
Tentu saja, Ava menjadi sasaran empuk untuk dibicarakan mengingat rumor yang beredar masih panas-panasnya. Melihat Isabel yang hanya diam saja, ratu itu sepenuhnya menyerahkan isu ini untuk ia tangani.
Jadi Ava menghembuskan napas panjang dengan berlebihan, "Benar sekali, Countess Viera," tiga hari terakhir Marvin menyuruhnya untuk menghapalkan semua nama, gelar, dan kabar terkini dari tamu-tamu yang diundang, tugas yang mudah sebab Ava memiliki skill observasi yang meringankan padatan materi yang akan ia ingat. "Saya tidak menyangka Marquess Terelui memulai tindakan pemberontakannya dengan menyebar rumor jahat mengenai keluarga kerajaan dan tunangannya. Kasihan sekali keluarga yang juga terkena imbasnya, apalagi putri mereka satu-satunya yang terpenggal," lanjut gadis itu, menampakkan rasa simpati artifisial. Dia tahu betul kalau para bangsawan di sini lebih mengarahkannya untuk membahas perselingkuhan dari Duke Frost dalam kabar burung, tapi Ava tidak mau mengikuti jalur yang sudah mereka tatakan.
"A-ah, benar. Ambisi Marquess memang tidak terukur!" Wanita dengan rambut pirang yang sekiranya berumur 40 tahun tersebut nyaris menjawab dengan gugup.
Namun seperti yang Ava kira, tidak banyak yang ingin membahas hukuman mati serta pemberontakan di perjamuan tamu, apalagi langsung di depan ratu, belasan mata saling melirik dalam diam. Karena itulah gadis itu melanjutkan ke tahap duanya, mengalihkan pembicaraan. "Oh, saya ingat-ingat, Countess Vierra baru saja menimang cucu. Saya ucapkan selamat!"
Semuanya dengan semangat menghindari topik yang tidak nyaman, sehingga ucapan selamat mereka hampir mirip seperti ******* lega.
Tidak lama kemudian suasana jamuan teh tersebut kembali ke semula, santai dan ceria, Ava dengan lihai mengendalikan topik untuk seperempat awal waktu acara, seterusnya membiarkan para bangsawan tersebut membahas rumor lain yang beredar dengan antusias, gosip yang tidak berhubungan dengannya tidak akan ia interupsi. Dalam semua proses itu, sang Ratu dengan elegan hanya mendengarkan sembari menimpali sesekali, bahkan sampai acara selesai.
Ava akhirnya menyusuri koridor dengan hati yang ringan, bersosialisasi sebagai orang lain membuat dirinya merasa sesak. Untung saja jamuan teh yang ada berakhir dengan lancar. Tetap saja, sayangnya ini masih tugas pertamanya sebagai pengganti Eve.
__ADS_1
Pengganti Eve.
Ugh, kalimat itu meninggalkan rasa pahit di lidahnya.
"Putri Eve." Ava yang berjalan disertai dengan dua pelayan seketika terhenti, menoleh ke asal panggilan tersebut. Ratu Isabel.
"Selamat sore, Yang Mulia Ratu. Jamuan teh yang Anda laksanakan sangatlah nyaman." Tidak lupa menyelusupkan pujian dalam salamnya, etika terselubung yang Marvin ajarkan untuk menghadapi dunia sosialita.
Tentu saja dia bingung, akan tetapi wajah sendu Isabel serta mata bening yang memancarkan kerinduan membuat Ava tercekat. Terasa, ia tidak boleh mengeluarkan suara dalam suasana rapuh ini.
Namun ... Ava tidak pantas mendapatkan pandangan sarat akan kasih sayang seperti itu.
Dia bukan anak aslinya.
__ADS_1
Kalaupun Isabel adalah wujud ibu yang membuangnya di dimensi lain, maka ratu lah yang tidak pantas memperlakukan Ava layaknya putri sendiri. Ingatan pertamanya bahkan ada di depan gerbang panti asuhan yang bersalju. Ia sudah tidak memiliki tempat dalam hidupnya.
Maka, dengan berat hati, Ava membuka mulut, "Ada apa, Yang Mulia Ratu?"
Isabel hanya menarik tipis bibirnya, lalu menggeleng, "Bukan apa-apa. Putri Eve sebaiknya beristirahat, kau terlihat lelah."
"Terima kasih atas perhatian Anda."
Pada akhirnya kedua rombongan itu melanjutkan ke jalan mereka masing-masing.
Tetap saja, Ava masih bingung.
Apa-apaan itu tadi?
__ADS_1