
Karena gangguan tadi malam, Ava bangun kesiangan untuk melakukan olahraga rutinnya, karena itu dia hanya melakukan simulasi bertarung dengan semua poin status yang bertambah.
Perubahan dasar dari tubuhnya ini untung saja disertai dengan peningkatan poin status indra pula, jadi meskipun Ava sedikit pusing dengan pergerakannya yang lebih cepat daripada biasanya, semua alat indranya berhasil menangkap informasi di sekitarnya dengan baik. Omong-omong, intelegensi apakah juga masuk dalam pertimbangan ini? Ava sebenarnya tidak tahu, poin untuk intelegensi sendiri masih abstrak penggunaannya, tidak banyak buku yang menjelaskan mengenai hal tersebut. Ia hanya tahu kalau poin dari intelegensi dan indra berguna untuk meningkatkan level skill observasinya.
"Semoga perjalanan kalian disertai dengan berkah dari dewa," Selena memberi salam perpisahannya dengan dua telapak yang terkatup, membungkuk hormat dengan ekspresi tenang.
River membalas dengan meniru gerakan Selena, mengucapkan pula kalimat yang sama, "Semoga perjalananmu disertai dengan berkah dari dewa." Sepertinya begitulah budaya di sini, atau ini hanya eksklusif untuk individu yang religius?
Ezra dan rombongannya kemudian muncul juga. Masih setengah jam tersisa sebelum keberangkatan kapal. Si pangeran tidak akan tiba-tiba mengikutinya lagi, kan?
"Selamat pagi, Ez-- maksud saya, Tuan." Melihat River yang tiba-tiba saja berbicara formal, Ava pun tahu jika River juga dikunjungi oleh si pangeran dan kedua pelayannya itu, mengungkapkan rahasia mereka beserta kesempatan yang ada. Namun melihat penjinak monster tersebut masih saja menempel pada sisi Ava, sepertinya dia juga menolak tawaran yang diberikan Ezra.
"... Kalian bisa memperlakukanku seperti biasanya, lagipula aku sedang tidak ingin menarik perhatian kerajaan sebelum pasukanku siap." Yah, Ava paham dengan sentimen itu, ia juga akan menganggap jika sebuah bibit lebih baik dipotong saja jika memang mengancamnya, dalam hal ini putri ataupun pangeran yang terlebih dahulu sudah memupuk skor kredit mereka guna memperebutkan takhta.
Omong-omong, mumpung si pangeran sendiri yang sudah mengijinkan, "Jadi, kalian akan pergi kemana?" Ava tetap bersikap normal.
"Tujuan kami adalah Berloi!" Roy membalas dengan semangat. Berloi, kerajaan yang berada di sebelah selatan benua Meridianam, terpisah dari kerajaan Igoceolon karena dua kerajaan lainnya, Viridium dan Ronik, sehingga mereka tidak pernah memiliki konflik wilayah. Suasana politik yang ramah menandakan hubungan baik antara Berloi dan Igoceolon. Si pangeran sudah menetapkan targetnya yang selanjutnya.
Untung bagi Ava. "Tapi bukankah lebih cepat jika kalian mengambil jalur darat?"
"Ah, kami memang menaiki kereta kuda nantinya."
Jadi mereka ke pelabuhan hanya untuk berpamitan dengannya dan River? Ia sedikit tersentuh.
"Semua penumpang naik!" Staf kapal mulai memanggil.
Waktunya berpisah.
"Semoga apapun yang kalian inginkan dapat tercapai," Ava menghadirkan senyum pada keempat orang yang dipamitinya.
"Kau juga," Ezra membalas.
"Siap!" Roy menyahut semangat.
__ADS_1
"Nona juga," masih dengan wajah dingin, Al menimpali datar.
"Berkah dewa bersama kalian." Ava secara spesial berdoa untuk Selena yang kelihatannya bersedia menjadi pendeta pribadi milik si pangeran.
Ava dan River menaiki papan landai yang digunakan untuk menaiki kapal, lalu menunjukkan tiket mereka kepada staf yang bertugas. Namun belum selangkah menginjakkan kaki ke badan kapal, River ditahan. "Khusus untuk Anda, mohon jangan memanggil monster peliharaan Anda di atas kapal, jika memang situasi mendesak, harap pasangkan ini ke leher mereka." Sebuah kalung besi dengan diameter seperti bola basket di dorong ke dada River.
Emosi Ava langsung naik, tidak sopan sekali mereka terhadap penumpang! Dia hampir melompat, jika saja River sedetik lebih lambat dalam membalas, "Baiklah, terima kasih."
Baiklah, terima kasih?
Baiklah, terima kasih?!
Tangan Ava mengepal, dapat ia rasakan kukunya yang semakin menusuk di telapaknya. Namun gadis itu sadar, jika ia membentak staf tambung tersebut, mereka malah akan mendapatkan perhatian yang lebih lagi dari para penumpang lain yang sudah memberikan mereka tatapan sinis.
Jadi Ava tersenyum, mengucapkan rasa terima kasih pula.
Namun ia akan ingat wajah-wajah orang di sana.
Jika teman sekamar mereka juga menaruh prasangka buruk terhadap River hanya karena skill pria tersebut dalam menjinakkan monster, Ava bisa saja 'tidak sengaja' mencampurkan racun paralisis ke minuman mereka.
"34. 34," setelah mendapatkan kunci dari staf kapal yang berjaga di lorong, River bergumam pelan sembari mencari kamar mereka. Ava mengikuti dengan mata was-was meskipun bibirnya tertarik ke atas dengan keramahan palsu.
"Ah, ketemu!" Pintu kayu coklat terayun terbuka, menampakkan dua tempat tidur bersusun yang dipisahkan oleh laci dengan lampu tidur yang masih mati, menyisakan jarak untuk dua orang dewasa di antaranya.
Masih kosong.
"Aku tempat tidur atas," Ava sudah mengklaim tempatnya. River terkekeh geli, tangannya otomatis mendarat di puncak kepala gadis tersebut, menepuknya lembut, "Aku di bawah kalau begitu, biarkan teman sekamar kita mendapatkan ranjang susun yang satunya."
Sebenarnya Ava tidak perlu menyusun barang-barang di kamar mereka, mengingat stok-stok penting ia simpan di inventori, hanya sebuah ransel ia taruh di sudut ranjang berisi barang-barang dari dunia asalnya Namun River menemukan cara untuk memenuhi inventori sekaligus menggotong barang lain yang masih saja banyak. Pakaian, celana, topi, obat, payung, boneka kayu, buku, buku, buku, dan buku.
Ava tidak tahu River serajin itu membaca buku.
Namun gestur selanjutnya membuat Ava berhenti bergerak. Tumpukan buku yang River bawa ia serahkan kepada gadis itu.
__ADS_1
Ava tidak paham, kenapa orang-orang selalu menganggap pria ini sebagai pembawa malapetaka. "Kau bisa membawakan satu buku saja, tidak perlu sebanyak ini."
"Tapi kau membaca cepat sekali, satu buku hanya akan membuatmu bosan nanti."
Ava memperhatikan judul-judul yang dibawakan oleh River.
Geografi 7 kerajaan. Sejarah dunia volume VII. Mungkin karena River sering melihat Ava membaca buku seperti ini saat menemaninya ke perpustakaan untuk mencari informasi ketika ia baru saja di lempar ke dimensi asing ini.
Alkemis dan mana. Ensiklopedia tanaman herbal. Berhubungan dengan profesi palsunya sebagai Herbalis, Ava juga perlu mencari tahu seluk beluk bahan-bahan yang ada dalam resep di jurnal Eve, mungkin saja ada perangkap yang tidak ia ketahui.
Berdegup dalam dua hati.
Hah?
Malam panas di musim semi.
Tunggu dulu.
Pelukan di bawah rembulan.
Novel romansa ... dewasa?
"River, apa kau tahu buku seperti apa yang kau berikan?"
"Eh? Apakah ada buku yang tidak menarik? Hampir semuanya itu direkomendasikan oleh penjaga toko buku," River menimpali polos.
Ava mengangkat tiga buku terakhir. "Apa kau benar-benar tidak tahu kalau ini adalah ... novel dewasa?"
"Novel dewasa ...?" Seketika itu wajah River memerah. Tangannya menggapai panik, berusaha merebut buku yang ada di tangan Ava.
"Penjaga toko buku kemarin bilang kalau ketiga buku itu populer untuk perempuan yang seumuran denganmu!" pria itu memekik, menjustifikasi dirinya.
Kali ini Ava yang terkekeh geli.
__ADS_1