
Melihat sang raja langsung memerintah tanpa bertanya ataupun mempertimbangkan pendapat Putri Eve, yang notabene adalah putrinya sendiri, Ava langsung mengaktegorikannya dalam barisan daftar orang dewasa yang melihat anak mereka hanya sebagai properti untuk dimanfaatkan.
Atau memang begitulah cara kerja sistem monarki? Ava kemudian diingatkan dengan Ezra, pangeran dari kerajaan Igoceolon yang mengembara guna mengumpulkan kredit yang digunakan sebagai tolak ukur pantas atau tidaknya seseorang dalam mengemban takhta. Sederhananya, siapa yang paling berguna.
Mungkin Ava terlalu cepat menilai, mungkin. Akan tetapi pengalamannya di masa lalu tidak bisa ia hiraukan sehingga bias terbentuk dalam bawah sadarnya.
Lagipula, meskipun ia lega ketika keluarga kerajaan sendiri yang meyakinkan Ellijah bahwa kepergian Eve selama 4 bulan cuma liburan belaka, Ava sendiri tidak menemukan bukti komunikasi mereka dalam jangka waktu tersebut. Tidak ada surat, jejak artifak pengirim pesan, dan gadis itu meragukan kalau Eve akan membuka akun penjual dalam [System] hanya untuk mengabari keluarganya. Satu-satunya yang tersisa tinggal kontrak sihir yang dititipkan oleh Eve kepada Marvin yang berisi kontrak mereka. Selain itu, tidak ada.
Anak perempuan mereka hilang hingga 4 bulan lamanya tetapi anggota keluarga yang lain santai-santai saja?
Kemungkinan yang ada ada dua. Pertama, Raja Dion, Ratu Isabel, beserta Pangeran Marvin ikut berkomplot dalam rencana rahasia yang dilaksanakan oleh Eve. Kedua, hubungan keluarga mereka sangatlah renggang, sampai pada titik nyaris tidak peduli.
Akan tetapi Ava kemudian menolak dua hipotesis tersebut. Kalau ketiga orang itu ikut berkomplot, Ava setidaknya mendapatkan interogasi kasar yang menanyakan detail asal-usulnya. Namun faktanya hanya Marvin saja yang berperan aktif menanyainya, itupun tidak terlalu agresif. Selanjutnya, gadis itu beranggapan bahwa hubungan mereka tidaklah serenggang yang ia kira. Buktinya Marvin mendukung penuh operasi penyamarannya dalam rangkaian rencana Eve sampai-sampai mengorbankan waktu berharga guna mengerjakan tugas seorang pangeran untuk mengajari Ava dalam berperan sebagai putri kerajaan. Ditambah lagi, Ratu Isabel yang memandang matanya dengan kehangatan seorang ibu ... Ah, sudahlah.
__ADS_1
Apapun itu, dia masih membutuhkan informasi lain.
Setelah mengorganisir pikirannya, sekarang ... bagaimana Ava dapat menciptakan artifak?!
Tidak, Raja Dion hanya mengatakan kalau dia memerlukan inovasi, bukan spesifik haruslah artifak sihir. Ava masih buta terhadap ilmu sihir dan teknologi yang mengikutinya, membuat mantra sihir baru apalagi. Jadi apabila terpaksa, dia musti meminta bantuan orang ahli yang dia kenal. Bia, perempuan pencipta artifak buatan yang terkekang di bengkel pandai besi oleh kakeknya yang konservatif mengenai senjata yang ia buat. Selain itu, Ava lebih familiar dengan proses pembuatan ramuan seperti yang telah ia lakukan semenjak masanya terlempar di dunia fantasi ini.
Langkah awal yang ia ambil guna mengelabui seluruh dunia sekaligus menenangkan masyarakat yang masih ketakutan akibat insiden kemarin adalah merencanakan acara amal. Untungnya Marvin berpikiran hal yang sama dan langsung mengambil alih tugas Ava walaupun pangeran itu pastilah masih sibuk dengan investigasi.
Langkah selanjutnya adalah meneliti penemuan-penemuan yang telah Ava buat. Untuk urusan ini, Ava akhirnya melangkahkan kaki ke dalam kantor pribadi sang putri.
Di sisi kiri berbagai botol berbagai bentuk dan ukuran terangkai rumit, mirip layaknya peralatan di laboratorium kimia. Sedangkan di sisi kanan, meja besar yang dipenuhi dengan alat seperti obeng, paku, palu, dan benda-benda semacamnya. Tidak lupa, Ava kemudian melihat-lihat lembaran-lembaran cetak biru beserta resep yang menggunung di salah satu ruangan. Jurnal yang diberikan oleh Eve hanya berisi cara membuat dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat ramuan, akan tetapi kini ia sadar bahwa buku yang ia bawa merupakan versi yang lebih padat dan juga lebih lengkap dari kertas-kertas yang sekarang tercecer di lantai. Dari yang ia lihat, lembaran resep itu berisi penjelasan setiap komposisi, manfaat bahan tersebut, kemudian reaksi ketika semuanya dicampur dengan rasio-rasio tertentu. Ava tidak pernah tertarik dengan ilmu kimia apabila hal tersebut tidak bermanfaat di kehidupan sehari-harinya, jadi pendasaran yang Eve tulis hanya Ava ingat-ingat tanpa memahaminya betul-betul, setengah dirinya pun bersyukur Eve memberinya jurnal dengan resep yang jelas dan ringkas.
Untuk cetak birunya, Ava sedikit mengerti kalau teori yang digunakan apabila dibandingkan dengan dunia asalny adalah teknik mesin dan elektronika. Mana sihir memiliki sifat khusus seperti listrik, terdapat juga rumus mengenai arus, penghambat, serta jalur sirkuit yang harus diperhatikan. Mungkin karena itulah Ava langsung menganggap artifak buatan layaknya benda yang memakan baterai.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Ava seketika mengangkat kepalanya yang terkubur oleh buku dan kertas. Sewaktu ia membuka pintu, dia mempersilahkan orang itu untuk masuk.
“Kau belum makan,” Ellijah mengingatkan dengan nada suara kaku. Ava merasa seperti dituduh dengan vonis yang mengerikan, sayangnya dia sudah tidak memiliki energi untuk membela diri, jadi gadis itu mengangguk seperti robot. Sebaliknya, dia menyambut dengan suka hati roti isi beserta teh yang pria itu bawa.
Mungkin melihat tunangannya (palsu) melahap cepat makanan yang ia bawa membuat Ellijah terkejut, matanya yang awalnya menyorot dingin menjadi terbuka lebar. Oh, apakah sikapnya tidak mencerminkan elegan seorang putri? Yah, tidak ada yang melihat kecuali pria yandere di hadapannya. Sehari penuh ia berkutat dengan buku, terlanjur fokus. Ava tidak sadar kalau tubuhnya lemas karena tidak diasupi dengan bahan bakar.
“Kau tidak memakan yang satunya?” Ava bertanya. Ellijah melirik sepotong roti isi yang tersisa, kemudian beralih lagi ke wajah gadis yang melihatnya dengan mata lebar. Dengan kedua sudut bibir yang hampir tidak terlihat terangkat, dia menjawab, “Habiskan saja semua.” Ava tidak menolak.
Ellijah duduk tegak di kursi yang ia tarik mendekati Ava, gerakannya terlihat alami, seolah pria itu telah melakukannya ratusan kali sebelumnya. Jadi kemungkinan rumor bahwa Ellijah sering menunggu Eve ketika membuat artifak di ruangan ini sepertinya benar.
Ava mengusap bibirnya dengan sapu tangan yang Ellijah tawarkan, langsung berasumsi kalau ada saus yang mencoreng mulutnya. “Apa kau sudah memikirkan ingin membuat apa?” setelah sabar menunggu Ava menghabiskan makanan dan minumannya, Ellijah baru membuka mulut. Namun ketika Ava berbalik untuk mengambil catatan yang kumpulkan, gadis itu tidak sempat menangkap pria itu ketika mnghirup dalam-dalam sapu tangan yang baru saja ia pakai.
__ADS_1
Dengan energi yang baru saja terisi, Ava menjelaskan rencananya ke tunangan palsunya tersebut.