Hellbent

Hellbent
Bab 175: Pria dan Celana


__ADS_3

Siwon mengunyah roti dengan lahap, kebiasannya makan dengan berantakan membuat krim susu cemong di pipi kanan dan kiri. Tidak ada sapu tangan, Ava mengelapnya dengan sobekan gaun. Di sisi lain, kecanggungan River tidak dapat mengatasi sorotan menilai dari Ratu Isabel meskipun jarak mereka cukup jauh, ia pun menyeruput air sembari mengalihkan kepala.


Stok makanan memang langka dalam labirin ini, kalau ada pun kebanyakan sudah Ratu Isabel comot dengan keberuntungannya yang ajaib. Karena itulah sang ratu bersedia untuk membagikan sajian yang ia simpan, mungkin sebagai seruan hati nuraninya yang sadar kalau takdir selalu berpihak padanya, tapi hal tersebut bukan berati Isabel dapat mentoleransi pengabaian tata krama meja makan meskipun situasi mereka tidak ideal.


Jadi Ava mencoba mengisi keheningan dengan dialog produktif setelah River dan Siwon selesai. "Jadi, monster seperti apa yang menjaga portal keluar?"


River sebagai penjinak monster, lebih tahu mengenai topik ini, ia pun menyahut, "Venus King, monster bertipe tanaman yang dapat mencapai sepuluh meter tingginya. Venus King menyerang dengan bunganya yang berduri tajam, serta daun yang bebas digerakkan."


"Benthuknya sheram!" Siwon menambahi juga pendapat sederhananya.


"Levelnya?"


"Berdasarkan besarnya saja, kira-kira di atas 80," suara River terdengar sudah kalah. Yah, wajar saja, level mereka merosot drastis hingga angka 7.


Tunggu ...


8?


Bukankah seharusnya 1 karena kondisi khusus gate ini?


Atau ... meskipun Ava masih melihat level asli objek observasinya, level 1 yang direset dideteksi oleh [System] dengan penghitungan normal? Lalu, bagaimana ketika mereka berhasil keluar nanti? Apakah level asli dan level dalam gate akan diakumulasi?


Hoh. Inilah kesempatan mereka untuk menaikkan level! Ava sampai lupa kalau inventorinya dikunci, ia ingin membagikan ramuan pengganda EXP-nya kalau bisa.


"Kalau begitu, kita sebaiknya menaikkan level kita terlebih dahulu dengan memburu monster yang levelnya lebih rendah."


Meskipun tingkatan skill individu tidak dikunci seperti fungsi yang lain, poin status mereka tetap saja terbatas, yang mana berakibat pada sedikitnya frekuensi pemakaian skill. Di sini, hanya Ava sendiri yang mampu menangani monster Venus tersebut. Namun, kesempatan menaikkan level secara drastis tidak akan datang dengan mudah.


"Tapi kita harus bergegas, istana sedang kosong saat ini."


Ah benar, Edodale sudah dipastikan mengalami krisis dengan hilangnya orang-orang penting.


Apa harus ia akhiri saja dengan membunuh King Venus tersebut?


"Aaa!"


Namun sebelum Ava larut lebih dalam lagi, teriakan melengking mengagetkan mereka.

__ADS_1


Masih mempertahankan laju, Ava, River, Siwon, dan Ratu Isabel dengan hati-hati melihat apa yang terjadi. Pertolongan ceroboh hanya akan membahayakan mereka semua.


Seorang gadis berpakaian robek lari sekuat tenaga sembari terisak, air matanya deras mengalir hingga menetes ke tanah. Namun, dia bukan lari dari monster.


"Jangan lari kau!" Pria yang jelas-jelas berbalut kain berkualitas tinggi susah payah mengejar, celananya terbuka.


Ah.


Dalam keadaan berbahaya pun ada saja yang lebih mementingkan urusan tubuh bagian bawah mereka.


River refleks menutup kedua mata naga cilik di antara mereka. Di sisi lain, untuk pertama kalinya Ava melihat Ratu Isabel yang selalu elegan, murka hingga wajahnya hampir meledak. "Count Couliy! Apa maksudnya ini?!"


Yang dipanggil terlonjak, untuk sesaat matanya membelalak panik, namun tidak lama raut wajahnya berubah menjadi seringai tanpa takut. "Halo, Yang Mulia," Count Couliy menyapa dengan nada sarkastik.


Hah?


"Apa maksudnya ketidaksopanan ini?!"


Pria itu memutar mata kesal. "Diamlah! Ini gate! Kekuasaanmu tidak berguna di sini!"


Walaupun dalam hati mereka tahu kalau gate adalah zona tanpa hukum, mereka tetap saja kaget saat si Count blak-blakan tentang keagresifannya.


"Kau akan dihukum berat saat kita berhasil keluar dari gate ini." Itu bukan ancaman, melainkan janji dari Ratu Isabel.


"Cih, jangan sok kuat! Wanita sepertimu tidak akan selamat dari gate ini! Kau hanya tahu tentang minum teh dan menyulam!"


Semakin lama dibiarkan, semakin melunjak ucapan si Count. Ava bahkan harus menutup telinga Siwon agar pernyataan seksis tersebut tidak didengarnya.


Sayangnya, tidak hanya sampai disitu kelancangan Count Couliy. Pedang yang mendadak muncul di tangan pria itu diayunkan main-main. "Lihat, pedang! Kau tidak pernah memegangnya, bukan?"


Darimana ...?


Ava langsung mendapatkan jawabannya.


Iron Manisfestation (III)


Dari namanya saja dia sudah bisa menembak apa deskripsinya. Si Count dapat memanifestasikan besi dan membentuknya sesuai selera.

__ADS_1


Dipenuhi adrenalin dan testosteron yang menggejolak, dia memutuskan untuk membunuh ratu Edodale, begitu?


Namun ada yang tidak dipahami oleh Count Couliy, walaupun benar Ratu Isabel tidak pernah mempelajari ilmu pedang, dia sangat ahli mengendalikan atribut gandanya.


"Cukup!" Isabel tidak perlu repot-repot beranjak dari posisinya, sebetan angin seketika menyayat pipi pria tidak tahu malu itu.


"Hah? A-apa?"


Dari delapan panah angin, Count Couliy hanya bisa menangkis dua, itu pun dia sampai harus terjungkal ke belakang. Darah langsung mewarnai pakaiannya dengan warna merah.


Namun Isabel belum selesai.


Bola air memerangkap kepala si Count. Apapun yang dia lakukan, air yang memenjarakannya tidak bisa dilepas atau dihancurkan. Tidak lama, ia kehabisan napas. Wajah birunya kontras dengan bajunya yang ternoda anyir.


"Aghh! Bhhh!" Kalimat Count Couliy tidak koheren dalam air. Kalau saja bukan disertai dengan sujud putus asa, serta kedua tangan yang terjatuh rapat, mereka tidak akan mengerti kalau dia meminta ampun.


Tapi Isabel bukan orang yang dermawan kepada orang tidak tahu diuntung.


Barulah ketika si Count terkapar, sang ratu melepaskan skill-nya.


"Dia hanya pingsan tenang saja."


Ava tidak pernah khawatir. Count Couliy seharusnya bersyukur bahwa bukan Ava yang meladeninya, bisa-bisa leher pria itu berlubang atau putus.


"Iih! Aku tidhak bisha melihat dan mendhengar! Lepashkan!" Siwon memberontak, ingin juga melihat dan mendengar apa yang terjadi. Ava dan River pun masing-masing melepaskan tangan mereka.


"Kenhapa dia bashah?"


"Karena orang jahat akan dihukum."


Siwon meneleng, sama sekali tidak mengerti.


"Terima kasih, Yang Mulia! Terima kasih!" Gadis yang sedari tadi bersembunyi di balik punggung Ratu Isabel itu berlutut, sekali lagi menangis, kali ini karena lega bukan ketakutan.


Ratu Isabel melepaskan syal yang sejak kemarin menjadi set gaun mewahnya, syal berkilau tersebut melingkar pada pundak wanita yang penampilannya memang membutuhkan penutup, apalagi ada kehadiran seorang pria yang masih sadar di sini. River memerah karena malu, memandangi sepatu seolah hidupnya bergantung pada benda tersebut.


Ava ingin tertawa, tapi paham kalau bukan saatnya menggoda laki-laki yang lebih dewasa darinya itu.

__ADS_1


Sekarang pertanyaannya, siapa gadis asing ini?


Dalam memori Ava, wajah tersebut tidak termasuk ke dalam daftar undangan ataupun pelayan istana.


__ADS_2