Hellbent

Hellbent
Bab 192: Peran dalam Pikirannya


__ADS_3

"Jadi, siapa "permaisuri" di --"


Ava sudah bisa menebak apa yang ingin ditanyakan iblis cerewet itu, karena itulah ia memotong terlebih dahulu. "Sekarang kita tahu siapa yang melihat raja secara resmi terakhir kalinya, tapi apa penyebab kematiannya? Ada yang memiliki petunjuk?" Mata jeli gadis itu segera menangkap gerak-gerik mencurigakan dari sepasang anak-ibu di hadapannya, dia menekan, "Bagaimana dengan kalian? Kalian kelihatannya memiliki sesuatu yang ingin dibagikan."


Si ibu melihat sekeliling waspada, tapi pada akhirnya memutuskan untuk meletakkan setumpuk kertas di atas meja, laporan investigasi yang ditandatangani basah oleh kepala penjaga. "Anakku menemukannya di kamar yang ia tempati."


"Oh!" Ava berseru. Anak kecil itu menjadi kepala penjaga? Percaya atau tidak, ia memutuskan bahwa peran kedua orang tersebut akan menjadi penting dalam rencananya.


"Di sini tertera kalau sang raja meninggal karena luka tusukan di dadanya," salah satu remaja yang terlihat lebih kalem, yang duduk tepat di sebelah si ibu yang bingung apakah ia harus menutupi telinga anaknya atau tidak, menginformasikan seluruh meja tentang bacaannya.


Hm.


"Oh! Oh! Berapa kali?" temannya menyahut, masih terlalu antusias untuk tingkat kenyamanan Ava.


"Satu kali."


"Hm, kalau begitu pembunuhnya tidak memiliki motif dendam."


Ava menyanggah lagi, "Atau, bisa saja, yang membunuh menyewa pembunuh profesional untuk motifasi apapun yang ia miliki."


Ruang bawah tanah yang awalnya dipenuhi bisik-bisik langsung hening. " Bagaimana ... uh, Anda tahu?"


"Yah, misi kita tidak begitu spesifik. Walaupun kalian tidak secara langsung mengatakannya, aku tahu kalau kalian berpikir pelakunya adalah salah satu dari kita," saat pandangan Ava mengedar, tidak ada yang berani menatapnya balik, mungkin saja terintimidasi dengan ketenangan dan aura intelegensi gadis itu. Kecuali, Asmo. "Kalau bukan salah satu dari kita siapa lagi~?"

__ADS_1


"Jika kau keluar dari kamar sebentar saja, kau pasti tahu kalau ada orang lain yang mondar-mandir di istana ini." Ava mahir dalam menyembunyikan sindirannya dalam kalimat pernyataan.


Ellijah yang dari tadi diam, kini membantu argumen gadis di sebelahnya, "Benar, para pelayan yang membawakan makan malam dan membersihkan kamarku adalah orang asing, bukan di antara kalian."


"Ah, benar! Aku hampir memukul salah satu dari mereka!" pria tua di ujung meja tersentak sadar. "Apa?! Mereka tiba-tiba menyuruhku untuk membuka baju! Apa-apaan itu?!"


Hm, kehidupan yang berubah drastis karena status memang biasanya membuat orang-orang bersikap seperti hewan yang terluka, dengan kata lain waspada, ketakutan, dan agresif. Ava bersyukur memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, kalau tidak ia mungkin sudah gila beberapa bulan yang lalu. Namun, masih banyak orang yang menilai hanya dari reaksi buruk seseorang ketika tertimpa kejadian yang spesifik tanpa mengenal mereka lebih dalam, contohnya saja dalam ruangan ini.


Mengamati pandangan was-was dari sekitarnya, Ava langsung tahu siapa yang bisa ia jadikan kambing hitam.


"Nah," gadis itu berusaha mengambil alih arah pembicaraan yang terancam menjadi tegang, "Intinya, terdapat karakter yang bisa saja terlibat selain pemain yang memainkan peran seperti kita."


"Jadi pengkhianatnya adalah selain kita semua?"


"Ah."


"Paham, paham."


Mereka mengangguk mengerti. Sayangnya, Asmo akhirnya memiliki kesempatan untuk menyeletuk, "Kenapa kau takut sekali mengungkapkan peranmu, Tuan Putri~?"


Seperti yang ia bilang sebelumnya, iblis cerewet, selalu saja ingin memojokkan Ava.


Namun, ia tidak bisa menghindar lagi kalau Asmo bersikeras untuk terus mengganggunya. Menolak menjawab hanya akan menghancurkan rasa percaya yang pemain lain bangun untuknya, tapi Ava juga harus menjalin kata-katanya dengan hati-hati, dan siap dengan bantahannya. "Aku adalah permaisuri dari sang raja."

__ADS_1


Semuanya terkesiap, Asmo menyeringai lebar. "Jadi kaulah pengkhianat yang membunuh raja~"


"Bukan aku."


"Tapi kau yang terakhir kali melihat raja~"


"Secara resmi, benar, tapi sekretaris tidak mencatat pertemuan tidak formal seperti para pelayan yang melayani sang raja, prajurit yang menjaga pintu kamarnya, atau bisa saja kepala sekretaris kita menemani sang raja sampai beliau tidur. Kita belum tahu. Lagipula, permaisuri menemui raja dengan agenda makan malam privat, kalau begitu kenapa penyebab kematiannya luka tusuk di dada? Bukan racun?"


Tidak ada yang membantah.


"Sebaiknya kita pikirkan lagi matang-matang, kita bahkan belum tahu caranya untuk memilih "pengkhianat" yang ditentukan oleh gate."


Seolah [System] mendengar kericuhan mereka, notifikasi baru muncul.


Ding!


Waktu berdiskusi selesai!


Pertemuan rahasia dibubarkan!


Tuliskan nama pengkhianat menurut Anda!


___________

__ADS_1


Kesempatan untuk menuliskan nama hanya satu kali, pilihan tidak bisa dirubah.


__ADS_2