
Kali ini Ava sengaja meninggalkan River, olahraga paginya digantikan. Dengan menumpang pada kereta pedagang yang ingin keluar dari Englerock, Ava sampai di gate yang ia lihat tiga hari yang lalu. Hanya ada sekitar belasan orang di sana, dikurangi dua penjaga yang mencegah seseorang masuk secara tidak sengaja ataupun mengamati keadaan gate agar tidak terjadi outbreak.
Ava mendaftar dengan identitas palsu yang masih ia pegang. Salah satu staf memandangnya lama, meragukan. Mungkin memutuskan untuk tidak peduli, akhirnya selembar surat keterangan diberikan untuk ia tanda tangani.
Pihak A tidak bertanggungjawab atas apapun yang terjadi di dalam gate.
Pihak B setuju memberikan 10 koin sebagai tiket masuk kepada pihak A sebagai biaya administrasi.
Apabila pihak B memutuskan untuk menyerah dan kembali sebelum gate tertutup aksesnya, koin yang diterima oleh pihak A tidak bisa dikembalikan.
Tiga pernyataan singkat. Ava terpaku sesaat pada klausa pertama. Artinya, walaupun terdapat pembunuhan di dalam gate, jika tidak ada bukti maka hanya pernyataan pihak yang selamatlah yang akan diambil oleh pihak berwenang. Mengingat setiap kali penaklukan berhasil gate, yang ada akan te-reset dengan sendirinya, jadi mayat ataupun jejak yang bisa menjadi bukti terhapus tanpa sisa.
Tempat yang sempurna untuk melakukan kriminalitas.
Praktis sekali. Ava tersenyum dalam hati, mata hitamnya mengkilat melihat tulisan bercahaya pada layar transparan di atas gate kuning setinggi tiga meter tersebut.
Tiba-tiba seorang pria mencolek bahunya, tapi menoleh pun ia tidak mengenal pria tersebut. Gigi kuning dengan kepala berambut tipis, "Sendirian, Nona?" alisnya yang setebal ulat bulu menggeliat ketika ia bertanya. Ava tidak suka dengan suara berminyak orang asing itu.
Nama : Brady Harding
Ras : Manusia
Level : 9
Koin : 143
Kekuatan : 3
Kecepatan : 2
Kelentukan : 2
Mana : 5
"Temanku nanti bergabung." Ava berbohong dengan mudah seolah menghirup udara. Ia ingin sendirian kali ini. Lagipula, dari pandangan mata pria itu yang selalu menyasar ke dadanya, Ava yakin niatnya tidaklah baik, ditambah status payah orang ini tidak akan membantunya sedikitpun.
__ADS_1
"Oh, kalau begitu temani Abang saja dulu." Abang dengkulmu. Dia tipe yang tidak paham kode halus ternyata.
"Tolong jangan ganggu, saya sedang sibuk mempersiapkan diri." Untuk jaga-jaga, tadi Ava sudah memakai rambut palsu pirang dan riasan yang merubah wajah manisnya menjadi lebih tajam, jadi kalaupun lawannya figur penting yang picik, ia tidak akan bisa mengenalinya lagi.
Seperti yang disangka, wajah pria itu langsung memerah, ego rapuhnya terluka oleh seorang gadis yang ia anggap lebih lemah darinya. "******! Berani-beraninya!" Dia hampir melayangkan tangan, tapi tidak jadi, mungkin karena kedua penjaga yang dikenal berlevel lebih tinggi dari gate yang dijaga melihat secara intens ke arah mereka. "Awas saja kau, hati-hati dalam gate nanti, karena aku akan mengincarmu." Kemudian ia pergi setelah berkata semaunya.
"Datang saja, tapi pastikan kau tidak akan menyesal nanti," Ava berbisik rendah, kalaupun ia teriakkan hanya akan menambah perhatian yang tertuju padanya, orang itu juga tidak akan menurut.
"Baik, proses pendaftaran sudah selesai. Silahkan memasuki gate satu-persatu!" Saatnya pun tiba.
Ava memilih posisi hampir di belakang sendiri. Orang-orang di sekitarnya bergosip satu sama lain sembari melirik sembunyi-sembunyi ke arah Ava, mungkin mengira bahwa ia takut dengan pria dari insiden tadi, tapi biarkan mereka berspekulasi.
Ia masih belum tahu jika eksistensi bug seperti dirinya bisa masuk atau tidak dalam gate. Apakah nanti dia akan terpental, ditolak? Atau dia berhasil masuk tetapi gate yang ada akan berubah? Kemudian kalaupun tidak terjadi apa-apa, akankah namanya terpampang disensor seperti jendela statusnya di papan kontribusi? Ava menyilangkan jarinya.
Gilirannya datang. Ia mengeluarkan pisau dari inventorinya untuk bersiap-siap. Gadis itu mencoba memasukkan tangannya terlebih dahulu, bisa. Sensasinya familiar, seperti saat pertama kali ia datang ke dunia fantasi ini. Mati rasa.
Ava pun melompat masuk. Cahaya yang membutakan menyerangnya, namun sekejap kemudian ia berpijak pada tanah padat, sekelilingnya hutan lebat.
Ia berhasil.
Semua pemain hanya bisa keluar jika telah membunuh total 100 slime biru.
Sekarang, berdasarkan lembaran info yang disebar tadi, slime biru adalah jenis slime yang mengandalkan serangan air untuk melawan, level rata-ratanya 7. Jika total yang harus diburu adalah 100, maka masing-masing dari orang yang telah masuk setidaknya membunuh 8 monster.
Blek! Blek!
Kebetulan sebongkah lendir padat hidup melompat-lompat ke arah Ava bersamaan dengan suaranya yang becek.
Saatnya berburu.
Masih belum setengah jam, Ava sudah mendapatkan 11 bola lendir biru. Pada titik ini, apa yang dilakukan Ava lebih pantas disebut sebagai pembantaian.
Pakaiannya setengah basah karena serangan air yang lama kelamaan membuatnya gatal. Namun ia masih berniat untuk lanjut, karena dengan begitu semakin banyak bahan yang bisa ia gunakan ataupun jual.
Puluhan menit berlalu, inventorinya didominasi oleh warna biru. Setelah dicek, ia masih bisa membuka toko sistem, karena ia pernah mendengar ada gate yang tidak memperbolehkan akses sistem apapun, bahkan inventori. Mungkin karena gate berlevel rendah tidak memerlukan batasan yang terlalu ketat jadi tidak ada bedanya ketika Ava di dalam gate maupun di luar.
__ADS_1
Mendadak, Ava mendengar suara berminyak yang belum lama ia ingat. "Oh, kita bertemu lagi," sapa pria itu, niatan buruk ia pampangkan jelas di raut wajahnya yang kotor.
"[Fire ball]!" Bahkan tanpa menunggu balasan dari Ava, nyala api terbentuk sebesar bola pingpong di tangan kanannya. Tapi Ava dengan enteng menghindar, lemparan pria tersebut terlalu menyedihkan, bahkan slime biru lebih handal membidik daripada dia.
Kini, ganti Ava yang menyerang. Ia berlari, hanya beberapa langkah panjang jarak antar dia dengan lawannya sudah menipis. Satu kedipan ia telah di depan mata.
Pria itu membelalak, kaget dengan kecepatan yang ditunjukkan Ava. "Ka-kau--!" Bahkan sebelum membentuk kalimat, ia ditampar keras.
Plak!
Kali ini pipinya memerah bukan karena amarah, tamparan Ava bahkan merobek sudut bibirnya. Tanpa sadar, dia mundur ke belakang. Sadar. Sadar bahwa ia menganggu orang yang salah.
"Kau memanggilku apa tadi? ******?"
Plak!
"Lalu, mengincarku? Kau yakin ingin berbuat begitu?"
"Ma-maa--"
Plak!
Kakinya segera kehilangan tenaga, pria itu jatuh terduduk, bergetar menatap gadis yang kini menjulang bagaikan momok mimpi buruknya.
Secara logika, gate ini memiliki batas level 10, artinya hanya ada satu perbedaan level jika memang Ava lebih kuat darinya. Namun ... sekuat ini?
Apakah status poinnya hanya ada pada kekuatan?
Tapi gadis itu juga sangat cepat tadi.
"M-maaf!" Membuang semua harga diri, ia bersujud. Yang terpenting selamat terlebih dahulu. Persetan dengan martabat!
Ava menatap datar pria yang mengantukkan keras dahinya ke tanah. Sebenarnya ia tidak menerima luka apapun dari pria itu, jadi ia bisa saja melepaskannya sekarang.
Namun rasa gatal mengganggunya dari tadi, memupuk rasa kesalnya.
__ADS_1
Plak!