
"Sebelum itu, apa kau tidak berencana untuk segera kembali ke utara?" Mengetahui jadwal kegiatan Ellijah menjadi langkah penting dalam rencana Ava. Karena pada akhirnya ia tidak bisa mengabaikan seorang Duke, gadis itu akan memanfaatkan keberadaan tunangan palsunya itu.
Ellijah sempat ragu menjawab, respon pria tersebut keluar dengan hati-hati, "Aku sudah menyelesaikan urusan yang penting, jadi selama tidak ada situasi genting yang tiba-tiba, aku akan tetap berada di istana." Melihat ekspresi kaku yang nampak, Ellijah sepertinya salah paham. Ava tidak berniat mengusirnya, lagipula ia tidak memiliki hak tersebut.
"Kalau begitu, apa kau ingin berkencan denganku?"
Ellijah jelas-jelas tidak menyangka perkataan yang keluar dari mulut gadis di depannya, langkah dansanya bahkan terhenti tepat di tengah kerumunan pasangan lain, membuat mereka berdua terancam akan tertabrak jika tidak segera bergerak. Jadi Ava yang kali ini menginisiasi tarian mereka.
Dengan wajah terkejut, Ellijah mengikuti gerakan Eve, melanjutkan waltz yang terinterupsi. Sang putri pasti memiliki niatan lain ketika mengajaknya berke- ke- kencan. Astaga, memikirkannya saja terasa asing dan aneh. Bukannya Ellijah tidak pernah memikirkan kegiatan romantis tersebut dalam bertahun-tahun menjalin pertunangan dengan Eve, dia hanya masih tidak percaya kalau Eve yang berinisiatif.
Yah, apapun motif gadis itu yang sebenarnya, Ellijah tidak akan melewatkan kesempatan untuk berdua saja dengan tunangannya.
__ADS_1
"Baiklah, kapan?"
"Hm, mungkin besok?"
Ellijah tanpa ragu mengangguk setuju.
Saat itulah lantunan melodi yang dengan indah mengiringi tarian mereka berakhir. Dansa pertama telah selesai. Ava dan Ellijah memisahkan diri, kemudian saling membungkuk seperti pasangan yang lain. Akan tetapi Ellijah tidak segera melepaskan gadis tersebut begitu saja, masih banyak yang harus ia bicarakan tentang ke- kencan mereka.
...
Namun menyaksikan sendiri reaksi Ellijah sendiri beserta orang-orang di sekitarnya, hubungan antara sang putri dengan Duke Frost memang terlihat sepihak saja. Jadi Ava sudah tidak terlalu heran.
__ADS_1
Kalaupun sikapnya sekarang berbeda dengan Eve empat bulan dulu, ia hanya bisa beralasan kalau ia mendapatkan perubahan hati setelah berkelana di dunia. Tidak akan ada yang meragukannya, mungkin.
Keduanya bersamaan keluar dari lantai dansa, membelah kerumunan yang terlihat ingin sekali memberikan pujian berlebihan. "Pilih pakaian yang paling sederhana saja, tidak perlu membawa apa-apa," Ava menimpali tenang setelah menimbang-nimbang.
Sayangnya Ellijah tidak sempat mengeruk informasi lebih lanjut, banyak penonton yang menyela.
"Astaga, tadi itu dansa yang bagus sekali, Tuan Putri!"
"Benar, benar! Saya terkejut ketika Putri Eve memilih untuk berdansa, tapi saya lebih kaget lagi Anda tidak memilih untuk berdansa dengan kemampuan yang seperti itu."
Di antara lusinan kalimat sanjungan, masih ada juga yang berani mengajaknya untuk melakukan dansa kedua meskipun melihat Ellijah di sampingnya. Memang bukanlah gestur yang tidak sopan, akan tetapi reputasi tunangan palsunya sebagai pemimpin daerah Frost yang membasmi kaum barbar utara seharusnya menakuti setiap pria yang berniat merayu sang putri. Walaupun begitu Ava tentu saja menolak, ia masih belum mempelajari rutin dansa kedua. Berbeda dengan pesta rakyat di Tezia yang atmosfernya bebas, di sini Ava tidak bisa membuat kesalahan untuk dikritik agar nama baik Eve tidak terganggu, seperti yang ada dalam kontrak. Sebab itulah ia menarik lengan Ellijah, "Ah, maaf, saya dan Duke Frost memiliki keperluan yang harus dibicarakan, jadi kami pamit terlebih dahulu." Menggunakan Ellijah sebagai tameng, Ava menggenggam tangan pria itu menuju balkon.
__ADS_1
Selain kencan, ia memiliki agenda lain.