Hellbent

Hellbent
Bab 46: Glitch


__ADS_3

Ava tersentak mundur, pegangannya pada pagar refleks terlepas, ia jatuh terduduk. Gadis itu dapat merasakan kejang pada tangannya, namun dari yang dilihat jelas-jelas lengannya mengalami glitch, persis ketika layar monitor sebuah komputer mengalami kerusakan.


Apa ini?


Tidak lama kemudian, bahunya ikut-ikutan menjadi hologram biru, disertai dengan kebas pada ujung jarinya yang perlahan mati rasa. Insting pertama Ava adalah untuk menyembunyikan keanehan tersebut. Dia buru-buru berlari kembali ke kamar, sakitnya tulang rusuk yang patah Ava hiraukan.


Gadis itu sampai di depan pintu ketika dia merasakan kejat dari dada dan punggung kanannya. Setelah masuk, Ava langsung menutupi diri dengan selimut.


Melihat glitch terjadi pada tubuhnya membuat Ava mengernyit ngeri, namun jantung yang berdetak panik membuat bug itu semakin cepat. Jadi dia harus menenangkan diri.


Meskipun begitu, ketika tenang pun proses gilitching-nya tidak berhenti.


Kini, paruh kanan badan Ava berdenyut nyeri, kram dan kaku layaknya batu. Dia bahkan tidak bisa merasakan sebagian wajahnya.


Keringat dingin mengucur deras membasahi seprei putih kasur dalam kamar kecil tersebut. Ava menggeliat, setidaknya berusaha menggerakkan tubuh yang belum bertransformasi.


Ia mencengkram erat bantal dengan lengan kiri. Hampir seluruh anggota badannya berubah menjadi layar transparan biru.


"A-a-akh!" Ava mati-matian berusaha mengeluarkan suara, akan tetapi hal itu hanya membuat ia tersedak dengan ludah sendiri.


Dan sewaktu ujung kuku jari tengah tangan kirinya menjelma hologram. Sebuah layar pemberitahuan muncul.


Pemuatan data 100%.


Sinkronisasi akan dimulai, mohon tunggu sebentar.


Ding!


Tubuh Ava hancur berkeping-keping, setidaknya begitulah sensasi yang ia rasakan. Ava ingin sekali melolong pedih, akan tetapi tenggorokannya tercekat dan kering, hanya cekikan patah-patah keluar dari mulutnya yang terbuka.


Badannya terkunci, akan tetapi setiap sel di dalamnya terasa dicabik-cabik, disatukan lagi, lalu dibongkar kembali. Lebih intens sakitnya setiap kali rotasi.


Ding!


Sinkronisasi gagal.


Listrik sejuta volt mengalir deras di setiap garis tipis nadi Ava. Tubuh kakunya terlonjak. Kesadaran gadis itu pun ikut terlempar.


***

__ADS_1


Entah sudah berapa lama Ava terjebak dalam lingkaran neraka tersebut. Ia hanya lega proses itu berakhir.


"Selamat datang lagi," suara yang mirip sekali dengan Ava menyeletuk, seolah apa yang baru saja terjadi merupakan hal remeh-temeh meskipun Ava serasa dicabut nyawanya.


Ketika membuka mata, gadis itu disambut dengan wajah yang selalu ia lihat dalam cermin, hanya saja dengan pakaian yang berbalik dengan seleranya. "Jangan sering-sering mengunjungiku," balas Ava ketus.


Satu sudut bibir Eve terangkat, mencemooh dengan tatapannya, "Yah, kali ini kau sendiri yang datang."


Ava mengangkat alis, sorotnya dingin, sepenuhnya tidak percaya. Namun Eve hanya mengangkat bahu, tidak berniat menjelaskan lebih lanjut jika Ava tidak bertanya terlebih dahulu.


Namun gadis itu memang membutuhkan informasi, jadi kali ini dia kalah. "Bagaimana aku bisa datang sendiri ke tempat ini?"


Senyum kemenangan Eve bersinar, "Karena mekanisme pertahanan yang kupasang."


"Apa lagi itu?!" Ava menyambar ganas.


Plak!


Tamparan dari Eve jelas-jelas membuatnya syok. "Dengar dulu," senyum Eve makin menyilaukan. Definisi terbaik dari kata "tamak".


"Domain ini berasal dari pikiran kita berdua," dia mulai menjelaskan, "Yang menampung jiwamu dan juga jiwaku. Sehingga ketika kau pingsan, kesadaranmu yang secara terpaksa hilang akan langsung tertarik ke domain ini."


Melihat respon datar yang diberikan Ava, Eve mengernyitkan hidungnya, "Kau lebih diam dari biasanya."


"Asal kau tahu, eksistensiku gagal diprogram ulang," ucap Ava setengah bercanda.


"Ah, aku lihat kok. Bagus, bukan? Dengan begitu rasa sakitnya bisa memuaskan tendensi masokismu," balas Eve separuh mengejek.


"Hahaha," garing dan bernada datar, Ava tertawa. "Omong-omong, sebenarnya berapa lama aku akan di sini?"


"Bergantung seberapa lama lagi kau akan sadar di realita."


Dengan jijik, Ava berkomentar, "Jadi aku akan terjebak denganmu?"


Saat itulah Eve mendongak, melihat kegelapan total di langit-langit, "Tidak, sepertinya kau akan terbangun sebentar lagi."


"Bagaimana bisa kau--"


***

__ADS_1


"Rina!" Ava terbelalak kaget karena teriakan tersebut. River yang matanya merah dan berkaca-kaca menggenggam erat tangan kirinya.


Ava berkedip bingung, lalu menatap Dom yang berdiri tidak jauh dari mereka, memeluk Lorah yang tengah terisak-isak. "Ada apa?"


"Kau itu yang "ada apa"?!" Ava tidak terkejut dengan nada tajam yang sehari-hari diberikan Dom kepadanya, namun yang membuat kaget adalah getaran asing dalam suara pria bertato lengan tersebut, sedih?


Saat itulah ia baru sadar dengan kasur yang basah dan ... darah. Lengket yang ia rasakan tadi ternyata bukanlah dari keringat.


Jadi ... dia benar tercabik-cabik?


Walaupun kolam darah di kasurnya sangat memprihatikan, siapapun yang melihatnya pasti akan mengira sebuah mayat dimutilasi di sana, Ava sebaliknya merasa sangat sehat. Rasa lelah dan pegalnya dari hari-hari kemarin seolah meleleh dibawa pergi bersama dengan sinkronisasi tadi.


Namun yang menjadi masalah, adalah bagaimana dia menjelaskan semua ini ke River, Dom, dan Lorah? Ib juga akan jelas bertanya besok.


Walaupun konyol dia harus beralasan, "Sepertinya ini efek dari ramuan yang sedang kubuat, percobaan gagal tentu saja, tapi entah kenapa ramuan itu membuat keringatku berwarna merah."


"Jangan berbohong kali ini, hidungku jelas-jelas mencium bau darah!" Ah, indra penciuman hewan yang kesensitifannya tidak diperlukan Ava untuk sekarang.


"Ah, kau mungkin mencium lukaku yang terbuka," Ava berkelit.


"Kalau benar begitu, darahnya tidak akan--"


"Kalian sebaiknya berhenti," dengan suara yang lelah, River menyela.


Langit masih saja gelap dipenuhi bintang dan bulan ungu, dua jam sudah berlalu dari tengah malam, mereka seharusnya sudah tertidur. Ia berkeliling membeli ini itu di pasar kecil pulau yang mereka labuhi, setelah lonjakan emosi yang disebabkan Ava dan "keringat merahnya", River sudah tidak punya lagi tenaga.


"Kita akan bahas lagi besok," ucapnya final.


Dom dan Ava tidak bisa membantah, sadar, mereka seharusnya tidak membuat keributan untuk kebaikan mereka sendiri dan penumpang lain.


... Namun Ava tidak mungkin tidur di kasur yang kebes dengan darah. "Kau masih terluka, tidur saja di ranjangku untuk malam ini."


Sebelum Ava menolak, Lorah sudah menawarkan alternatif lain, "Jangan, Kakak sebaiknya tetap tidur di ranjang bawah, aku akan tidur bersama kakak."


Dom awalnya ingin sekali protes, namun beberapa detik kemudian ia memutuskan untuk tutup mulut, "adikku benar," ucapnya seraya melengos.


Ava tidak memiliki alasan logis untuk menolak, jadi dia memutuskan untuk mandi lagi, mengganti bajunya dengan setelan yang bersih, kemudian berbaring di kasur yang awalnya milik Lorah.


Dalam ambang dunia mimpi, Ava membuat catatan mental untuk lebih aktif mencari tahu tentang Eve dan [System].

__ADS_1


__ADS_2