Hellbent

Hellbent
Bab 167: Victory for Edodale


__ADS_3

Ava membuang pisau kayu yang telah retak dan nyaris terbelah dua. Kalau saja duel ini bertahan lebih lama setengah menit saja, Ava terpaksa harus bertarung dengan tangan kosong. Untungnya, dia menang.


"Mumpung umur kita sama, panggil saja aku Ro."


Lalu kenapa Putri Afrein tiba-tiba sok ramah begini?


Yah, mungkin respon seperti itu lebih baik daripada menjadi pecundang yang tidak menerima hasil dan menyalahkan siapapun serta apapun kecuali dirinya sendiri.


Lagipula mengantagonisir Putri Romula tidak akan membawa efek yang baik baginya. Sekali lagi, Ava tidak ingin menjadi alasan munculnya hubungan yang tegang antar kerajaan. Dan juga, dia memiliki kecurigaan tersembunyi kalau Ro--dari sekarang Ava akan memanggilnya demikian agar lebih singkat--tidak berniat menjatuhkan martabat royalti Edodale seperti yang ia kira awalnya, tapi memang benar-benar penasaran atau ingin menguji kekuatan bertarung Eve yang tersebar lewat rumor.


Apapun itu, Ava lega atas reaksi santai Ro.


Di sisi lain, para penonton sibuk bertepuk tangan, merasa terhibur dengan duel yang baru saja selesai. Meskipun Ava dapat melihat wajah-wajah masam dan kecewa di antara mereka, gadis itu tetap tersenyum elegan, berterima kasih terhadap apresiasi yang ditunjukkan.


"Selamat atas kemenangannya, Tuan Putri."


"Putri Eve hebat sekali!"


"Darimana Anda mempelajari ilmu bela diri, Tuan Putri?"


"Bagaimana perasaan Anda, Putri Eve?"

__ADS_1


Hm, apakah ada paparazzi di antara tamu undangan?


Namun ocehan berisik tersebut secara efektif dihilangkan oleh kehadiran Ellijah. Aura dingin serta permusuhannya membuat siapapun melangkah mundur dan enggan mendekati pasangan itu.


"Kau tidak terluka?" Dari luar, Ellijah tidak melihat goresan apapun, namun dia tetap bertanya untuk memastikan.


"Tidak ada, hanya tersengal-sengal saja." Ava benar-benar butuh meningkatkan staminanya. Pada saat ini, ia merindukan kehadiran ketiga pelayan yang memenuhi kebutuhannya tanpa disuruh. Jus apel yang dijaga oleh tunangan (palsu)-nya itu sudah tidak dingin lagi. Jadi Ava menatap lurus ke dalam manik biru Ellijah, "Apa kau bisa mendinginkan ini?"


Tanpa berkata apapun, Ellijah menggerakkan jarinya, dan dari cahaya biru pucat yang terkumpul, muncul es batu yang melayang.


Duke Frost terkenal sebagai kstaria penjaga perbatasan Utara dengan atribut es, dan di sini ia diperlakukan sebagai freezer berjalan oleh Ava.


"Terima kasih, Duke Frost." Namun Ellijah tidak keberatan, asalkan ia bisa terus berguna di samping wanita pujaannya.


"Terima kasih, Yang Mulia."


Hanya interaksi singkat itu saja, Raja Dion telah beralih fokus kepada para bangsawan berstatus tinggi yang hadir.


Kali ini Ratu Isabel yang menghampiri Ava dan Ellijah. Gadis itu sempat bertanya-tanya kenapa sang ratu tidak menekan lebih jauh mengenai posisi Eve, putri Isabel. Mungkin mendapat kepercayaan dari Pangeran Marvin membantunya? Atau sang ratu sepenuhnya percaya akan kemampuan Eve dalam melakukan apapun yang dia orkestrasikan?


Yang jelas, Ava tidak ingin dibenci oleh Ratu Isabel. "Saya berharap hiburan kecil tadi dapat mengibur, Yang Mulia," Ava yang terlebih dulu membuka pembicaraan.

__ADS_1


Timpalan yang diterimanya tidak seperti yang ia kira, "Menjaga nama baik Edodale memang kewajiban seorang putri, tapi menerima tantangan duel seperti ini tidak akan berefek baik untuk jangka panjang."


... Hah?


Ava kira apa yang ia lakukan merupakan hal bagus. Menunjukkan seberapa kuat keluarga kerajaan secara fisik meskipun tanpa disertai artifak ataupun ramuan yang si genius Putri Eve buat tidak menguntungkan? Bukankah dengan begini, kerajaan sekitar tidak akan berpikir untuk mencari gara-gara dengan Edodale karena terintimidasi?


"Lain kali, mengirimkan surat keluhan formal akan cukup, lagipula martabat kita sudah tinggi."


Oh. Benar, Edodale sejatinya ialah kerajaan dengan reputasi paling bersinar dibandingkan kerajaan-kerajaan lain. Entah itu dari bidang sihir, alkemi, dan militer. Ekonominya pun tidak kalah melimpah.


Fondasi Edodale kokoh.


Jadi duel ini bisa dibilang tidak perlu?


Apakah Ava bersikap terlalu impulsif?


Namun sebelum pikiran gadis itu menjelalar kemana-mana, Ratu Isabel mengelus pundaknya, "Aku tidak ingin melihat anakku terluka karena hal-hal bodoh."


... Hah?


Entah kenapa dada Ava menghangat, begitu juga kedua pipinya yang memerah. Ava masih saja linglung ketika tangan sang ratu berpindah ke puncak kepalanya, menepuk pelan. Kemudian Ratu Isabel pergi, memberikan Pangeran Marvin ruang untuk menyela.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?!"


Kenapa dia marah?


__ADS_2