Hellbent

Hellbent
Bab 107: Kesempatan dalam Kesempitan


__ADS_3

Ketika Ava sadar, hal pertama yang ia rasakan bukanlah bak mandi tembaga yang dingin dan keras, melainkan sensasi lembut dari kasur empuk serta selimut yang menutupi tubuhnya hingga dada. Dia sudah dipindahkan.


Perlahan-lahan, matanya terbuka, yang ia lihat adalah hologram biru berisikan notifikasi.


Sinkronisasi 9%


Berbeda dengan sebulan lalu yang gagal, persenan sinkronisasinya kini naik. Meskipun Ava masih belum mengerti betul implikasi dari hal tersebut.


... Bukannya lebih baik ia mencegah meningkatnya angka itu sebelum benar-benar paham?


Tapi walaupun begitu, Ava harus tahu lebih dulu apa yang membuat sinkronisasinya berjalan.

__ADS_1


"Kau sudah bangun?"


Pikiran Ava seketika terputus oleh suara tajam di sebelahnya, gadis itu menoleh. Ellijah yang sejatinya memiliki tipe wajah 'orang rupawan yang dingin' kini memberengut dalam, menyebabkan kesan tampangnya lebih kasar dari yang sudah-sudah, apalagi dengan kantung hitam di bawah matanya yang memelototi Ava.


Sepertinya Ava tahu apa yang membuat pria tersebut marah. "Mengejutkan, ya?"


"Mengejutkan bukanlah kata yang akan kupakai untuk mendeskripsikan pengalamanku tadi malam," Ellijah membalas layaknya silet, keberangannya membesar melihat gadis di depannya yang bersikap santai.


"Baik-baik saja apanya?! Jelas-jelas tadi malam kau kejang, kemudian tidak bersuara! Kupanggil berkali-kali tidak menyahut! Dan apa yang kulihat? Badanmu berlumuran darah! Kau bahkan pingsan! Apa-apaan tadi malam itu?!" Baru kali ini Ava melihat Ellijah marah kepadanya dengan menggebu-gebu, biasanya pria itu cuma merespon dengan intonasi monoton.


Namun satu hal lagi disadari oleh Ava, ia memakai piyama. Gadis itu mendongak dengan sorot mencurigai, "Kau yang menggantikan pakaianku?"

__ADS_1


Muka Ellijah seketika memerah karena alasan yang lain, untuk beberapa saat ia gelagapan, "Ka-kau tidak sadarkan diri dan berlumuran da-rah, tentu saja aku khawatir, t-tapi dari yang kau katakan kemarin, sepertinya kau tidak ingin s-siapapun tahu. Jadi a-aku me-mandikanmu dan memakaikan baju ganti." Semakin panjang semakin kecil pembelaannya terdengar.


Yah, kalau begitu, Ava tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pria tersebut. Memang betul dia tidak ingin siapapun tahu, karena akan akan sulit menjelaskannya, kehadiran Ellijah sendiri saat itu merupakan hal yang disayangkan, akan tetapi dia masih yakin bisa membuat tunangan (palsu)-nya itu percaya dengan apapun yang ia katakan, lagipula cinta membuatkan segalanya. Kasusnya akan berbeda jika yang memergokinya adalah orang lain. "Jadi kau melecehkan gadis yang tidak sadarkan diri?" Tapi tentu saja Ava tidak akan melepaskan hal ini dengan mudah.


"Mele--" Kedua tangan Ellijah menjambak rambut pendeknya, telapak pria itu kemudian bergeser untuk menutup kedua mata, hingga akhirnya merosot ke pipi. Ia menggeram panjang. Namun tidak ada lagi pembantahan, dia sadar diri.


Pria yandere tersebut memang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


"Jadi beginikah kau menghamili Lady Terelui? Saat dia tidak sadarkan diri, mungkin karena mabuk?"


"Tidak!" teriakannya menyampaikan frustasi yang terpendam. "Kau tahu sendiri berita itu bohong!"

__ADS_1


Masalah di masa lalu Ava angkat lagi sebagai secuil pembalasan. Dia tahu kalau Ellijah tidak segila pria-pria yang pernah ia temui, buktinya saja tubuhnya bersih dengan pakaian baru, tidak ada tanda-tanda kekerasan ataupun rasa tidak nyaman pada bagian bawah tubuhnya. Paling-paling dia melihat atau ... dipikir-pikir lagi kurang ajar benar pria itu.


__ADS_2