
Meskipun Ellijah menggenggam tangan Ava seolah hidup pria itu bergantung padanya, mereka berdua tetap saja terpisah.
Ava terlempar di antara jalur sempit yang dibatasi oleh dua dinding tinggi, saking tingginya ia sampai tidak dapat melihat ujung yang menjulang tertutupi awan. Selain kepala yang berdenyut-denyut--sepertinya kening Ava terbentur tadi, pergelangan tangan yang memiliki memar melingkar, serta gaun panjang kotor dan lengket yang membuat gadis itu sangat tidak nyaman, Ava masih utuh.
Pertanyaannya sekarang, dia ada dimana? Ia masih ingat terhisap ke dalam gate.
Memutuskan untuk berjalan maju, Ava dihadapkan dengan dua pilihan arah, lurus atau belok kanan. Jalan di sebelah kanan lebih lebar dari posisinya semula, karena itulah Ava memutar tumitnya. Tidak lama, muncul lagi pilihan jalan yang berbeda-beda arah.
Ah, Ava berada di sebuah labirin.
Tapi ... bagaimana dia tahu arah jalan keluar?
Hm, saatnya memanfaatkan apa yang tersedia.
Ia mengelus kalung zamrud yang ada di lehernya. "[Summon: Adam]." Meskipun hantu itu memiliki sifat cerewet yang berada dalam ambang ekstrovert, Adam berkata kalau ia tidak menyukai pesta ataupun tempat yang ramai, karena itulah ia lebih memilih masuk ke dalam dimensi kosong untuk menjauh dari keramaian.
"Heh, dimana kita?" Sepenuhnya mengira akan melihat lantai marmer serta dekorasi berlapis emas sepeti hari-hari sebelumnya, si hantu dikagetkan dengan suasana ngeri dari tempat berkabut dan berlumut ini. Adam bahkan tidak tahu kalau ia masih bisa bergidik. Tempat ini mengingatkannya dengan lab bawah tanah laknat yang mengurungnya, hanya saja ia tidak melihat langit-langit.
"Labirin, kurasa. Apa kau bisa menembus dinding dan mencari jalan keluar agar aku tidak repot-repot tersesat terlebih dahulu?"
Barulah Adam berfokus pada Ava. Ia segera menahan tawa, pasalnya keadaan gadis itu sangatlah mengenaskan sampai-sampai ia geli melihatnya. "Aku tidak tahu hobimu bergulung-gulung di tanah, sayang sekali gaun mahalmu jadi kotor."
"Ugh, diam saja." Ava tahu kalau Adam tidak akan berhenti mengejeknya karena hal ini, jadi setidaknya ia harus meringankan beban mental. "[Inventori]." Namun, tidak ada hologram biru yang muncul di depan wajahnya.
Hah?
"[Inventori]," Ava mengulang lagi, mungkin saja [System] tidak merekognisi perintahnya. Tapi tetap saja sama, nihil, hanya udara kosong.
Kenapa dia tidak bisa membuka inventori?
Saat itulah, hologram biru berisikan kalimat yang tidak ia sukai melayang di hadapannya.
Ting!
Selamat datang!
Semua pemain dapat keluar melalui portal yang telah disediakan.
Kondisi khusus:
- Inventori terkunci
- Level reset
Terkunci? Jadi, selain item yang sudah melekat di tubuhnya seperti kalung jiwa Adam dan gelang pengatur output statusnya, Ava tidak lagi mempunyai modal.
__ADS_1
Artinya, dia tidak memiliki senjata untuk mempertahankan diri.
Argh!
Ia ingin berteriak, akan tetapi mungkin ada musuh yang bisa mendengarnya.
Jadi ia mengalihkan fokus sebelum rasa frustasinya berlarut-larut.
Level reset.
"[Status]." Ava masih bisa membuka jendela status.
Nama: *** ******
Ras: Manusia
Level: 1
Kecepatan: 39
Kekuatan: 45
Kelincahan: 40
Kecerdasan: 38
Koin: 263783849
Skill: Observation (VI)
Hoh ..., poin statusnya masih sama.
Apakah karena levelnya dari awal memang 1? Jadi [System] menganggap tidak ada yang perlu direset?
Apapun alasannya, hal ini menguntungkan baginya. Dengan begini, setidaknya Ava lebih kuat dari siapapun meskipun dengan tangan kosong. Sebab, level 1 di dunia fantasi sama saja dengan bayi yang baru lahir, orang paling berbakat pun ketika masih orok poin statusnya tidak akan melebihi angka 3. Jadi meskipun tanpa ada angin sejuk dan dirinya berada di labirin asing penuh debu, Ava dapat bernapas lega.
Sayangnya, kesialan tidak jauh darinya.
"Grrr!"
Geraman monster terdengar dari sisi kirinya. Kalau saja dia maju selangkah lagi, Ava sepenuhnya terekspos. Gadis itu refleks merapat ke dinding, dengan hati-hati ia mengintip.
Gnoll berkepala anjing pitbull bolak-balik menjaga sebuah kotak. Level monster itu ... 32.
Tentu saja Ava tidak boleh sebahagia itu.
__ADS_1
Jadi level yang direset hanyalah yang disebut sebagai "pemain" ini? Sedangkan level monster yang berkeliaran di labirin tidak terpengaruh?
Setidaknya, musuh pertama yang ia hadapi hanya berlevel 30.
Ava mengambil batu sebesar telapak tangan dari lantai, kemudian melemparnya kuat-kuat ke kepala gnoll tersebut. Pitbull itu langsung terjatuh dengan pelipis yang mengucurkan darah. Belum mati, hanya tidak sadarkan diri.
Dengan kaki berjinjit--Ava membuang hak tingginya dari tadi--ia menginspeksi lebih dekat kotak yang membuatnya penasaran.
Isinya hanyalah sebuah pisau lusuh dan sebongkah roti keras, tapi dengan keadaannya seperti ini, kedua hal itu Ava anggap sebagai harta karun.
Setidaknya, ia kini memiliki makanan dan senjata. Bukan permulaan yang buruk.
Dengan pisau barunya, ia menggorok monster anjing yang belum sadarkan diri. Memastikan kalau lawannya tidak berkesempatan untuk mengganggunya di kemudian hari.
Dan akhirnya, Ava dapat merobek rok gaunnya agar ia dapat melangkah lebih leluasa. Mencoba merobek tanpa alat yang tajam lebih susah dari yang dikira, hal tersebut hanya membuat pakaiannya terbuka di bagian yang tidak ia inginkan.
"Kau masih tidak mau membantuku mencari jalan keluar?" Ava meneruskan percakapan yang tertunda tadi.
"Kau ingin aku berkeliaran sendiri di tempat mengerikan ini?!"
"Tahu diri, kau itu hantu yang tidak terlihat!"
"Lagipula, aku tidak bisa berkeliaran jauh dari pemilik kalung jiwaku!"
"Setidaknya lihat jalan mana yang tidak buntu!"
Argh, kenapa hantu ini sulit sekali ditangani.
***
Ellijah panik.
Dia berkeliaran tanpa arah dengan raut teror di wajahnya, karena di manapun ia memandang, batang hidung Eve tidak terlihat sama sekali.
Padahal ia telah menggenggam erat tunangannya, mereka juga masuk saling bergandengan tangan!
Gate sial, berani-beraninya memisahkan dia dengan calon istrinya!
Setelah sekian lama berlari kesana-kemari, yang ia temui bukanlah orang yang ia inginkan.
"Duke Frost, di tangan Anda keselamatan saya akan terjamin dari bahaya monster yang ada di setiap sudut!" Raja Dion. Raja pemalas sekaligus pengecut yang suka sekali bersembunyi di balik reputasi brilian anak-anaknya.
Raja Dion adalah tipikal bangsawan berduit dalam aspek keahlian bertarungnya. Nyaris tidak ada. Jaman sekarang, banyak sekali orang kaya yang lebih memilih untuk membeli monster setengah hidup untuk menaikkan level mereka. Dengan begitu level mereka memang tinggi, status poin juga bertambah, akan tetapi pengalaman bertarung mereka nihil. Apalagi kini terdapat kondisi khusus gate yang merubah level menjadi 1. Tanpa adanya status poin yang diandalkan, mereka hanyalah sebuah beban yang pasti akan merepotkan.
Ellijah ingin sekali mencekik Dion, tapi ia tidak mau membuat Eve menjadi yatim ketika mereka belum mendapat restu, proses pernikahan mereka akan berkali-kali lipat lebih sulit diurus, belum lagi masa berkabung yang melarang acara pesta di seluruh Edodale selama 3 bulan penuh.
__ADS_1
Jadi untuk kali ini, dia memilih untuk bersabar.