Hellbent

Hellbent
Bab 127: Eve Bagi Ellijah


__ADS_3

Ellijah kecil mau juga seperti itu.


Tidak disalahkan.


Tidak dimarahi.


Tidak dipukul.


Jadi tanpa sadar, ia mengikuti langkah Eve dengan hati yang berdebar-debar. Mungkin saja ia bisa meniru apa yang dilakukan gadis itu. Bukankah nanti ia akan diperlakukan seperti itu?


Tidak lama, setelah menelusuri lorong panjang dan rumit istana, mereka sampai di sebuah ... taman? Tapi Ellijah melihat kaca sebagai pembatas-pembatasnya. Di rumahnya ia tidak memiliki bangunan seperti ini.


"Petik bunga-bunga merah itu dan berikan kepadaku." Eve menunjuk, tanpa memandang Ellijah sedikit pun.


Hah? Apakah ini tugas pertamanya? Kalau ia menurut, apakah sang putri akan mengajari Ellijah untuk menjadi seperti dirinya?


Lagipula memetik bunga tidak ada sulitnya.


Ia lebih memilih hal tersebut daripada disambit dengan rotan oleh ayahnya.


Ellijah lalu melangkah dengan dada terusung. Tawa kecil dari Eve tidak dapat ia dengar.


... Omong-omong, kenapa bunga itu bercahaya?


"Agh!" Tangan Ellijah gemetar dan panas, ujung jarinya terasa terbakar.

__ADS_1


"Bukankah keluarga Frost menurunkan atribut es dari generasi ke generasi? Seharusnya kontak dengan bunga beratribut api tidak sesakit itu. Coba sekali lagi."


Saat Ellijah mendongak, wajah Eve yang tersenyum lebar menghalangi cerahnya langit.


***


Semenjak itu Ellijah semakin sering dibawa ayahnya ke istana kerajaan, dan setiap kali ia sampai, Eve selalu menyambutnya.


... Memang benar, ayahnya tidak lagi sering memukulinya di rumah. Cambukan sekarang digantikan oleh elusan di kepala serta bisikan, "Terus dekati Tuan Putri."


Dia tidak lagi kesakitan karena ayahnya.


Namun ... di istana beda lagi.


"A-apa ini?" Ellijah bertanya gugup, mulutnya kering.


"Lihat." Tanpa menjelaskan, Eve sudah menekan tombol pemicu.


Pak!


Jangkar kecil melesat cepat bersamaan dengan bunyi lantang, tertancap pada tembok di ruangan mereka berada.


Sayangnya ..., "Aw!" Ellijah merintih. Karena dorongan angin kuat saat jangkar dalam item tersebut dikeluarkan, tangan mungil Ellijah terantuk meja, memerah dan kemungkinan besar akan membentuk memar.


Dia tetap kesakitan.

__ADS_1


Bedanya ....


"Ah, kau terluka lagi." Sang putri mengeluarkan sebuah botol dari kantong gaunnya. Cairan hijau tertuang secara dermawan pada bagian yang terluka. Dalam sekejap, rasa sakit Ellijah hilang.


"Ini artifak yang baru kubuat, sepertinya aku harus mengurangi tekanan anginnya."


Eve adalah gadis yang pintar. Tidak satu atau dua kali saja Ellijah disuruh untuk mengumpulkan bahan pun menjadi subjek eksperimen dari benda-benda yang dibuatnya.


"Wah, keren!" Jadi meskipun ia kesakitan, rasa sakitnya langsung lenyap, ditambah lagi apapun yang Eve lakukan bersifat seru.


Ellijah memilih untuk lebih dekat dengan Putri Eve.


Dan ketika para orang dewasa membuat mereka berdua bertunangan, pukulan dari rumah sepenuhnya hilang. Ellijah bahkan tidak tahu apa itu artinya bertunangan, tapi ia paham kalau hal tersebut adalah hal yang baik. Dan ia tidak mau kehilangan hal baik itu.


Setelah itu, damba yang Ellijah rasakan berubah menjadi keyakinan dan keinginan untuk selamat.


Setiap permintaan Eve ia penuhi tanpa keluhan.


Bertahun-tahun selanjutnya, Duke Frost, ayah Ellijah, meninggal dunia karena serangan kaum barbar Utara.


Banyak hambatan serta rintangan yang menghadang ketika Ellijah akan mewarisi status sebagai Duke. Alasan utamanya ialah "usia yang muda, tidak berpengalaman". Sayangnya, dari kecil dekat sang putri, menularkan sikap tidak toleran dan keras kepala kepada Ellijah.


Jadi, para relatif yang menantang kekuasaan barunya pun dibinasakan tanpa ampun.


Seperti yang ia kira, Eve mendatangkan hal-hal baik untuknya.

__ADS_1


__ADS_2