
Ava sadar dengan ketertarikan Ezra terhadap apa yang baru saja ia katakan. Namun ia masa bodoh. Sepenuhnya memutuskan untuk tidak menghiraukan kehadiran si pangeran itu meskipun mereka selalu berada di meja makan yang sama, salahkan pada kecerdikan Ezra yang selalu saja bertanya kepada River, pria ramah yang penurut, bukan Ava. Tapi itu artinya Ezra sadar diri kalau ia memang dijauhi oleh gadis tersebut.
"Wah, kau memang pintar!" River yang duduk di sebelah Ava mengacak rambut pendek hitamnya. Ava sadar tindakan ini sudah menjadi kebiasaan, jadi dia menerimanya dengan senyum tipis.
"Jangan takjub dulu, karena aku masih bisa membuat hal-hal lain lagi." Ava secara praktis dapat mendengar Roy yang meneguk ludah.
Pada awalnya, Ava mengira kalau juga jurnal yang Eve berikan adalah catatan pribadi yang disediakan penculiknya itu untuk membantu mempermudah hidupnya, namun ternyata lebih dari itu. Jurnal tersebut berisi puluhan resep yang ternyata belum dipublikasikan, tempat artifak tersembunyi milik Eve pribadi, serta info-info mengenai gate.
Kesimpulannya, Eve adalah seorang ilmuwan sekaligus peneliti, atau dalam dunia fantasi ini disebut sebagai ahli alkimia. Tentu saja karena itu jugalah, beberapa ramuan yang memerlukan sihir dalam proses pembuatannya tidak bisa Ava praktikkan.
Omong-omong tentang Eve, Ava mengingat kata-kata yang diucapkan dopplegangger-nya itu, "Aku adalah kamu, lebih jelasnya versi dirimu dalam dimensi yang berbeda." Dengan kata lain, identitas Eve nantinya akan menjadi masalah bagi Ava yang berwajah persis. Tapi masalah seperti apa? Ava harus segera mencari tahu.
"A-anu, apakah kau lulusan akademi?" Roy pelan-pelan bertanya.
Akademi. Ava sejujurnya tidak pernah bersekolah secara formal, ia belajar dari buku, cerita orang lain, internet, dan pengalamannya sendiri. Otodidak murni.
Lexa yang mengawali rasa keingintahuannya, untuk bertahan hidup.
Namun pengetahuan yang Ava pamerkan, apabila ada di jaman modern, setara dengan peneliti yang lulus perkuliahan selama bertahun-tahun. Ilmu yang hanya ia tiru dari jurnal Eve.
Sepengetahuannya juga, pendidikan di dunia ini masih terbilang mundur, penduduk biasa yang hanya bisa membaca dan menulis saja pun akan dianggap berguna dan dicari untuk dipekerjakan. Biaya sekolah, bahkan hingga ke akademi, membutuhkan segunung koin. Artinya, yang mampu untuk mendapat pendidikan hanya para bangsawan.
Secara tidak langsung, Roy, akan tetapi Ava tahu yang menyuruhnya bertanya pastilah Ezra, memastikan identitasnya sebagai rakyat jelata atau seorang bangsawan.
"Bisa dibilang, ada yang mengajariku." Ava meneruskan ucapannya, "Ah, apa kalian akan mengikuti upacara syukur di balai kota nanti?" Hanya dengan itu, topik beralih.
__ADS_1
"Pemujaan dewi Meditrina, bukan? Aku ikut." Selena mengangguk kalem, saling menempelkan telapak tangannya, menggumamkan doa seraya menutup mata. Namun setelah itu, pandanganya genitnya muncul, bertatapan dengan River, yang melengos dengan ujung telinga memerah. Ava sebelumnya masih setengah yakin, namun kini sudah pasti, Selena hobi berkumpul dengan mereka meskipun tidak ada yang mengajaknya karena wajah-wajah tampan yang mengelilinginya.
Ava nyaris terkikik dengan pertahanan lemah River terhadap rayuan kecil seorang wanita. "Aku akan istirahat saja dulu." Bohong. Ava berniat untuk melakukan percobaan di savana dekat pantai , sekaligus melepas beban emosinya yang semakin menumpuk.
"Aku juga tidak pergi. Ah, Rina, kita--" Namun tiba-tiba River memutuskan untuk berhenti, urung meneruskan kalimatnya, kaget dengan apa yang hampir ja ucapkan sendiri.
Nama samarannya keluar, akan tetapi Ava tidak mau menekan River jika ia memang tidak berniat memberitahukan apapun yang ada di pikirannya, apalagi di depan publik seperti ini. Karena sifat asli yang Ava ingat untuk digarisbawahi di catatan mentalnya adalah River sebenarnya pemalu dan introvert.
Jadi dia mengarahkan pembicaraan ke orang lain, "Bagaimana dengan kalian?" Roy secara otomatis melirik dulu Ezra maupun Al, si pangeran menjawab, "Aku akan ikut."
Namun kali ini, Al yang sangat hemat kata, berpendapat berbeda, "Saya masih terdapat urusan yang harus diurus." Formal dan kaku.
***
Lonceng menara pelabuhan berbunyi, ritmenya stabil, menggema dan beresonansi dengan lonceng di menara-menara lain di kota Englerock. Ava menoleh, langit sore yang nampak seperti cat air meleburkan warna jingga, hijau, dan biru menjadi padanan lukisan yang indah. Selama menunggu keberangkatan kapal dari seminggu kemarin, Ava belajar untuk menaiki kuda di waktu senggangnya, hasilnya kini ia bisa menunggangi hewan gagah tersebut ketika berlari pelan tanpa terjatuh. Tujuannya sebuah dataran tinggi lapang di atas kota, dari sini Ava masih bisa melihat puluhan gemerlap lilin yang dinyalakan di balai desa sebagai rangkaian acara syukur.
Tidak ada kurungan lain, jadi Ava menusukkan pisau ke leher monster yang baru saja menaikkan tingkatannya, setelah itu memasukkan sepasang monster baru, kali ini mol kedua secara paksa Ava minumkan ramuan double EXP dari inventorinya, karena itulah ia mendapatkan luka cakar di pergelangan tangan. Setelah mengkonfirmasi kalau efeknya menjadikan mol tersebut yang awalnya berlevel 1 langsung meloncat menjadi berlevel 3, Ava remukkan tulang lehernya yang masih terasa lunak. Diulangi dengan pasangan monster terakhir pun, hasilnya sama, ramuan Eve bekerja dengan baik, setidaknya pada percobaan kali ini.
Dibuangnya mayat-mayat subjek eksperimennya ke laut, Ava lalu duduk di ujung tebing, tidak mempedulikan karang-karang tajam yang mencuat puluhan meter di bawah kakinya.
"Nona sebenarnya sudah tahu, benar?"
Ava tidak kaget, setengah jam lalu ia sudah merasakan kehadiran orang lain ketika ia bermeditasi untuk menenangkan diri. Satu-satunya orang yang cukup terlatih untuk bersembunyi dari indranya yang semakin tajam adalah Al. Kini pria itu di depannya, berdiri tegap dengan kedua tangan yang disembunyikan di balik punggung.
"Tahu apa maksudmu?" Ava sepenuhnya paham arti perkataan pria tersebut, tapi ia masih mengetes sikap lugunya akan bertahan sampai mana.
__ADS_1
"Anda tidak perlu berpura-pura," Al menebas dingin malam itu dengan perkataannya.
Hanya gemuruh ombak yang terdengar ketika ketegangan perlahan-lahan muncul di antara kedua orang itu.
Ava mendongak, melihat lurus pada siluet gelap yang membayangi wajah Al. "Apakah tuanmu tahu kau melakukan ini? Karena konfrontasi denganku sama saja dengan konfirmasi kecurigaan, bukan?"
"Konfirmasi ada dalam kedua pihak. Saya hanya tidak ingin melihat tuan saya mengejar apa yang memang tidak ingin diraih."
Senyum bisnis Ava merekah, "Jadi Ezra tidak tahu, ini keputusan mandiri darimu."
"Saya percaya bahwa tindakan saya benar."
"Benar bukan berarti menguntungkan."
"Tapi saya mencegah kerugian yang lebih besar."
Ava bangkit dari duduknya, mengebaskan rumput liar yang tertempel dari celananya. "Ya, benar, aku sudah tahu," akhirnya Ava mengaku.
"Lalu kenapa Nona menolak dan menghindar?"
"Karena politik kerajaan akan sangat merepotkan."
Saat itu Ava tidak menyangka akan mendengar tawa dari Al. Pria itu menunjukkan kedua belati yang sedari tadi ia genggam di belakang tubuhnya, lalu hilang ditelan inventori.
"Saya kira Anda mempunyai hubungan dengan pangeran ataupun putri kerjaan yang lain."
__ADS_1
Ava menahan diri agar emosinya tidak muncul di wajah. Ia berhasil menghindar.