
"Mama! Mama!" Balita asing terkikik girang di gendongan Ava, gadis itu menjulurkan kedua tangannya, menciptakan jarak untuk lebih memperhatikan makhluk kecil tersebut.
"Sebuah balita?"
Sebuah.
Nama: Siwon Han
Ras: Naga
Level: 154
Kecepatan: 34
Kekuatan: 39
Kelincahan: 40
Mana: 67
Koin: 21
Skill: Dark Souls (VI)
... Untuk ukuran bocah, bukankah levelnya terlalu tinggi?
__ADS_1
"Mama! Mama!"
"Aku bukan mamamu." Jaga-jaga kalau saja balita itu masih belum mengerti kalimatnya, Ava menggeleng keras. Namun tadi dia sudah membentuk kalimat sempurna, kan?
Agh, Ava masih bingung.
Sayangnya, anak kecil tidak memiliki rasa konsiderasi.
Mata bulat yang besar serta lentik seketika berair, tidak lama kemudian rengekan berisik memantul di antara pepohonan.
"Jangan menangis. Cup, cup."
Pertama-tama, mereka harus keluar terlebih dahulu dari wilayah hutan. Ava masih belum tahu monster seperti apa yang akan ia hadapi, jadi lebih baik bergerak di tempat terbuka terlebih dahulu, karena tangisan balita tersebut sama sekali tidak membantu situasi, para monster akan bergegas menemukan lokasi mereka.
Bahaya akan segera datang.
Benar-benar janggal, levelnya tidak wajar. 154? Poin statusnya bahkan lebih tinggi dari yang dimiliki Ava. Mungkin balita ini sudah terbiasa dengan kehadiran monster? Seperti cerita Tarzan, begitu? Terlebih lagi, meskipun penampilan luarnya persis seperti balita biasa, ras yang terpampang dari status jendelanya adalah naga.
Naga, maksudnya reptil legendaris yang selalu ada di setting cerita fantasi?
Ah benar, Ava memang berada di dimensi fantasi.
Sembari berlari ke arah pantai, Ava kembali mendekap bocah itu, mengelus punggung kecilnya yang terisak-isak.
Melihat tampilan yang polos, Ava secara refleks membuang pisaunya tadi. Untung saja balita tersebut memang tidak berniat melukai Ava, setidaknya untuk saat ini. Untuk ke depannya, dia harus mengecek menggunakan skill observasinya.
__ADS_1
Dengan begitu, jika Ava melihat sekilas bar HP, artinya terdapat niatan melukai.
Untuk kasus Wendy yang walaupun tidak menampakkan HP, terdapat item mencurigakan di inventori, setidaknya ancaman seperti ini terbilang jangka panjang, bukan pembunuh bayaran yang memang tugasnya menghilangkan nyawa saat itu juga.
"Uwah! Mama!"
Angin laut menerpa lembut mereka. Ava berusaha menimang balita yang bersandar di dadanya, menenangkan tangis.
Jelas sekali mendengar kegaduhan, Ellijah dan Rose tergesa-gesa menghampiri gadis itu, disambut oleh pemandangan yang meskipun bukan pertama kali mereka lihat, tetap saja terasa asing. Sang putri menggendong anak kecil. Ketika Putri Eve mengatasi insiden di pelabuhan beberapa hari yang lalu ketika beastman kecil dianiaya oleh salah satu mage yang mengantar, pikiran mereka terlalu syok untuk mencerna peristiwa. Namun sekarang, meskipun bingung setengah mati, mereka bisa mengeluarkan pertanyaan. "... Siapa?"
Rengekan telah mereda, tapi tetap saja tangisan balita itu belum berhenti, air mata mengalir di antara suasana canggung yang sepi tersebut. "Mama, hiks! Hiks!"
Reaksi keduanya nyaris otomatis, berbarengan. "Mama?!"
Ellijah tidak pernah melakukan hal-hal yang dapat menodai hubungan mereka. Kalau Eve tidak menyukainya, ia tidak berani menyebrang batas. Bergandengan tangan saja ia sudah bergetar senang. Namun kesabarannya dibalas dengan pengkhianatan seperti ini?! Siapa yang berani-beraninya?!
Berkebalikan dengan Ellijah yang panas karena murka. Rose terpaku di tempat dan berkeringat dingin, lebih memilih pingsan kalau saja ia tidak menyadari situasi krisis yang akan ia hadapi. Anak? Tiba-tiba seperti ini? Rose tidak pernah mendengar satu bisikan pun mengenai anak rahasia yang mungkin saja disembunyikan oleh tuan putri. Bukankah ini skandal besar?
... Inikah alasan valid Putri Eve untuk melenyapkannya nanti? Agar rahasianya tidak terbongkar?
Ava menghela napas lelah, penolakannya sudah terlambat untuk menghentikan asumsi-asumsi liar dalam pikiran dua orang di hadapannya. "Bukan."
Ava tidak pernah mengandung, apalagi mempunyai anak.
Ia juga yakin kalau Eve tidak akan bisa melahirkan--eh, menelurkan?--sebuah bocah dengan ras naga.
__ADS_1
... Atau memang hal itu mungkin?
Argh, logika Ava lelah digunakan dalam dimensi fantasi ini.