlalu banyak kenangan buruk untuk membuatnya menurunkan kecurigaan. "Kalau tetap ingin berjaga, di luar saja. Jangan di sini."
"Lebih dekat lebih baik."
"Jadi kau ingin melihatku tidur?"
Tanpa ada sanggahan, Ellijah hanya tersenyum tipis, nyaris tidak nampak.
"Ugh, dasar orang aneh."
__ADS_1
Ava seharusnya bersikeras untuk membawa Harry daripada Ellijah. Pengawal pribadinya itu tentu saja lebih penurut daripada pria yandere tersebut.