Hellbent

Hellbent
Bab 58: 15.000 Koin


__ADS_3

"Kau menjadi makin terkenal sekarang," River mengomentari ketika hitungan orang yang menyapa Ava di lorong menjadi belasan. Reputasi gadis itu melejit setelah konser dadakan yang dilakukannya malam tadi. Tidak hanya apresiasi, Ava juga sebenarnya ditawari sponsor oleh Count Livero, akan tetapi syarat-syarat kontrak yang diajukan jelas-jelas akan menghambatnya untuk pulang ke dimensi asal, jadi Ava dengan hormat menolak, yang otomatis membuat pasangan tersebut sedikit menyesal.


Dan untuk si kakek merak, dari penjelasan yang disediakan oleh Countess, Tuan Brewer adalah pemilik perusahaan alkohol yang menawari mereka kesempatan untuk berinvestasi padanya.


"Menawari mereka kesempatan"?, kalimat seperti itu seolah membuat Woodrow Brewer lah yang memiliki posisi atas dalam persetujuan ini, bangsawan berharga diri tinggi layaknya Count dan Countess Livero tentu segera memiliki impresi yang buruk terhadap kakek itu.


Kecenderungan narsisme seseorang akan nampak cepat atau lambat, dalam kasus ini, dari kalimatnya.


Untung saja Ava mempersembahkan diri sebagai orang biasa yang hormat terhadap status kebangsawanan, kontras dengan si kakek merak, penilaian mereka pun lebih tinggi dari yang seharusnya ketika dia menolak, membuat usaha Ava lepas dari tekanan pasangan Livero tersebut lebih mudah.


Ketika Ava berpamitan untuk kembali ke kamarnya setelah makan malam dengan mereka, hanya Woodrow yang cemberut dengan wajah menahan malu, karena sepanjang sesi, kehadirannya seolah diabaikan oleh calon investornya ataupun gadis pengamen jalanan yang berani-beraninya menatap lurus pada matanya, seolah dia dan bocah itu memiliki posisi yang sejajar.


Jika pandangan dapat membunuh, tubuh gadis tersebut sudah tertusuk dengan ribuan pisau. Mata merah Woodrow seolah meneteskan racun, sarat akan sorotan kebencian.


Melangkah keluar dari lantai atas, Ava sekali lagi mengaktifkan skill observasinya. Dan saat itulah ia menemukan fitur baru yang akan menentukan sikapnya terhadap seseorang.


Nama : Woodrow Brewer


Ras : Manusia


Level : 34


Koin : 8374627


Kekuatan : 10


Kecepatan : 7


Kelentukan : 6


Keterampilan: 14


HP : 2340/2345


HP? Pada manusia, bukannya monster?


Apakah artinya siapapun yang memiliki HP ini adalah ancaman potensial? Monster yang menganggap manusia hanya sebagai makanan atau manusia yang menganggap Ava musuh? Jadi ... siapapun yang memiliki niat membunuh?


Si kakek merak itu berniat untuk menyakitinya?

__ADS_1


Hah! Lihat saja!


"Kau senang karena makin banyak orang mengenalmu?" River tertular dengan senyum bahagia Ava ketika ia bertanya.


"Aku senang karena hari ini adalah hari yang indah!" Ava bahkan melompat riang dalam langkahnya.


Tongkat emas eksentrik si kakek merak tersimpan aman di inventorinya.


Benar. Akhirnya, Ava mencuri benda itu.


Meskipun Woodrow adalah residen lantai atas, ia tidak memiliki penjaga di luar kamarnya, menjadikan penyelusupan Ava secara signifikan lebih mudah. Dengan status tambahan keterampilan dan level 30-an, sepertinya Woodrow termasuk dalam kelas pekerja, bukan petarung, jadi kesadaran akan bahaya pria tua itu termasuk rendah.


River berkedip, melihat ke atas, langit memang berwarna biru dengan angin hangat yang berhembus menerpa mereka. Sehingga ia mengangguk, tidak menggali lebih dalam lagi akan perasaan Rina yang cerah.


***


Brak!


Woodrow membanting kopernya keras-keras. Kamar di lantai atas yang dengan susah payah ia dapatkan setelah seorang bangsawan lebih memilih untuk mengikuti kapal yang pulang ke Englerock, menyuap kepala staf agar ia lebih didulukan apabila ada antrian pesanan lain, ternyata tidak berguna sama sekali!


Rencana untuk menarik investor gagal total! Tidak ada yang berniat mendengarkan proposalnya makan malam kemarin!


Kegagalannya karena gadis itu!


Rina Hoffman!


Dia tahu siapa bocah tersebut, peraih medal emas.


Kalau Woodrow lebih muda 60 tahun, dia juga akan dengan mudah mengalahkan monster katak raksasa!


Dia juga tahu kalau Rina adalah gadis yang berteman dengan orang aneh penjinak monster itu! Rivo? Rivy? Siapapun namanya dia! Si penjinak monster itu juga ikut terkenal dengan medali perak. Siapapun juga bisa mendapatkan medali jika mengadu monster dengan monster lain!


Rina dan Rivo juga sekamar dengan sepasang campuran hewan dan manusia, makhluk menjijikan yang seharusnya tidak dibiarkan berlalu lalang dengan bebas!


Woodrow lebih menyukai peraturan beberapa dekade yang lalu, ketika ia muda, saat perbudakan masih dilegalkan. Dengan begitulah ras beastman akan dikurung di kandang, tempat yang pantas terhadap eksistensi mereka.


Benar-benar kumpulan orang tidak berguna! Aneh!


Batu sandung terbesarnya, Rina!

__ADS_1


Dia harus menyingkirkan gadis itu, dengan begitu para bangsawan tidak akan lagi sibuk memperhatikan pengamen rendahan!


Dalam perjalanan ini dialah yang seharusnya dibanjiri interes oleh orang-orang dengan prospek perusahaan alkoholnya yang luar biasa, menarik investor dan sponsor. Bukan gadis kencur itu!


Dengan hati yang membara, Woodrow pun membuka fitur Anggrek Ungu dalam [System]. Dari laman tersebut, ia menjelajahi lebih dalam lagi, pada sisi gelap Anggrek Ungu yang hanya bisa diakses dengan lencana kelas 4 ke atas.


Pasar gelap.


Pembunuh bayaran.


Dia pun menghargai kepala Rina Hoffman dengan 15.000 koin.


Cukup mahal memang, tapi Woodrow sudah gelap mata, yang ia butuhkan cuma gambaran target.


Hanya setelah itu, dia sedikit lega, darah tingginya hampir saja kumat karena ulah jahil seorang bocah.


Waktu sudah jauh melewati jam sarapan, tapi masih belum dekat dengan jam makan siang, perutnya lapar. Jadi Woodrow bangun dari kasur empuknya, meskipun punggung tuanya masih ngilu karena usia, tetap saja lebih baik daripada kasur sempit di lantai bawah. Detik itulah ia baru menyadari, sebatang tongkat emas tidak ada di tempat yang seharusnya.


Woodrow terjatuh dari kasur.


Mengutuk lantang.


***


Saat Ava tengah tenggelam dalam bacaan novelnya, ia membeli buku baru di pulau kecil kemarin, keributan keras mengganggu ketenangan dalam kamarnya. River, Dom, dan Lorah memiliki urusan di luar. Ib, Hao, serta Rai tidak lagi merusuhi gadis itu setelah tiga kali diusir.


Teriakan-teriakan kasar tidak bisa lagi dihalangi oleh dinding kayu kapal yang tipis. Ava akhirnya memutuskan untuk keluar, mengecek keriuhan seperti apa lagi yang terjadi di kapal ini.


"Kau!" Baru saja membuka pintu, sebuah jari menunjuk tepat di hidung gadis tersebut dengan tidak sopan. Si kakek merak dengan wajah senada tomat menambah jelas keriput di dahinya yang mengerut. Badan orang lanjut usia itu ditopang oleh salah seorang staf kapal yang malang, hanya bisa diam ketika kakek tua itu secara praktis menganiayanya dengan suara yang kelewat keras.


"Pencuri! Kembalikan tongkatku!"


"Tuan, tindakan seperti ini tidaklah menghargai kenyamanan para penumpang yang lain. Mari kita bicarakan baik-baik di kantor staf."


Yang tidak Ava sangka adalah kehadiran Yong, kakak besar Hao yang ternyata berhasil menahan si kakek merak untuk menerobos masuk ke kamar Ava.


Jadi pria tua itu baru sadar.


Meski dia memasang wajah tidak bersalah, Ava menyeringai dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2