
Seperti biasa Ava mengawali harinya dengan olahraga pagi. Angin fajar sejuk menerpa tubuhnya yang bersimbah keringat. Kemudian dia melanjutkan kegiatan barunya akhir-akhir ini, berburu. Selain Horned rabbit, di gerbang barat terdapat juga jenis monster level rendah yang baru Ava lihat, Tailed canary. Burung kenari dengan ekor yang dua kali panjang tubuhnya, monster ini memiliki kicauan yang sangat keras serta ekor sebesar kepalan tangan yang digunakan untuk memukul lawannya.
Dengan akses yang diberikan oleh kartu identitas curiannya, Ava dapat keluar-masuk secara bebas, mungkin maksimal 3 hari sampai kartu ini dilaporkan telah hilang, tapi mungkin juga lebih lama, Ava belum tahu seberapa efektif sistem administrasi di sini berjalan, jadi untuk jaga-jaga ia hanya akan tinggal di Tezia selama 3 hari ke depan untuk mengumpulkan informasi.
“[Observation].
Ras : Tailed canary
Level : 7
HP: 30
Meskipun pukulan dari monster kenari tidak lebih fatal dari tusukan tanduk kelinci, menghadapi mereka lebih susah dan menjengkelkan karena kemampuan terbang mereka. Ava melemparkan batu ke arah seekor Tailed canary yang bertengger pada sebatang pohon, yang langsung mengeluarkan kicauannya keras-keras. Sudut mata kiri Ava berkedut, monster ini lebih nyaring daripada yang ia kira. Selain iu, dengan suara selantang ini tidak akan heran jika perburuannya nanti akan menarik perhatian, monster ataupun orang lain.
Seekor kenari kuning melayang-layang di atas kepala Ava, mengayunkan ekornya yang langsung mengenai pipi kanan. Rasanya seperti dipukul dengan batu, perih, dan ia dapat mencicipi darah dari mulutnya sendiri.
Ayunan berikutnya Ava berhasil menghindar dengan membungkuk, tanpa ragu menangkap bagian ekor yang
panjang, kemudian ia banting monster itu ke tanah, ia banting lagi burung tersebut sekuat tenaga pada permukaan batu. Pekikan yang muncul dari kenari itu sama nyaringnya dengan kicauannya tadi. Tiga kali hantaman berikutnya monster itu diam.
Level meningkat!
Hadiah: 1 poin status
Proses eror!
“Oh, wow! Brutal sekali.”
Suara asing yang tiba-tiba mengomentarinya membuat Ava menoleh seketika. Seorang laki-laki dengan manik emas dan rambut yang tidak kalah berkilaunya memandang dengan senyum lebar.
Ava ingat, dia adalah pria yang terlibat dengan insiden malam tadi. “Iya?”
“Biasanya para pemburu menggunakan panah, jadi burung itu akan mati sebelum mereka sadar atau setidaknya jatuh, kemudian disembelih.”
Tapi kenapa pria ini repot-repot bersikap ramah kepadanya?
“Dia menamparku dengan ekor batu terlebih dahulu, jadi kurasa kami impas.”
“Ah, tipe pendendam.”
Agak risih dengan kehadiran pria itu, Ava lekas memisahkan bagian-bagian tubuh yang bisa dijual terpisah. Laki-laki tanpa nama tersebut terus saja memandanginya dengan senyum ramah yang terlihat palsu di mata terlatih Ava. Ada hal yang pria itu inginkan darinya, tapi menanyakan hal itu langsung sama saja memberikannya kesempatan untuk bernegosiasi. Jadi Ava hanya diam.
Mata hitam gadis itu menerawang ke dalam hutan, masih ada 3 Tailed canary yang bisa ia lihat.
Satu jam kemudian, Ava telah mendapatkan 4 bangkai monster burung kenari, dan juga stalker yang tidak menyerah mengikutinya secara terang-terangan.
__ADS_1
Nama : Ezra D’Albermare
Ras : Manusia
Level : 39
Dan koin yang dimiliki pria itu memiliki belasan digit, artinya dia sangat-sangat kaya. Motifnya bukan uang. Lalu apa? Ava meneguk air dari botol yang ia bawa, sembari sembunyi-sembunyi mengobservasi laki-laki bernama Ezra itu.
Mata emas, rambut pirang tebal. Pakaian rapi terbuat dari bahan berkualitas tinggi, mahal. Dua cincin mengkilap yang ada di tangan kanan. Langkahnya ringan dan elegan. Cara duduknya sopan, tegap, proper. Orang kaya dengan sikap yang bermartabat di jaman pertengahan, bangsawan? Atau setidaknya saudagar yang mengincar status.
Kemudian D’Albermare, nama belakang yang cukup mudah diingat, dan Ava sepertinya pernah melihatnnya di suatu tempat. Ia butuh sedikit petunjuk. Dengan mengetahui identitas lawannya, Ava merasa dapat mendeduksi niatan pria ini mengikutinya dari tadi tanpa bertanya langsung.
“Tidak ingin minum? ”
Senyum ramah dari Ezra berkedut untuk sesaat, kemudian melebar bersamaan dengan kilat aneh dari matanya. “Tidak haus.” Omong kosong. Ava sudah berlarian dari tadi, Ezra yang bersikeras untuk mengikutinya pun sama. Siapapun yang aktif bergerak selama lebih dari satu jam akan membutuhkan pengganti cairan tubuh yang hilang, manusia super sekalipun.
Ezra ... Ava yakin pernah mendengar nama ini. Mengingat dia masih satu hari berada di kota ini, tidak banyak nama yang ia lihat ataupun dengar, hal itu sudah cukup untuk mempersempit kemungkinan.
Oh ... tunggu.
Ezra D’Albermare. Pengeran ketiga dari kerajaan Igoceolon, yang baru saja berusia 18 tahun sehingga istana mengadakan pesta untuk warga ibukota.
Sial. Ini menjadi lebih merepotkan sepuluh kali lipat.
Mengingat sejarah, rakyat jelata bisa dipotong lidahnya apabila berbicara tidak sopan di hadapan bangsawan, apalagi keluarga kerajaan, seluruh keluarganya juga mendapat hukuman mati.
Apapun itu, pastinya merepotkan.
Namun melihat gaya berpakaian Ezra yang berusaha keras terlihat biasa, meskipun kualitas bahan yang ia pakai merupakan bukti bahwa dia adalah orang yang penting, sepertinya pangeran ini dalam penyamaran? Tidak ada untungnya memberitahukan pria di hadapannya ini kalau dia sudah tahu bahwa Ezra adalah seorang pangeran, karena dengan begitu sama saja Ava memberikan kesempatan lawannya untuk bersikap arogan, pasalnya sejauh yang ia tahu sistem kasta dimanapun membuka peluang untuk diskriminasi dan kesewenang-wenangan.
Jadi dia tidak perlu bersikap hormat, hanya sopan, selayaknya kepada orang asing.
“Kalau begitu aku pulang dulu. Kalau kau ingin berburu, jangan sampai jauh ke dalam hutan, karena hanya akan ada monster dengan level yang lebih tinggi.” Ava harus segera kabur dari sana.
Namun langkah Ava diinterupsi bahkan sebelum satu meter berjalan mundur. “Kau bukan orang asal sini ya? Lagipula, kenapa terburu-buru?”
Sialan.
“Sebut saja aku seorang petualang, asalku jauh dari sini.” Jauh, jauh sekali sampai ke dimensi lain. “Perutku sudah lapar, dan aku hanya membawa minum.”
“Apa kau tidak berniat memburu monster yang lebih tinggi dari burung itu?” Ezra memandangi mayat kenari yang sudah diluputi dari bulunya.
“Tidak terlalu.”
“Apa kau lebih berpengalaman berkelahi dengan manusia daripada monster? Kau cukup ahli saat mengatasi
__ADS_1
preman kampung tadi malam.”
Ada apa dengan semua pertanyaan ini? “Bisa dibilang begitu, dimana aku berasal lebih banyak manusia busuk daripada monster.” Yah, di bumi asalnya tidak ada monster lebih tepatnya, tapi kalau manusia yang sekeji monster banyak. “Ok, dah!”
Kali ini walaupun Ezra berbicara, Ava tidak akan berhenti. Namun langkahnya kembali terhenti karena alasan
lain. Ava berancang-ancang, diam-diam mengambil serbuk nightingale dan lavender hitam yang tersisa, dalam buku yang diberikan Eve, selain membius monster, sejumput campuran tersebut dapat membuat seseorang tertidur, buktinya
kemarin.
Ava dapat merasakan kehadiran orang lain di belakang Ezra, instingnya berdenging keras, memperingati adanya orang yang bersembunyi di antara pepohonan. Namun Ezra masih tenang. Apakah orang misterius ini ada dipihak si pangeran? Atau Ezra saja yang benar-benar tidak tahu, jika memang begitu ini bisa saja percobaan pembunuhan. Praktik fratisida bukanlah hal yang asing dalam perebutan takhta.
Ava tidak mau berurusan dengan masalah kompleks keluarga kerajaan, tapi jika memang benar ini adalah upaya asasinasi maka Ava juga tidak bisa meninggalkan Ezra seorang diri di sini. Meskipun level Ezra jelas-jelas lebih tinggi darinya, Ava lebih percaya dengan pengalaman bertarungnya selama bertahun-tahun daripada sistem level yang baru beberapa hari ia dapat. Akan lebih baik jika mereka berdua kabur saja keluar dari hutan, dengan begitu mereka berada di jarak pandang penjaga gerbang perbatasan. “Em, sebaiknya kita–“
“Anda dipanggil, Tuan muda.”
“Oh!”
Dengan kalimat itu, semua tingkah ramah palsu yang ditampilkan Ezra sirna, wajahnya tampak muram dan
setengah jijik. “Apa lagi yang diinginkan oleh Pak Tua itu kali ini?” Melihat si pangeran tidak memasang sikap waspada, Ava menyimpulkan bahwa sosok misterius yang baru saja muncul berada di pihak Ezra. Pengawal atau pelayan,mungkin.
“Sepertinya berkaitan dengan upacara minggu depan.”
“Itu lagi? Mereka hanya mencari-cari alasan untuk mengawasiku sepertinya.” Ezra tanpa sadar memijit pangkal hidungnya yang tinggi, terlihat stres.
“Lalu, saya ingin bertanya.”
“Apa?”
“Gadis yang tadi, apakah calon pendamping kita?”
“Oh iya, dia—“ Kali ini ucapan Ezra terpotong karena keterkejutannya sendiri. Ava tidak terlihat di
mana-mana. “Eh, dia kabur?”
“Kelihatannya begitu, Yang Mulia. Baru saja."
“Dan kau membiarkannya begitu saja?”Ezra memandangi pria paruh baya di depannya, setengah tidak percaya.
“Memangnya berapa nilai yang gadis itu tunjukkan, Yang Mulia?”
Manik emas pria itu masih terpaku pada tanah tempat Ava tadi berpijak. “Tidak terlihat.”
“Maaf?”
__ADS_1
“Nilainya tidak terlihat.” Wajahnya bercahaya, manik emasnya berkobar dengan semangat baru yang menyala-nyala.
Sedangkan Al, pelayan paruh baya yang baru saja datang itu, menatap tajam kejauhan, ke arah Ava kabur. Dia terlatih, simpannya dalam hati.