Hellbent

Hellbent
Bab 40: Limit


__ADS_3

Eksistensi Ava sendiri merupakan bug dari [System] menyebabkan beberapa error, yang paling kentara adalah level-nya yang tidak bisa naik. Entah karena apa.


Namun kerusakan ini juga mengakibatkan penumpukan poin status yang secara ajaib mempengaruhi fungsi tubuh. Ava tidak merasakan perbedaan dari ototnya, tetapi kekuatan dan kecepatannya meningkat jika poin status dalam jendela [System] ia naikkan. Ava juga tiba-tiba sensitif terhadap semua stimulus yang menerjang panca indranya. Sedangkan, kecerdasan, konsep ini terlalu abstrak untuk Ava merasakan perbedaannya, poin untuk intelegensinya yang ia pahami hanya berefek pada peningkatan kelas skill observasi.


Dan Ava yakin, perubahan-perubahan drastis pada badannya ini tidaklah selalu berefek baik.


Buktinya kini ia lebih cepat lelah semenjak kekuatan dan kecepatannya naik, meskipun Ava membanggakan stamina yang ia bangun bertahun-tahun, di sudah terengah-engah jika berlari selama 20 menit. Padahal sebelumnya ia dapat berlari hingga 1 jam tanpa masalah meskipun jarak yang Ava tempuh lebih pendek dari yang sekarang.


Dia juga seringkali merasa pusing, kepalanya panas jika skill-nya digunakan beberapa kali dalam jeda waktu yang singkat. Lalu saat ini, detik ini, Ava mengutuk panca indranya yang rentan. Matanya berdenyut perih sampai berair. Ia tersentak setiap kali angin malam berhembus, terasa kulitnya membeku terlapisi es. Ava juga kewalahan mengecap rasa ludahnya sendiri. Bau keringat, lumut, dan anyir memicu refleks muntahnya, mual. Rintik hujan dan ombak laut juga tidak membantu gendang telinga Ava yang seolah ditusuk setiap detiknya.


Gadis itu jelas-jelas kewalahan.


Untungnya dia tahu satu alat yang bisa membantu, akan tetapi Ava tidak menyukai implikasi yang mengikuti.


Item tersebut adalah segel budak.


Artifak berbentuk choker yang dikembangkan untuk membatasi paksa kemampuan individu agar mereka tidak membangkang perintah master yang mereka layani.


Budak ....


Ava benci kata tersebut.

__ADS_1


Ketika dia baru mengenyam darah dari bibir yang tanpa sadar ia gigit, Ava dapat merasakan Ako yang menarik ujung celananya dengan gigi, mengarahkan gadis itu ke lorong sebelah kanan, menuju restauran kapal yang ia kunjungi makan malam tadi. Sebagai kucing yang di-summon oleh River, Ako dapat merasakan kehadiran majikannya.


"Ayo, kita lewat sini." Ava berlari terlebih dahulu. Ib yang tidak mempunyai waktu untuk menyanggah, hanya bisa mengikuti dari belakang.


Objektif mereka berdua berbeda, Ava ingin menemukan River sedangkan Ib melindungi sponsornya, meskipun jika ditarik garis besar mereka sama-sama mencari orang-orang yang hilang.


Walau sempat dihadang oleh seekor banderhobbs lain yang untungnya berlevel jauh lebih rendah dari yang sebelumnya, 32, Ava akhirnya dapat melihat seekor serigala abu-abu yang bulunya basah dengan darah merah, terutama moncongnya yang mencaplok leher seonggok mayat katak.


"Rina!"


Astaga, Ava tahu kalau River hanya lega melihatnya, tapi ia akan lebih mengapresiasi reaksi pria itu jika River volume suaranya sedikit lebih rendah.


"Wah, kukira kau sudah dilahap katak! Lama sekali!" Dom malah memperparah. Ava bertanya-tanya apakah gendang telinganya benar-benar robek atau itu hanya perasaannya saja?


"Dasar penakut," Dom membalas tajam, meskipun kini ia berbisik.


Ava dapat melihat dua mayat lain dari sudut matanya, keadaan River dan Dom yang ngos-ngosan serta tergores di sana-sini menandakan pertarungan sengit. Lorah di sisi lain bersembunyi di bawah meja, telinga kuning bertotol anak perempuan itu menegak ketika tatapan Ava bertemu dengannya. Kabar baik, mereka semua hidup.


"Oh, kau bersama kakek penjilat." Mungkin Dom memiliki kutukan yang menyebabkan gatal jika ia tidak menyindir seseorang. Setidaknya, sebutan penjilat lebih baik daripada budak. Muka Ib langsung masam, tetapi dia tidak membantah, sepertinya sadar diri.


"Pakai ini," Ava memecah keheningan yang mulai menjalar, gadis itu mengumpani Dom, River, dan Lorah masing-masing dengan masker yang ia simpan di inventori. River sudah familiar dengan pola ini, jadi dia memakainya tanpa banyak omong. Kontras dengan Dom, masker Ava ditenteng dengan ujung jari oleh pria bertato lengan tersebut, "Apa ini? Kenapa kita harus memakai topeng jelek seperti ini?"

__ADS_1


"Diam," Ava lebih memprioritaskan keberfungsian, akan tetapi ia masih bisa kesal ketika estetikanya direndahkan, "Kembalikan saja kalau begitu." Namun saat tangan Ava berusaha menyambar "topeng jelek" tersebut, Dom menjauhkannya dari jangkauan gadis itu, akhirnya memasang masker Ava tanpa sanggahan lebih lanjut.


Berhubung Ava sudah menemukan River, kini saatnya dia mengikuti Ib untuk mencari sponsor pria tersebut. "Apa kalian tahu dimana orang-orang lainnya?"


"Aku melihat seekor katak membawa seseorang ke geladak kapal tadi, ke sana!" meskipun berbisik dan tubuh mungilnya masih gemetar ketakutan, Lorah angkat bicara dengan bersemangat, ingin membantu. Sebenarnya gadis manis itu kenapa bisa memiliki kakak seperti Dom?


Mereka pun merayapi lorong menuju geladak dasar. Hujan sudah sepenuhnya berhenti, namun bekas yang ditinggalkan masih jelas ada. Lantai kayu yang basah terasa dingin, sebagian jalannya tertutupi jejak berlendir dan noda merah yang terlihat gelap di bawah cahaya biru bulan. Benar, target mereka pernah di sini bersama korban yang ada.


Saat itulah kuakan sudah memuakkan Ava terdengar di belokan terakhir sebelum dek kapal. Ib yang memimpin di depan langsung berbalik, meletakkan jari telunjuk pada bibirnya, menyuruh Ava dan kawan-kawan untuk diam. Pria itu pun dengan hati-hati mengintip.


Sret! Sret!


Monster katak tersebut jelas-jelas menyeret sesuatu yang berat, kemungkinan besar ... mayat.


Namun dari reaksi Ib yang seketika menegang, giginya pun bergemeletuk, apapun yang ia lihat melebihi perkiraan mereka.


Dan ketika angin laut yang asin berhembus membawa serta bau darah, Ava nyaris muntah dengan anyir yang membuatnya bergetar jijik. Lig dan Ako yang diam-diam mengikuti dari belakang pun menggeram rendah, terganggu dengan aroma kematian yang menyerbu hidung mereka. Tremor Lorah juga semakin parah, gadis itu nyaris merengek di balik punggung kakaknya.


Sewaktu Ib perlahan merangkak keluar dari dinding persembunyian, mereka yang mengikuti pun seketika berwajah redup, pucat pasi. Puluhan tubuh yang tidak bergerak tergeletak memadati geladak kapal, tidak semuanya berbadan utuh, entah mereka hanya tidak sadarkan diri atau ... mati.


Wrebek!

__ADS_1


Seekor banderhobbs mengangkat seonggok tubuh yang lunglai, tetapi sebelum Ava dan yang lain mencerna benar apa yang terjadi, katak itu menelan tubuh tersebut, kemudian melompat tinggi, kabut berenang ke dalam lautan.


Salah satu keunikan banderhobbs yang terkenal, menculik. Dalam arti lain, tidak ada mayat sebagai barang bukti.


__ADS_2