
"Ada apa ini?" Ava bertanya dengan wajah bingung yang meyakinkan siapapun penonton keributan di sana.
Melihat Ava, Woodrow nyaris melompat untuk menyerang gadis itu, benar-benar lupa umur ataupun tubuhnya yang tidak lagi bugar. Yang masih sama dari masa mudanya hanyalah suara yang terlalu lantang.
"Jangan sok suci! Kau bukan pahlawan, hanya pencuri rendahan!"
Gerombolan orang di depan kamar semakin ramai. Dari ambang pintu, Ava sudah bisa melihat beberapa orang yang menekuk alis, secara kuat tidak setuju. Reputasi gadis itu membuat Ava memiliki kesenjangan bias dari pandangan sekilas.
"Bisakah Anda menjelaskan apa yang terjadi?" Publik melihatnya dengan positif, jadi Ava sengaja bersikap sopan dengan nada halus serta sabar. Sedangkan lawannya seorang kakek yang masih memakai piyama dengan bulu cemerlang, disangga oleh tubuh seorang staf berseragam yang dari jauh sudah kelihatan tidak nyaman, orang tua yang kasar dan marah. Dua hal ini jelas menciptakan kontras besar antara dia dengan si kakek merak.
"Di mana tongkatku?! Di mana tongkatku?!" Ava takjub dengan volume yang berasa dari orang tua tersebut.
"Tongkat apa yang Anda maksud?" Rencana pertama, pura-pura bodoh.
"Jangan belagak! Aku tahu kaulah yang mencuri tongkatku!"
"Sekali lagi, tongkat apa yang Anda maksud? Lagipula, untuk apa saya mencuri sebuah tongkat?"
"Karena kau miskin, gadis rendahan tidak tahu diri!" Alasan yang tidak berkorelasi ataupun masuk akal. Si kakek merak menggali kuburannya sendiri tanpa Ava giring.
"Akan saya apresiasi jika Anda dengan tenang menjelaskan situasinya." Sejauh ini, Ava masih yang memegang kendali.
"Benar! Jangan marah-marah tidak jelas!" Salah satu orang dari kerumunan tiba-tiba berteriak membela. Dan hal tersebut menjadi pemicu. Lautan komplain langsung membanjiri lorong dan semuanya ditujukan pada Woodrow.
Kakek tua itu yang awalnya marah, kini menjadi murka, "Diam! Kalian orang bawahan!" Salah langkah, Woodrow. Dengan begini, kakek merak secara instan menjadikan publik sebagai musuhnya.
"Tua bangka cuma tahu caranya berteriak!"
"Kaya sedikit saja sombong!"
"Menuduh orang tanpa alasan, bilang saja iri!"
Berbagai hinaan yang melawan oposisi Woodrow ramai di telinga semua orang, yang juga mengundang belasan lagi penonton yang ikut-ikutan massal.
Meskipun pandangannya masih merah, Woodrow akhirnya mengakui dia tidak bisa memenangkan argumen dari publik, jadi dia mengambil satu-satunya jalan yang ia ketahui untuk menyelesaikan masalah, uang.
Karena itu ia melepaskan diri dari staf yang sedari tadi menopangnya, "Panggil kapten kapal, cepat!" Dia sudah meningkatkan level kamarnya, lantai atas, dengan kata lain Woodrow seharusnya mendapatkan kehormatan, disegani, serta layanan yang lebih dari para penumpang lantai bawah.
"Tidak perlu, saya sudah memanggilnya dari tadi," Yong menyela.
__ADS_1
Kalau saja Ava tidak merencanakan seluk-beluk pencurian ini terlebih dahulu, Yong akan menjadi penyebab ia dipenjara. Kenapa dia memanggil otoritas saat semua orang berpihak pada Ava?! Biarkan kekacauan ini berlanjut sampai si kakek merak itu menyerah sendiri!
Tapi untung saja Ava memiliki berlapis-lapis rencana.
Bertepatan dengan pernyataan Yong, seorang pria kekar berseragam yang selalu diikuti oleh setidaknya tiga staf kapal tiba di tengah kerumunan.
"Ada masalah apa lagi ini?" Si kapten terlihat tidak senang, mengenali wajah dari pihak-pihak yang berkaitan.
"Tuan ini menuduh--"
"Dia mencuri tongkatku!" tanpa sungkan si kakek merak menunjuk tepat di wajah Ava, memotong kalimat Yong yang masih belum selesai.
Omong-omong, kakek itu apakah tidak sadar kalau dia berhadapan dengan ketua Guild Canthan?
Kapten kapal sudah tidak memiliki impresi yang bagus dari kali pertama ia melihat si kakek merak bertengkar seminggu yang lalu dengan pakaian warna-warni noraknya, tapi kini orang tua tersebut berani menyela seorang ketua guild yang berada di peringkat 10 atas secara internasional? Dia gila atau apa?
"Maaf atas ketidaknyamanan ini Tuan Gu," Si kapten menunduk malu wajahnya.
"Tidak apa-apa, tapi kenalan saya ini sedang dituduh mencuri oleh Tuan di sebelah sana."
Woodrow terkejut, tidak menyangka hal ini, seharusnya dialah yang mendapat permintaan maaf. Seharusnya dia! Sehingga dirinya kembali menyalak, "Hei, kapten, kubilang gadis rendahan ini sudah mencuri tongkatku!"
"Sudah saya dengar ..., Tuan." Ava secara praktis dapat mendengar gigi yang bergemeletuk, rahang si kapten mengerat menahan kesal.
"Nona Rina, boleh saya menanyakan beberapa hal?" Pria kekar itu melangkah mendekat dengan senyum palsu ke arah Ava.
"Oh, boleh," Ava menyahut tenang.
"Apa Nona yang mencuri "tongkat" yang dibicarakan Tuan ini?" Melihat pria kekar itu mengutip barang yang diklaim dicuri ini, kemenangan Ava sudah setengah jalan.
"Tidak," berbohong adalah keahlian Ava.
Si kapten berbalik, kali ini menghadap Woodrow dengan ekspresi dingin, "Nona Rina tidak mengakui tuduhan yang Tuan ajukan."
Kakek tua tersebut menganga, tidak percaya dengan interogasi setengah hati yang baru saja terjadi, "Kau sebut itu penyelidikan?! Mana ada pencuri yang mengakui perbuatan mereka sendiri?! Gunakan otakmu, dong!" Dia sama sekali tidak menahan diri.
Beberapa orang dari kerumunan terkesiap. Sedangkan si kapten sudah melempar si kakek merak puluhan kali ke laut dalam imajinasinya.
Walaupun tontonan di depannya semakin seru, Ava berniat cepat-cepat membereskan masalah ini, sekaligus mempermalukan pria tua itu. "Kalau begitu mari kita balik posisinya, atas bukti apa Tuan menuduh saya sebagai pencuri "tongkat" ini?"
__ADS_1
"Bukankah sudah jelas, kau--"
"Karena sejujurnya saya tidak dapat melihat keterkaitan saya dengan insiden pencurian ini. Jika Anda menuduh hanya berdasarkan asumsi belaka tanpa bukti yang jelas, Delikola, kerajaan yang menjadi tujuan kapal ini berlabuh di kepulauan Feretrum Sanctus memiliki hukum yang cukup berat terhadap pencemaran nama baik, berita bohong, serta keributan di sarana publik."
"H-Hah?" Meskipun berharga diri tinggi, Woodrow sebenarnya hanya bisa membuat minuman beralkohol yang enak, karena itulah usahanya sukses, tapi untuk masalah hukum ia buta.
Memesan pembunuhan bayaran di Anggrek Ungu adalah tindakannya yang didorong oleh amarah dan impulsivitas, meskipun hal tersebut juga kriminalitas namun kemungkinan seseorang tahu kalau dia adalah dalang di baliknya sangatlah kecil.
Namun masalah ini sudah menjadi konsumsi publik, banyak juga saksi mata yang menyaksikan bagaimana ia meledak-ledak saat ia menunjuk Rina sebagai pelaku.
Mendadak Woodrow merasa seperti disiram oleh air dingin. Dia telah membuat kesalahan.
Namun sejauh ini dirinya pun tidak bisa mundur. Dengan cara apapun Rina harus menjadi pencuri tongkatnya.
Jadi dengan punggung bungkuk, Woodrow berusaha sekuat tenaga menerobos pintu kamar yang terbuka.
"Tongkatku pasti akan kutemukan di sini, lihat saja!" Tangan keriputnya mengobrak-abrik tanpa ampun setiap sudut ruangan kecil tersebut.
Yong dan si kapten baru saja melangkah maju untuk menghentikan kegilaan kakek tua tersebut, tapi mereka berdua ditahan oleh Ava, salah satu penghuni kamar itu, membiarkan Woodrow semakin nampak liar di mata orang-orang.
Ava sudah menyangka kalau setelah sadar, dialah yang menjadi tersangka utama dalam mata si kakek merak. Karena baru tadi malam dia menjadi target kebenciannya, hingga memunculkan HP pada jendela status orang itu.
Dan kemarahan membutakan logika, Woodrow langsung masuk dalam perangkap.
"Inventori! Tongkatku pasti ada di inventorimu!" Tidak menemukan tongkatnya bahkan setelah memporak-porandakan kamar tersebut, Woodrow mengganti target.
Tapi Ava juga sudah siap.
Pengungkapan inventori sebenarnya hanya bisa dilakukan setelah ada surat resmi dari pihak berwenang, tapi untuk kali ini Ava dengan sukarela mempublikasikan isi inventorinya kepada semua orang.
Tanaman herbal. Tanaman herbal. Tubuh bagian monster. Batu mana. Botol ramuan.
Tidak ada tongkat.
Karena tongkat emas itu sudah ia buang ke laut dari tadi pagi.
Ava tidak lagi mempedulikan seberapa koin yang ia dapat jika menjual tongkat berkepala emas itu.
Ava hanya menjadi orang yang picik.
__ADS_1